Udar Rasa Perayaan Syukur Tahbisan Episkopal Mgr. Avin: Kebenaran Sejati Beralaskan Kasih

‘Sindang berdendang untuk Tanjungkarang’ demikian tajuk t-shirt lengan panjang yang dikenakan oleh para frater dan para Romo Unio KAPal wilayah Dekanat 3. Kostum itu sengaja disiapkan sebagai tanda sukacita atas perutusan Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo menjadi Uskup Diosesan Keuskupan Tanjungkarang. Seragam khas itu melebur bersama warna-warni busana umat yang hadir, semuanya semakin menyemarakkan suasana syukur Tahbisan Episkopal Mgr. Avin di kampung halamannya, Stasi St. Fransiskus Asisi – Paroki St. Stephanus Curup.  

Mgr. Avin bersama para imam | Foto: Romo Widhy KOMSOS KAPal

Perayaan syukur (23/05), yang dihadiri kurang lebih seribu orang diwarnai dengan hangatnya toleransi. Para imam, biarawan-biarawati dari KAPal dan Keuskupan Tanjungkarang melebur penuh akrab dengan umat yang hadir. Lebih istimewa lagi, warga masyarakat lintas agama pun ikut berperan aktif dalam perayaan syukur tersebut.

Dalam homili, Uskup Tanjungkarang berbagi pengalaman iman dalam bingkai Sabda Allah dari perayaan Ekaristi tersebut. Beliau sampai pada kesimpulan penghayatan bahwa pengetahuan dan iman adalah sepasang sayap untuk terbang menuju kepada kebenaran sejati berdasarkan kasih.

Para imam diosesan Keuskupan Agung Palembang | Foto: Romo Widhy KOMSOS KAPal

“Refleksi St. Paulus dari Bacaan Pertama (Kis 20:17-27) tadi, kita dapat merenungkan suatu perjalanan panggilan manusia yang terbatas atas karya keselamatan Tuhan. Menanggapi wahyu keselamatan Tuhan Maha Kasih kepada kita manusia. Pengetahuan dan iman ditetapkan oleh Gereja sebagai dua sayap untuk menghantar kita kepada kebenaran sejati” tegas Imam Diosesan KAPal yang kini menjadi Uskup Tanjungkarang.

Mgr. Avin bersama Mgr. Harun dan para petugas liturgi | Foto: Romo Widhy KOMSOS KAPal

Kebenaran Sejati yang beliau maksudkan adalah hidup kekal yang diharapkan oleh semua orang. Guna menegaskan hal itu, Bapa Uskup mengungkap rubrik saat katekumen akan dibaptis. Dalam perayaan itu, terjadi dialog perihal ‘apa yang diminta dari Gereja’ dan dijawab ‘hidup kekal’.

“Dua dimensi yang menghantar kepada kebenaran sejati, pengetahuan dan iman, akan dihidupi dengan baik jika dilandasi dengan kasih. Barangsiapa bisa mengakhiri pertandingan dengan baik melalui jalan kurban akan memperoleh mahkota kehidupan” ungkap Uskup yang adiknya menjadi Imam Diosesan Keuskupan Bogor.

Para imam diosesan Keuskupan Agung Palembang | Foto: Romo Widhy KOMSOS KAPal

Bapa Uskup juga mengajak umat untuk menempatkan diri sesuai panggilan masing-masing atas nasihat St. Paulus tadi. Dengan pengetahuan, iman, dan cinta, kita masing-masing melaksanakan peran dan tugas yang dipercayakan sebagai jalan menuju kehidupan kekal.

“Secara pribadi, saya dapat mengatakan bahwa dengan pengetahuan, iman, dan cinta kepada Kristus dan Gereja-Nya maka saya pergi dari Sindang, masuk Seminari, kemudian ke Seminari Tinggi, ditahbiskan menjadi Imam, dan kemudian mendapat anugerah besar ikut serta Suksesi Apostolik. Namun, dengan amat sadar bahwa saya memiliki keterbatasan insani; saya manusia berdosa, sering lari, sering tidak setia. Maka saya memilih motto ‘In Verbo Tuo Xavabo Rete’. Seperti St. Petrus yang berkata Tuhan pergilah dari ku sebab aku orang berdosa” kata Mgr. Avin.

Mgr. Avin bersama para imam | Foto: Romo Widhy KOMSOS KAPal

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, kita diikut-sertakan ambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan bagi sesama dan masyarakat. Oleh sebab itu, kita diundang supaya berani keluar untuk mengabdi sesama dengan menjadi terang dan garam dunia. Dalam upaya itu, gunakanlah pengetahuan dan iman sebagai sayap untuk menuju kebenaran sejati. Semua upaya baik itu hendaknya dilandaskan pada ajaran kasih Yesus Kristus.

Syukur atas tahbisan apostolik Mgr. Vinsensius ini juga dirayakan bersama masyarakat beserta pamong masyarakat dalam sesi ramah-tamah. Persaudaraan insani yang menyejukkan hati tergambar jelas dalam acara ini. Kendati Sindang dikenal daerah dingin namun suasana hangat terbina dalam hidup bersama. Semua itu seakan-anak menerikkan bahwa semua orang memiliki sayap untuk terbang menggapai kebenaran sejati. Tiap insan memiliki pengetahuan, iman, dan kasih untuk bertindak benar demi kebaikan bersama.

**Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.