Jadi Romo Karena Sosok Jubah Putih

Dulu Rm Christian Hoper S. Pakpahan SCJ tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang biarawan-imam. Ketika masih kecil, ia punya cita-cita menjadi seorang pegawai bank atau mungkin seorang penyanyi seperti artis-artis Indonesian Idol. Perjumpaan dengan pribadi-pribadi berjubah putih-lah cikal bakal benih panggilan itu tumbuh.

“Saya berasal dari paroki St. Theresia, Jambi. Di tempat ini saya belajar dan bertumbuh dalam iman. Di Gereja, saya ikut ambil bagian menjadi seorang misdinar. Menjadi pelayan dan mendapat tempat duduk di depan dekat imam menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya. Hingga akhirnya, saya berjumpa, menemukan, dan merasakan sosok-sosok jubah putih yang luar biasa, yaitu kehadiran para romo,” tutur Rm Hoper.

Romo Hoper SCJ | Foto: KOMSOS KAPal

“Di mata saya (seorang anak remaja) saat itu melihat para romo itu rasanya damai sekali. Mereka hadir membawa sukacita dan damai. Mereka dapat bergaul dan berkomunikasi dengan orangtua, orang muda, remaja, dan juga anak-anak. Jubah putih mereka seperti berkilau indah di mata saya dan kehadiran mereka membawa kedamaian. Dari pengalaman itulah, saya berkata dalam hati saya: saya ingin menjadi seperti romo,” jelas imam Dehonian kelahiran  Jambi, 30 Oktober 1995.

Akhirnya ia pun masuk seminari dan menekuni peziarahan panggilan sebagai biarawan dan imam. Selama proses formatio, ia belajar untuk setia dalam setiap proses yang Tuhan ajarkan dalam hidup, baik melalui para formator, dari kehidupan sendiri, dari umat, maupun dari pelajaran-pelajaran formal. Kesetiaan dalam proses menjadi kata kunci yang dipegangnya selama menjalani panggilan.

Romo Hoper SCJ | Foto: KOMSOS KAPal

Ia ingin membalas cinta Allah melalui komitmen untuk memberikan diri bagi Allah dan sesama. Ia sangat bersyukur atas rahmat panggilan yang Tuhan anugerahkan dan percayakan dalam hidupnya.

Romo Hoper (kiri atas) bersama teman-temannya di Novisiat St. Yohanes Gisting | Foto: dokumentasi pribadi Romo Feri

“Hari demi hari, Tuhan izinkan saya untuk berkembang dan bersukacita dalam panggilan ini. Ia anugerahkan saya bakat, talenta, dan rahmat-rahmat yang saya butuhkan dalam persembahan diri kepadaNya dan dalam pelayanan kepada umat yang Ia percayakan kepada saya. Cinta-Nya tidak pernah habis saya rasakan. Dalam perjalanan panggilan ini, saya menyadari bahwa hanya kasih Allah-lah yang memampukan saya untuk berdiri teguh dan setia dalam panggilan ini,” ungkap pemilik motto ‘Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya’(Yohanes 15:13) ini.

Romo Hoper (kanan) bersama teman-temannya di Novisiat St. Yohanes Gisting | Foto: dokumentasi pribadi Romo Feri

Tergerak oleh kasih itu, Rm Hoper ingin membalas cinta Allah lewat panggilan suci ini. Sebuah panggilan yang bermula dari perjumpaan yang meneguhkan iman dan membulatkan hatinya ingin menjadi imam. Ia memilih Injil Yohanes 15:13 menjadi motto sekaligus motivasi hidup dalam mempersembahkan diri kepada Allah dan sesama. Ia ingin belajar menjadi sahabat sama seperti SAHABATnya yang memberikan nyawa karena cintaNya kepada dirinya. Bersama Dia, ia ingin belajar menjadi pelayan yang lembut dan rendah hati (bdk. Mat. 11:29-30). **

RD Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.