Membangun Kebiasaan-kebiasaan Baik

Kebiasaan hidup yang baik dan positif merupakan anak tangga menuju kualitas hidup.

Seorang gadis selalu bangun pagi-pagi untuk mengerjakan banyak hal. Ketika matahari terbit, dia sudah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan pokok untuk hari itu. Setelah itu dia melakukan hal-hal yang sederhana yang biasa dilakukan banyak orang seperti sarapan dan minum kopi atau teh. Dia merasa segar dan kuat untuk seluruh hari.

Dia mengaku bahwa kalau dia terlambat bangun dia akan mengalami kelelahan hingga sore hari. Karena hal itu telah melanggar waktu dari tubuhnya. Tanpa menggunakan alarm, dia bangun bangun pagi-pagi lalu mulai bekerja. Dia berhasil dalam banyak hal bagi hidupnya. Waktu masih sekolah dan kuliah, dia meraih nilai-nilai pelajaran yang tinggi. Di selalu mendapat rangking di kelas.

Dia berkata, “Saya sudah membiasakan hal ini sejak kecil. Kebiasaan ini berasal dari ibu saya yang bangun pagi-pagi ketika ayam mulai berkokok. Saya ikut terbangun dan mengikuti dia ke dapur. Ibu memasak dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga pada jam-jam segitu.”

Seorang anak membantu ibunya | Foto: https://blog.nemours.org/

Memupuk Kebiasaan Baik

Diperkirakan bahwa 90 persen dari apa yang kita lakukan setiap hari ditentukan oleh faktor kebiasaan. Kunci dari kebiasaan adalah pengulangan. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa sesuatu yang kita lakukan berulang terus dalam waktu 28 hari akan menjadi kebiasaan kita. Itu sebabnya pendidikan bertopang pada upaya membangun kebiasaan yang baik dalam diri kita. Sebab jika tidak, maka kebiasaan buruk yang bakal menguasai hidup kita.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik sejak dini. Kebiasaan-kebiasaan itu dipupuk dan dihidupi dengan sungguh-sungguh, sehingga menjadi bagian dari diri. Gadis itu telah dibiasakan dan membiasakan diri untuk bangun dan mulai bekerja pada pagi hari. Dia lakukan dengan sepenuh hati, sehingga menjadi kebiasaan yang baik baginya. Dia hidupi menjadi bagian dari dirinya.

Banyak orang kehilangan banyak hal baik dalam hidup, karena mereka tidak membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang baik. Mereka kemudian cenderung ikut-ikutan orang lain untuk melakukan hal-hal yang kurang baik. Mengapa? Karena mereka tidak melakukan hal-hal baik secara terus-menerus, sehingga mereka tidak mampu menginternalisasi hal-hal yang baik bagi hidup mereka.

Yang kita butuhkan dalam hidup adalah konsistensi dalam melakukan hal-hal bagi hidup diri dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita mesti berani mencoba melakukan hal-hal baik itu, agar hidup kita sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat melakukan hal-hal baik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.