“Dalam perayaan ini secara khusus kita bersyukur pada Allah karena Seminari Tinggi St. Petrus telah berusia 40 tahun. Seminari ini telah menghasilkan ratusan imam projo yang kita harapkan. Mereka ambil bagian dalam kegembalaan Kristus sendiri untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan membawa umat Allah kepada keselamatan,” ungkap Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang, dalam pengantarnya mengawali Perayaan Ekaristi 40 tahun Seminari Tinggi St. Petrus (STSP), Sinaksak, Pematangsiantar, Sumatera Utara pada Rabu (15/2/2023) yang lalu.
STSP adalah rumah pembinaan bagi para calon imam diosesan (projo) Regio Sumatera, yang terdiri dari Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkalpinang dan Keuskupan Tanjung Karang. Saat ini ada 163 frater yang sedang menjalani pembinaan di tempat ini.

Perayaan Ekaristi Pesta Tahta St. Petrus dan Syukur 40 tahun STSP yang diselenggarakan dengan tema, “Semakin Berakar, Bertumbuh dan Berbuah” (Yeremia 12:2) ini dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, didampingi Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap (Uskup Agung Medan), Mgr. Fransiskus Sinaga (Uskup Sibolga), Mgr. Adrianus Sunarka, OFM (Uskup Pangkalpinang), Mgr. Vincentius Setiawan Triatmojo (Uskup Terpilih Tanjung Karang) dan Romo Guido Suprapto (Rektor STSP).
Puluhan imam diosesan alumni yang berasal dari keuskupan-keuskupan Regio Sumatera, bersama para imam dari sejumlah tarekat, ratusan frater, biarawan-biarawati dan umat juga tampak hadir dalam perayaan syukur ini. Perayaan ini dimeriahkan oleh koor gabungan para Frater STSP dan Suster Kongregasi FCJM komunitas Greccio yang diiringi oleh kelompok musik Frater STSP.
Uskup Agung Palembang yang pernah menjadi dosen Islamologi di Fakultas Filsafat Unika St. Thomas Sumatera Utara ini dalam homilinya menunjukkan cara Yesus memanggil para murid-Nya.





Meneladani Rasul Petrus
“Yesus tidak memanggil murud-muridNya dengan menyuap atau menawarkan jalan yang mudah. Tidak ada janji-janji palsu seperti dalam kampanye. Dia memberitahu murid-murid-Nya bahwa jalanNya adalah Jalan Salib. Dalam kebenaran seorang murid Yesus harus siap dianggap sebagai penjahat atau mati tak terhormat seperti guruNya,” terang Mgr. Yohanes.
“Seorang murid Yesus yang sejati haruslah seperti Yesus sendiri. Jujur dan memberikan keteladanan dalam hidup. Setiap murid yang sejati harus berani menyangkal diri setiap saat. Setiap saat harus berani berkata tidak terhadap hal-hal yang mudah dan menyenangkan diri, berkata tidak pada semua tindakan mementingkan golongan, berkata tidak pada naluri dan hasrat terlarang yang mencemarkan nilai-nilai kemanusiaan, berkata tidak pada korupsi dan kemalasan, tetapi dia harus tanpa ragu-ragu berkata ‘ya’ pada suara dan perintah Yesus, seperti Yesus berkata ‘ya’ dan tak pernah mundur dari melaksanakan kehendak Bapa,” kata Mgr Harun.
“Menjadi murid Yesus dengan menyangkal diri dan memanggul salib artinya bukan mementingkan harga diri, jabatan atau kehormatan. Bukan kalkulasi untung rugi mentalitas dagang, melainkan komitmen pada kebenaran.”
Mgr Harun mengatakan bahwa kebanyakan dari kita menghidupi kemuridan kita hanya dengan kesadaran yang parsial, yang terpilah-pilah, yang sepotong-sepotong. “Saat tertentu sadar sebagai orang beriman melakukan ibadah dengan khusyuk. Saat tertentu lesu tak bersemangat, saat lain bahkan seperti kata pemazmur ‘hamil kelaliman dan melahirkan dusta’. Ketika kata dan perbuatan kita tidak mencerminkan predikat kita, itu berarti kita belum mengenakan Kristus dan belum menjadi anak Allah,” tandas Mgr Harun.
“Allahlah yang harus menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Menjadi spiritualitas yang harus kita hidupi di tengah berbagai tawaran yang menggoda dan menggiurkan. Baik yang besar maupun yang remeh-temeh, kecil sehari-hari,” tambah Mgr. Yohanes.
Mengakhiri homilinya, Bapa Uskup mengajak seluruh umat yang hadir untuk meneladan semangat perutusan Rasul Petrus. “Mari kita dengan lantang seperti Petrus, konsisten, berpegang teguh pada panggilan yang kita jalani. Kalau semakin banyak orang tidak jujur, kita harus semakin jujur. Kalau ada semakin banyak orang melanggar aturan, kita harus semakin tertib. Semakin banyak orang hidupnya ngawur dan salah, kita harus semakin hidup benar, setia, dan saleh,” ajak Mgr. Yohanes.


Mulai dari Sebuah Rumah Kontrakan
Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah, yang diisi dengan sejumlah sambutan dan pentas seni budaya. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, di antaranya Direktur Pendidikan Katolik Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun, perwakilan Forkopimda Simalungun, Camat Tapian Dolok, Kepala Desa Sinaksak, dan sejumlah perwakilan TNI-Polri.
STSP berawal dari ‘janin’ yang lahir pada 8 Agustus 1982 di sebuah rumah kontrakan sederhana yang berada di Jalan Josep Sinaga, No. 1 Parapat, tak jauh dari tepian Danau Toba. Pada awal berdirinya, rumah bina ini bernama Seminari Romo-romo Praja St. Petrus. Nama ini menggambarkan bahwa seminari ini adalah tempat pembinaan calon-calon imam praja atau imam diosesan.
Nama St. Petrus dipilih menjadi pelindung, karena dua alasan mendasar, yaitu pertama, pada 22 Februari 1982, saat para Uskup Sumatera memutuskan untuk mendirikan Seminari Tinggi, Gereja juga merayakan Pesta Takhta St. Petrus. Kedua, karena mengambil nama baptis pendiri pembinaan calon imam diosesan pertama di Indonesia, yaitu Mgr. Petrus Willekens. Dalam rapat para Uskup Sumatera, pada 28-29 November 1985, diputuskan bahwa nama rumah pembinaan calon imam diosesan adalah Seminari Tinggi St. Petrus dan nama itu terus melekat sejak 30 Januari 1987 saat kompleks di Sinaksak ini diberkati dan diresmikan.
Hal di atas senada dengan yang disampaikan oleh Romo Guido Suprapto dalam sambutannya. “Seminari Tinggi St. Petrus keberadaannya dihitung sejak 8 Agustus 1982 di Parapat. Kemudian menempati lokasi di Sinaksak ini sejak 30 Januari 1987. Seminari adalah jantung keuskupan. Di STSP ini akan disiapkan dan dilahirkan para imam atau pastor yang akan menggembalakan umat di keuskupan atau Gereja setempat,” kata Rm Suprapto yang berasal dari Keuskupan Agung Palembang ini.
“Menjadi tanggungjawab kami untuk menyiapkan gembala umat yang memadai dan bertanggung jawab untuk kebutuhan dan harapan umat atau Gereja khususnya di Regio Sumatera. Menjadi harapan kita bersama dari STSP ini lahir pribadi-pribadi gembala seperti Kristus yang adalah Gembala Baik bagi domba-dombaNya,” terang Romo Suprapto.
Salman Habeahan Pasaribu selaku Direktur Pendidikan Katolik Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI yang juga alumnus STSP dalam sambutannya menyampaikan bahwa, “Kita pantas bersyukur karena Seminari Tinggi St. Petrus sudah menghasilkan 3 orang uskup, ratusan imam dan juga alumni awam yang ada di seluruh Indonesia. STSP ini didirikan oleh para Bapa Uskup Regio Sumatera untuk menyiapkan calon-calon imam pemimpin Gereja dan masyarakat. STSP sebagai bagian dari lembaga pendidikan keagamaan Katolik, semakin nyata dalam fungsi fasilitasi bagi transformasi pendidikan, khususnya transformasi norma dan nilai dan secara khusus formasio untuk panggilan menjadi imam-imam alter Christus,” ungkapnya.
Puncak dari rangkaian perayaan syukur ini ditandai dengan peluncuran dan peresmian Pedoman Pembinaan Calon Imam Diosesan (PPCID) Regio Sumatera yang telah selesai direvisi. Romo Irfantinus Tarigan mewakili para pembina STSP menyampaikan bahwa Pedoman Pembinaan ini telah melalui tahapan yang panjang dan dalam penyusunannya juga melibatkan banyak pihak dan lembaga.

“Pedoman Pembinaan ini telah lahir sejak tahun 1989 dan disahkan pada 8 Agustus 1992. Pada tahun 2007 bertepatan dengan perayaan 25 tahun STSP, pedoman itu direvisi dan menjadi Pedoman Pembinaan yang berlaku hingga saat ini. Melihat perkembangan jaman dan Gereja saat ini, maka para Bapa Uskup, para formator, para frater STSP merasa butuh untuk meninjau kembali dan membaharui Pedoman Pembinaan yang telah berjasa menjadi penuntun selama 15 tahun terakhir. Kami melihat momen perayaan Syukur 40 tahun STSP menjadi saat yang tepat untuk pembaruan itu,” jelas Romo Irfantinus.
Sebelum diterima dan diresmikan penggunaannya, Mgr. Adrianus Sunarka, OFM mewakili para uskup Regio Sumatera menyampaikan terima kasih kepada para pembina STSP yang telah mengupayakan dengan beragam cara sehingga revisi PPCID Regio Sumatera dapat terwujud. Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap mewakili para Bapa Uskup Regio Sumatera kemudian membuka selubung dan pita pada plakat PPCID dan menyerahkan plakat tersebut kepada Romo Guido Suprapto sebagai tanda bahwa hasil revisi PPCID diterima. Selanjutnya, Mgr. Yohanes Harun Yuwono didampingi para uskup dan para imam berkenan memukul gong sebagai tanda PPCID Regio Sumatera yang baru resmi berlaku bagi pembinaan di STSP.

Usai peresmian Pedoman Pembinaan Calon Imam, acara dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun dan pelepasan rangkaian balon tanda syukur atas 40 tahun berdirinya Seminari Tinggi St. Petrus sebagai rumah bina bagi para calon imam diosesan Regio Sumatera.

Peristiwa ini mengundang banyak alumni untuk turut mengungkapkan sukacitanya melalui laman jejaring media sosial. “Selamat dan proficiat atas hari ulang tahun ke-40 STSP Pematangsiantar. Semoga STSP tetap menjadi rumah formasi yang dipenuhi oleh semangat persaudaraan dan keterbukaan untuk menghadapi tantangan Gereja saat ini dan tantangan Gereja yang akan datang. Semoga STSP yang kita cintai ini semakin banyak melahirkan imam-imam yang setia, kudus dan bersemangat dalam melayani Tuhan dan sesama di manapun berkarya,” ungkap Romo Gading Sianipar, imam diosesan Keuskupan Agung Palembang, yang saat ini menjalani tugas misi di Keuskupan Paramaribo, Suriname, Amerika Selatan. **
Romo Titus Jatra Kelana
