Menjawab Panggilan Kristus
Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.
Doa
Allah Bapa yang kudus dan berbelaskasih, Anugerahilah aku kesucian, belaskasih dan kebijaksanaan agar aku memahami panggilan-Mu. Mampukanlah aku ambil bagian dalam perasaan-Mu, Curahilah Roh Keberanian untuk mencari kehendak-Mu dan menempuh jalan kemuliaan-Mu. Amin.
Pengajaran
Tuhan Yesus adalah Allah yang penuh kasih. Dia senantiasa terbuka untuk membagikan apa saja yang dimiliki kepada kita, umat manusia. Segala sesuatu diadakan demi cinta-Nya kepada kita. Ia mengundang kita, “Tinggallah dalam kasih-Ku” (Yoh 15:9). Tinggal dalam kasihNya berarti bersatu dengan-ya. Apa artinya bersatu dengan Kristus? Apakah panggilan ini untuk semua orang?
Bersatu dengan Kristus
Bersatu dengan Kristus berarti memiliki kesamaan dalam pikiran, perasaan dan perbuatan Yesus, sehingga tidak lagi dua melainkan satu. Panggilan kesucian sangat mungkin dialami semua orang karena yang memanggil adalah Tuhan sendiri, dan Dia bersabda “tinggallah dalam kasih-Ku!”
Bersatu dalam Pikiran
Pikiran kita akan baik bila kita berpikir seperti Allah berpikir. Allah adalah kebijaksanaan yang tak terbatas dan tak tercipta. Pikiran kita adalah pantulan dari kesempurnaan Allah. Yesus adalah “terang sejati yang menerangi manusia – sedang datang ke dalam dunia ini” (Yoh 1:9).
Terang Ilahi itu pernah dicurahkan ke dalam jiwa Adam sebelum tertutup oleh dosa asal. Kini terang itu bercahaya dalam jiwa Kudus Yesus, Adam kedua, yang memulihkan gambar Allah. Terang itu juga bersinar dalam wajah para orang kudus dan jiwa-jiwa yang murni.
Mereka semua memiliki kemampuan untuk masuk dalam misteri Ilahi. Tatkala kita bermeditasi dengan sabar, lembut dan tenang, Allah akan menuntun pikiran kita untuk menemukan gambaran Allah secara baru. Dalam diri kita akan timbul kesadaran secara intens siapakah Allah dan siapakah Yesus yang sesungguhnya.
Pemahaman ini sangat menyenangkan, sehingga kita akan mengasihi Allah secara hangat dan mengikuti-Nya secara lebih dekat. Lebih dari semua itu, kita akan dianugerahi pemahaman akan Allah yang menjadi manusia untuk kita, sehingga kita semakin mencintai-Nya. Inilah dimensi kekudusan kita, “pikiranku bersatu dengan pikiran Allah! Kita mampu memahami Allah sebagai Allah yang semestinya bukan Allah menurut gambaran kita sendiri”.

Bersatu dalam Perasaan
St Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus!” (Fil 2:5). Penebus kita memilih kita dan memurnikan hati kita supaya hati kita menjadi seperti hatiNya. Dia secara khusus mendoakan kita agar kita memiliki “kasih” Ilahi seperti yang telah Dia sendiri miliki: “Aku telah memberitahukan namaMu kepada mereka… supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26).
Itulah sebabnya, mengapa Ia menyebut kita sabahat. “Aku menyebut kamu sahabat karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu!” (Yoh 15:15). Bahkan secara alegoris dalam Kitab Yesaya, kita ini diangkat menjadi mempelaiNya, “Aku bersukacita di dalam Tuhan; jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya!” (61:10). Demikian juga dalam Kitab Hosea, “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan” (2:19).
Tatkala kita menyadari “gambaran di atas” pikiran kita akan terarah untuk mencintai Allah secara lebih dekat, menyenangkan dan mengisi hati kita dengan sukacita yang mendalam. Saat itu kita menyadari dan merasakan bahwa Dia dekat, Dia kekasih jiwaku, Dia sahabatku dan Dia tidak terasa jauh; Dia tidak menakutkan sebaliknya Dia penuh kasih! Perasaanku penuh sukacita; penuh kasih seperti perasaan Tuhan Yesus.
Resapkan
“Tinggallah dalam kasihKu… Aku telah menyebutmu, sahabat…” (Yoh 15:9.15).
Yohanes Haryoto SCJ
