Salam damai. Saya, Neni (bukan nama sebenarnya), seorang murid SMA. Yang ingin saya ceritakan Romo, yaitu papa saya sudah lama tidak ke gereja. Saya ingin dia kembali lagi, tapi saya tidak tahu caranya, Romo. Soalnya papa saya itu asalnya Budha (tapi Budha-Budhaan), lalu menikah dengan mama di gereja, tapi belum dipermandikan.
Tidak lama sesudah menikah, papa ikut semacam SW kemudian ia masuk Islam tapi tidak pernah sembahyang. Lalu ia berhenti ikut SW dan sekarang saya juga tidak tahu apa maunya papa. Dia senang dengan acara keagamaan Kristen yang disiarkan di televisi, dengar Youtube kesaksian orang Islam masuk Katolik atau Kristen.
Nah, kami (mama dan saya) sudah sering menyuruh papa ke gereja, tapi ia menjawab, “Papa mau ke gereja asal langsung dipermandikan.” Kan itu mengada-ada, Romo. Lain waktu kalau disuruh ke gereja jawabnya, “Jangan ngatur-ngatur, kalo sudah saatnya papa juga akan ke gereja.” Saya juga berdoa untuk papa.
Romo, adik saya yang cowok sekarang malas sekali ke gereja. Terus terang Romo, kehidupan ekonomi atau fisik keluarga saya lumayan, tapi kalau kehidupan batin atau keagamaan sangat kurang. Mama juga cuek-cuek saja melihat adik saya yang cowok itu malas ke gereja. Soalnva menurut mama biar dia sadar sendiri. Romo, saya kesal melihat keadaan ini. Apa yang harus saya lakukan selain berdoa?
Neni di B

Neni yang lagi kesal, Romo sungguh merasa prihatin dengan keadaanmu sekarang ini. Sebagai anak remaja menjelang dewasa, Anda sendiri mempunyai banyak masalah dalam proses menuju kedewasaan pribadi. Namun demikian masih ditambah lagi dengan masalah yang ada di luar dirimu yang menjadi lebih rumit dan berat dari masalahmu sendiri. Sementara itu sebagai anak yang menjelang dewasa, Anda belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengatasi berbagai masalah.
Neni, apa yang sekarang ini dialami oleh keluarga Anda adalah salah satu contoh kasus dari konsekuensi perkawinan beda agama. Romo tidak tahu persis apakah waktu mamamu dulu mau menikahi papamu pernah dibicarakan mengenai kemungkinan negatif sebagai konskuensi dari perkawinan beda agama ini? Mengapa? Karena apa yang sekarang ini terjadi dalam keluargamu adalah masalah iman. Masalah ini bukanlah masalah sampingan dalam hidup perkawinan, tetapi salah satu masalah prinsipiil.
Kalau masalah-masalah lain yang muncul dalam hidup keluarga mungkin masih ada jalan keluar yang bisa diambil. Tetapi kalau itu adalah masalah iman, persoalannya menjadi lain, karena hal ini menyangkut hubungan pribadi antara orang itu dengan Tuhan. Sementara itu kalau hal yang paling prinsip saja sudah menjadi sumber masalah dan menimbulkan konflik, bagaimana hidup perkawinan bisa menjadi tanda kehadiran Allah yang berkarya dan kesatuan sempurna pria dan wanita sebagai ciptaan Allah?
Kembali pada masalah yang sedang dialami oleh keluargamu. Apa yang sekarang ini sedang dialami oleh papamu adalah dia sedang mencari-cari agama mana yang cocok bagi dirinya sendiri. Meski sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi, bila sebelum pernikahan dulu dia menyadari bahwa masalah iman dalam hidup perkawinan itu hal yang pokok dan harus diputuskan dengan matang dan bijaksana. Papamu sekarang bagaikan seseorang yang ada dalam kegelapan yang sedang mencari jalan terang. Walau dulu pernah pergi kepada terang, tetapi tampak dia belum yakin terang itu adalah miliknya. Karena itu, dia memerlukan orang yang bisa dan mau memberikan obor yang benderang itu untuk menapaki jalan gelap imannya itu.
Neni, orang yang mesti mengulurkan obor yang benderang adalah orang yang paling dekat dan dia sayangi, yaitu keluargamu sendiri. Dalam hal ini adalah mama dan Anda. Di sinilah janji perkawinan yang pernah mamamu ucapkan pada saat dia menikah di hadapan Allah di dalam gereja yang suci diuji. “Aku akan mencintaimu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit.” Begitulah janji itu pernah diucapkan.
Mencintai suami dalam untung, suka dan sehat lebih gampang bila dibandingkan dalam keadaan malang, duka dan sakit. Sebagai pendamping hidup, teman dan istri, inilah saat bagi mamamu mendampingi papamu dalam proses mencari ketenangan batin.
Romo tidak meremehkan usahamu, tetapi sebaiknya Anda lebih mengambil peran sebagai teman bagi ibumu. Lalu apa yang bisa Anda buat? Bersama mama dan mungkin juga adik-adikmu berikanlah teladan hidup baik yang konkrit. Tunjukkan kepada papamu sikap-sikap sebagai orang kristiani yang sejati. Dalam kehidupan keluarga nilai kristiani yang penting adalah kasih, persaudaraan dan perhatian.
Romo mendapat kesan, mamamu mulai bosan dan merasa capek. Hal ini tampak dalam sikapnya yang cuek dengan apa yang terjadi pada adikmu, mungkin juga pada papamu. Mungkin mamamu berpikir, sudah berkali-kali ditegur, diingatkan, tetapi toh tidak pernah berubah, lalu mau apa lagi. Romo bisa mengerti dan merasakan kekesalan hati mama dan Anda.
Menurut Romo, adikmu yang mulai malas ke gereja itu disebabkan oleh situasi yang sekarang ini dialami oleh keluargamu. Kalau romo benar, adikmu sekarang ini lagi umur belasan, mungkin masih sekolah di SLTP. Masa itu adalah masa krisis identitas. Figur utama yang bisa menjadi teladan untuk mengisi krisis identitasnya adalah orang tuamu. Tetapi ternyata papamu tidak bisa menjadi figur yang baik baginya, karena papamu sendiri mempunyai masalah. Maka adikmu merasa pergi ke gereja tidak banyak artinya, toh papamu juga tidak pergi ke gereja.
Selain teladan konkrit, unsur lain adalah bagaimana Anda menunjukkan kegembiraanmu sebagai orang katolik. Sekarang ini saat yang tepat bagi mamamu, Anda dan adikmu untuk membina persaudaraan. Kompaklah dan bekerjasamalah untuk membuat papamu mau ke gereja. Hindari sejauh mungkin untuk memaksa papamu pergi ke gereja.
Kiranya akan lebih berarti bila Anda menggunakan pendekatan personal dengan bahasa yang lebih mengena. Dalam saat-saat santai bersama ungkapkanlah kerinduanmu kepada papamu. Alangkah bahagianya bila keluarga bisa pergi ke gereja bersama.
Neni, doa itu segala-galanya bagi hidup iman kita. Peranan doa menjadi sangat penting bagi iman seseorang. Mengapa? Karena untuk menjadi orang yang beriman kita tidak bisa memaksakannya. Benar apa yang dikatakan papamu, “Jangan ngatur-ngatur. Kalo sudah saatnya papa juga akan ke gereja.”
Lalu pertanyaan kita kapan masa itu datang? Iman itu anugerah atau karunia dari Allah. Kita bisa memilikinya bila kita mau menerima anugerah itu. Untuk bisa menerima karunia iman manusia harus membuka pintu diri dan hati. Rasanya papamu sekarang belum bersedia untuk membuka pintu diri dan hatinya. Doa membantu kita untuk mempersiapkan seseorang membuka pintu diri dan hatinya.
Karena itu, jangan pernah berhenti berdoa, mohonlah karunia iman itu untuk papamu. Dari pengalaman banyak orang, St. Joseph banyak membawa orang untuk mengalami pertobatan. Berdoalah secara khusus kepadanya, setiap hari, bila perlu novenalah kepadanya. **
V. Teja Anthara SCJ
