“Benarkah panggilan itu sebuah beban? Hemat saya, Yesus tidak menganggap tanggung jawab dan panggilan hidup itu sebagai beban. Dia justru menganggap sebagai rahmat, sebagai anugerah. Rahmat, gratia, pemberian cuma-cuma; gratis dari Allah,” kata Mgr Yohanes Harun Yuwono dalam Misa Tahbisan Imam dan Diakon di Katedral St. Maria Palembang, Kamis (31/8).

“Tollite jugum meum super vos, et discite a Me” (Mat 11:29) dipilih sebagai motto perayaan tersebut. Uskup Agung Palembang (KAPal) mengajak para tertahbis untuk belajar dari Yesus.
“Kristus adalah ya atas semua janji Allah (2 Kor 1:20). Dia tidak pernah mengumpat, tidak pernah mencaci maki, iri dengki. Dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Yesus tidak sedih dan tidak tertekan. Dia rela dan tenang dalam memikul beban dan tanggung jawab tugas dari Bapa. Yesus ingin mengatakan jika kamu bersikap seperti Aku, kamu akan merasa seperti Aku, tiada beban atau bebanmu ringan dan hati mu akan tenang, akan senang, akan bahagia. Yesus tidak tertekan dalam menghidupi panggilannya karena ia rela maka bahagia,” tandas Mgr. Yohanes.

Perayaan tahbisan ini digelar saat Keuskupan Agung Palembang (KAPal) sedang merenungkan tema I Arah Dasar: Mensyukuri Anugerah Iman. Tema diangkat dalam rangka memperingati 100 tahun Prefektur Apostolik Bengkulu yang menjadi cikal bakal lahirnya KAPal. Perayaan diisi dengan kembali mengenang penabur benih iman (misionaris, katekis, dan tokoh iman lainnya). Benih iman yang tumbuh itu tak jarang erat kaitannya dengan lahirnya imam-imam. Profil para imam baru menunjukkan kaitan erat antara iman dan imam. Karena itu, tahbisan ini bagi KAPal menjadi saat mensyukuri anugerah iman dan mensyukuri anugerah imam.

Mereka yang ditahbiskan diakon adalah Fr. Cornelius Cahya Sandi SCJ dan Fr. Oswena Louis SCJ, sedangkan mereka yang ditahbiskan imam adalah Diakon Basillius Benedictus Suban Meo Klobor, Diakon Bernadus Bayu Susanto, Diakon Chanel Dorotheus Odjan Soge, Diakon Herman Putra Mbui Djoka, Diakon Octavianus Ude Taa, Diakon Christian Hoper S. Pakpahan SCJ, Diakon Stephanus Lisdiyanto SCJ, Diakon Yohanes Dwi Feri Antoro SCJ.
Imamat itu Rahmat
Iman dan imam saling bertalian. Allah memanggil, Gereja menanggapi. Menjadi imam adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan. Pada prinsipnya, pintu seminari terbuka bagi siapa saja yang merasa terpanggil. Justru yang dibutuhkan adalah ketajaman telinga hati untuk mendengar panggilan Tuhan dan dengan keyakinan iman menjawabnya; sehingga lahirlah imam bagi Gereja.
“Kelahiran selalu menarik. Kalau ada seorang ibu melahirkan, kita datang, banyak orang datang untuk bergembira. Apalagi kelahiran imamat. Tahbisan selalu menarik. Menarik orang untuk datang dari mana-mana karena kelahiran memberi hidup baru. Hidup baru pada diakon dan imam baru ini adalah melanjutkan Kristus yang hidup di tengah-tengah kita, memberikan tanda-tanda rahmat, memberikan makanan rohani, pengampunan, dan menyertai kita semua dalam Perayaan Ekaristi,” ungkap Mgr. Aloysius Sudarso, Uskup Emeritus dalam sambutannya.

Bagi para tertahbis, Mgr. Harun mengajak mereka menjadi gembala berbau domba. “Gerak langkah pastoral keuskupan kita adalah mendekatkan imam pada umat dan mendekatkan umat pada imamnya. Imam hendaklah berani sebagai gembala berbau domba. Ini kita maksudkan untuk mendengarkan dan mengikuti gaya hidup Yesus yang seluruh jiwa raganya dipertaruhkan, agar tak seorang pun hilang,” kata Mgr. Yohanes Harun Yuwono.
Sedangkan, Provinsial SCJ, dalam sambutannya, menegaskan bahwa yang membanggakan dari para tertahbis adalah persembahan diri mereka sebagai pelayan.
“Kita bangga dan bersyukur atas kesepuluh saudara kita yang dengan definitif mempersembahkan diri mereka sebagai pelayan Allah dan Gereja-Nya. Semoga selalu diingat bahwa yang membanggakan adalah persembahan diri mereka sebagai pelayan. Di luar itu mereka tidak akan membanggakan. Maka, ingat para tertahbis bahwa yang membanggakan bagi kami semua, para imam dan umat; bangga karena kalian mempersembahkan diri sebagai pelayan,” kata Rm Andreas Suparman SCJ, Provinsial SCJ Indonesia. **
RD Widhy
