“Mahasiswa-mahasiswi katolik adalah subyek utama dalam pastoral mahasiswa,” ujar RP Albertus Magnus Kristiadji Rahardjo MSC, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang (KomKep KAPal).

Pernyataan ini dikumandangkan dalam kegiatan temu Team Pastoral Mahasiswa dengan mahasiswa-mahasiswi Katolik di Pondok Mahasiswa St. Agustinus Indralaya, Jl. Raya Palembang Prabumulih Sumatera Selatan, Selasa (22/8), 2023, pkl. 17.00 WIB. Pastoral mahasiswa di Indralaya erat kaitannya dengan keputusan Universitas Sriwijaya (Unsri) menambah kampus di luar Kampus Bukit Besar Palembang, yakni di Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.
Terhitung 1 Februari 1995 semua kegiatan administrasi dan sebagian besar kegiatan akademik diselenggarakan di Kampus Inderalaya. Akibatnya, sebagian besar mahasiswa yang berasal dari luar Palembang memilih untuk tinggal di Indralaya.
Pilihan untuk tinggal di Indralaya menjadi pilihan terbaik dari segi biaya, tenaga, dan juga waktu. Konsekuensi pilihan tersebut adalah masa itu sarana prasarana masih terbatas, termasuk sarana ibadat bagi mahasiswa non Muslim. Kendati demikian, jumlah mahasiswa-mahasiswi yang tinggal di Indralaya meningkat pesat dari waktu ke waktu dengan berbagai latar daerah, suku dan agama.

Beberapa mahasiswa-mahasiswi beragama Katolik pun ada di antaranya, namun mereka belum saling mengenal sebagai saudara-saudari seiman. Muncul gagasan untuk mengadakan pertemuan rutin sehingga satu sama lain dapat bertemu dan saling mengenal.
Pesatnya perkembangan jumlah mahasiswa-mahasiswi Katolik di Indralaya, maka Bapak Uskup menugaskan seorang pastor yang bertanggung jawab atas pelayanan rohani bagi mahasiswa-mahasiswi Katolik di tempat tersebut. Kala itu ditunjuklah RP Hadrianus Wardjito SCJ. Beliau memulai pelayanan dengan membentuk kepengurusan. Peristiwa itu terjadi pada 1 Juni 1995 bertepatan dengan peringatan Santo Justinus Martir maka Santo Justinus dipilih sebagai pelindung.
Tantangan awal yang dihadapi adalah belum tersedianya tempat untuk pertemuan. Sebab itu, pastor pendamping berusaha mencari donatur untuk mendirikan sebuah rumah yang dapat digunakan untuk kegiatan pastoral mahasiswa di Indralaya.
Sembari mengupayakan dana, ternyata ada informasi bahwa Kongregasi Suster CB mempunyai tanah kosong di seberang kampus Unsri. Kolaborasi pelayanan pun dimulai. Dengan dana yang terkumpul berdirilah suatu bangunan semi permanen di atas tanah suster CB tersebut. Bangunan itu dikenal dengan sebutan Pondok Mahasiswa St. Agustinus.
Seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa-mahasiswi Katolik, kapasitas pondok tidak mencukupi lagi untuk menampung. Kembali diupayakan pencarian dana untuk membangun gedung baru yang dimaksudkan sebagai kapel dengan nama ‘rumah serbaguna’. Bangunan itu selesai pada tahun 2001 yang disebut Stasi Hati Kudus Yesus Indralaya. Seiring bergulirnya waktu, pelayanan bagi mahasiswa pun silih berganti diemban oleh para imam yang berkarya di KomKep KAPal.
Pondok, nama populer tempat ini telah menjadi saksi sejarah penuh makna dalam dinamika iman para mahasiswa-mahasiswi Katolik di Indralaya. Kisah sejarah yang dikenang itu menggoreskan jejak-jejak harapan. Kunjungan Team Pastoral Mahasiswa KAPal menjadi oase untuk mewujudkan harapan tersebut.
Team berjumpa dan menyapa sekitar 53 mahasiswa-mahasiswi dan tokoh umat Katolik setempat. Team yang hadir adalah RP. Alexander Pambudi SCJ (Sekretaris KAPal); RP. Albertus Magnus Kristiadji Rahardjo MSC (KomKep KAPal); RP. Anatasius Yohanes Rettob MSC (Parokus Paroki St. Maria Ratu Rosario Palembang; Sr. Luisa Sri Hartuti CB (Wakil Provinsial CB); Sr. Franka CB (Ekonom Kongregasi CB); turut hadir pula Romanus Suharyono, S.Ag (Penyelenggaran Bimas Katolik Kabupaten Ogan Ilir).
Dalam perjumpaan dengan team, mahasiswa-mahasiswi diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman, tantangan yang dihadapi, dan kegembiraan yang berujung pada harapan mereka. Valentina berharap meningkatkan pendalaman iman, karena merasa mereka minoritas di Unsri sehingga membutuhkan iman yang militan. Harapan ini didukung oleh harapan teman-temannya yang lain.


“Dibangun Saung Maria, ada retret,” kata Natasya.
Arum melengkapi dengan mengusulkan perlunya latihan paduan suara (choir). “Dihidupkan lagi kegiatan kategorial untuk meningkatkan kemampuan lektor, misdinar, mazmur, dan organis agar dalam bertugas tidak dadakan. Latihannya teratur,” pinta Lolita.
Fasilitas pendukung yang diusulkan antara lain Buku Puji Syukur, alat musik organ, proyektor dan wifi.
“Pondok dibangun lebih layak untuk ditempati oleh mahasiswa yang membutuhkan tempat tinggal, terutama bagi mahasiswa baru,” usul Andre.
Sindy menyampaikan harapan terbangunnya keakraban antarmahasiswa-mahasiswi. “Keakraban dibangun melalui bermain bulutangkis, futsal, kegiatan have fun lainnya untuk meningkatkan keakraban” tegasnya.
Tabita mengusung usul perihal keakraban dengan mengusulkan ziarah dan retret bersama untuk membangun persaudaraan, agar tidak ada jarak antarangkatan.
Kehadiran pendamping pun tak luput dari harapan mereka.
“Perlu bimbingan dari romo dan suster agar menjadi lebih baik,” kata Yolen.
Harapan pun dilantunkan oleh umat selaku orangtua di kalangan para mahasiswa-mahasiswi. Bapak Jati mengusulkan diadakannya kegiatan Ekaristi Kaum Muda (EKM) dan meningkatkan SDM unggul dan berkarakter, tidak hanya dalam bidang studi namun juga dalam kekatolikan.
“Kurangnya komunio dalam mahasiswa, sehingga perlu diperjelas program yang diadakan. Diharapkan romo dan suster dapat memberikan program yang baik,” kata Bapak Simatupang.
Bapak Ferdi berpendapat bahwa mahasiswa sulit untuk berkumpul, bisa dipertimbangkan di tempat ini dibangun asrama bagi mahasiswa Katolik untuk mempermudah berkumpul jika ada kegiatan.
Sedangkan Romanus, selaku Penyelenggara Bimas Katolik Kabupaten Ogan Ilir, mengingatkan pentingnya kemampuan beradaptasi.
“Kita harus pandai beradaptasi dengan lingkungan di sini, karena tempat ini dikenal dengan kota santri. Perlu membuat rekening stasi mahasiswa untuk memudahkan dalam bantuan dana. Tahun depan ada peluang, namun dalam 1-2 bulan ini proposal harus sudah masuk,” harapannya.
Sebagai Parokus, Romo Hans MSC mengarisbawahi kembali pentingnya pembinaan karakter. Semua litani harapan yang terungkap tersebut menjadi sebuah episode lanjutan dari harapan pendahulu yang merintis lahirnya pastoral mahasiswa ini.
“Harapan dari mahasiswa, agar dapat didengar oleh romo dan suster,” harap Bapak Kris.

Optimalkan Pelayanan, Meningkatkan Militansi Iman
Pastoral mahasiswa dalam Gereja Katolik merupakan upaya untuk menyediakan dukungan rohani dan sosial kepada mahasiswa-mahasiswi Katolik, agar dapat tumbuh dalam iman dan menjalani kehidupan beriman selama masa studi. Fokus pastoral adalah memenuhi kebutuhan spiritual, membantu dalam pertumbuhan moral, karakter, dan membangun militansi iman di kalangan mahasiswa-mahasiswi.
Kitab Hukum Kanonik (KHK), Kanon 813 menegaskan, “Uskup Diosesan hendaknya sungguh memperhatikan reksa pastoral bagi para mahasiswa, juga dengan mendirikan paroki khusus atau sekurang-kurangnya dengan mengangkat secara tetap imam-imam untuk tugas itu, dan hendaknya ia berusaha agar di universitas-universitas, juga yang tidak Katolik, didirikan pusat-pusat kegiatan Katolik tingkat universitas, yang memberi bantuan kepada kaum muda, lebih-lebih di bidang rohani.”
Dalam rangka berjalan bersama mengoptimalkan pastoral mahasiswa, perjumpaan team dan mahasiswa-mahasiswi diisi dengan saling mendengarkan, agar program pelayanan yang direncanakan tepat saran guna meningkatkan militansi iman.

“Pertama- tama tentu kami ingin mewujudkan visi misi KAPal dalam pastoral mahasiswa ini. Kami mencoba menyusun program yang mengalir dari visi misi KAPal. Tim kecil kami sudah tiga kali bertemu tim. Sebenarnya kami sudah siaplah. Pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswi dimaksudkan untuk mendengarkan harapan dan kebutuhan mereka agar program sesuai kebutuhan,” kata Sr Luisa CB.
Selaku Pastor KomKep KAPal, yang meliputi pendamping bagi mahasiswa-mahasiswi katolik, RP Kristiadji Rahardjo MSC menegaskan, “Para mahasiswa-mahasiswi sebagai subjek utama dalam pendampingan akan diminta mengisi survei, agar team pastoral mahasiswa dapat menyiapkan program yang tepat sasaran”.
Menurutnya, selama ini pembinaan rohani sudah memadai, sedangkan pembinaan karakter perlu ditingkatkan. Pengembangan minat bakat juga perlu mendapat perhatian. Melalui pendampingan yang utuh upaya bersama meningkatkan militansi iman bagi para mahasiswa-mahasiswi, masa kini dan masa depan Gereja dan Negara, dapat berjalan lebih maksimal.

Gereja Hadir Melayani secara Optimal
Gereja Katolik melihat masa studi sebagai periode yang penting dalam kehidupan seorang mahasiswa-mahasiswi. Gereja hadir melalui pastoral mahasiswa untuk memberikan dukungan dan bimbingan agar mahasiswa-mahasiswi menemukan makna dan tujuan hidup.
“Setahu saya aktivitas pastoral mahasiswa selama ini meliputi pembinaan rohani seperti doa, katekese, pembinaan orang muda, dan partisipasi dalam liturgi di Gereja,” tutur Ibu Listiana, umat aktivis Stasi Hati Kudus Yesus Indralaya.
Menurutnya, tujuan dari pastoral mahasiswa adalah membantu mahasiswa dalam pertumbuhan iman, mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin Katolik yang bertanggung jawab, dan membantu mereka mengintegrasikan iman dalam kehidupan sehari-hari dan dalam karier mereka di masa depan.
Tujuan tersebut kini gayung bersambut, KAPal bersama Kongregasi CB bertekad untuk berjalan bersama memberi perhatian optimal bagi pastoral mahasiswa.

“Harapannya nanti pada pertengahan September tahun ini, kami sudah bisa menyampaikan program pelayanan bagi mahasiswa kepada Bapa Uskup dan Provinsial CB. Begitu pula sarana dan prasarana segera dilengkapi, agar pelayanan bagi mahasiswa-mahasiswi berjalan lancar,” urai wakil Provinsial CB.
Terkait sarana prasarana, Sr. Franka CB, selaku ekonom Kongregasi CB menegaskan team yang dibentuk akan memberi pelayanan yang optimal bagi mahasiswa-mahasiswi.
“Kami hadir untuk mendengarkan apa yang menjadi harapan mahasiswa dan apa yang bisa dibantu untuk memenuhi kebutuhan kaum muda di sini. Program seperti apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan kepribadian (softskill) yang dibutuhkan untuk masa depan namun tidak didapatkan diperkuliahan,” ujarnya.
Hal senada ditegaskan pula oleh Sr. Petra CB, mewakili Komunitas CB Palembang, bahwa kehadirannya untuk mendengarkan kebutuhan dan harapan mahasiswa-mahasiswi. Menyadari mahasiswa-mahasiswi Katolik adalah penerus-penerus Bangsa dan Gereja. Keberadaan dan segala aktivitas yang mereka lakukan di kampus dan di masyarakat menampilkan wajah Gereja, maka Gereja berkomitmen hadir melayani untuk menjawab harapan mereka.
“Sesuai dengan sejarah berdirinya stasi mahasiswa ini, maka tujuan utama berdirinya pondok adalah untuk memberikan tempat dan kemungkinan bagi para mahasiswa Katolik berkumpul bersama untuk mengembangkan kekatolikan dan intelektualitasnya. Harapannya agar mahasiswa Katolik yang ada di Indralaya terpelihara secara rohani dan terdukung secara intelektual, sehingga bisa menjadi sahabat bagi siapa saja dan menjadi garam yang menyegarkan dan mewarnai aktivitas kampus,” harap Yessi.
Atas setumpuk harapan dari perjumpaan itu, RP Alex SCJ menegaskan, “Kami ingin semakin hadir, kami ingin semakin melayani.”
Dalam semangat berjalan bersama diharapkan pastoral mahasiswa semakin optimal. **
RD Widhy
