30 Langkah Menuju Kesucian (19)

Kristus Ikut Menderita dalam Derita Kita

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Sampai saat ini Kristus masih menderita dalam diri kita dan saudara-saudari kita yang menderita | Foto: Pinterest

Doa

“Tuhan Yesus aku ingin menderita bersamaMu,
Bila aku menanggung derita dalam persahabatan denganMu, derita itu tidak lagi terasa berat.
Dengan mengasihiMu terus-menerus,
aku akan bersukacita dalam deritaku!” Amin.

Pengajaran

“Kristus telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu….” (1Ptr 2:21). PanderitaanNya membuktikan bahwa kasih Allah kepada kita telah nyata; itu juga berarti Ia mengundang kita mengasihi Dia secara nyata; rela menderita demi cinta kita kepadaNya. Betapa indah dan menguatkan kita bila kita memahami misteri penderitaan Kristus di dalam jiwa kita – bagaimana Yesus ikut menderita tatkala kita menderita. Demikian juga “bagaimana penderita yang kita alami menghantar kita untuk semakin menyatukan kita dengan Yesus sebagai ungkapan cinta kita kepadaNya?”

Kristus Merasakan Penderitaan Kita

“Aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat!” (Kol 1:24).

Kalimat ini aneh. Bisakah penderitaan yang kita alami diklaim sebagai penderitaan Kristus? Yang pasti itu bukan penderitaan fisik di kayu salib! Penderitaan fisik cukup sekali dialami oleh Kristus di puncak Golgota. Ungkapan St Paulus tersebut perlu direnungkan secara mendalam. Ketika menderita di kayu salib,Yesus berkata: “Sudah Selesai!” (Yoh 19:30). Saat itu Yesus ingin berkata, “Aku sudah puas akan semua itu; Aku telah melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk menebus para pendosa; Aku telah memberikan bukti KasihKu kepada mereka secara tuntas sampai akhir hidupKu.”

Tetapi dalam kenyataan hidup ada sesuatu yang masih diharapkan terjadi, yaitu ketika Tubuh MistikNya, yaitu kita umatNya menderita. Bagaimana kalau kita sebagai Tubuh Mistik Yesus Kristus mengalami penderitaan? Apakah saat itu kita sendirian? Atau Dia ikut menderita?

Ketika Ia masuk ke dalam dunia ini, saat ia mempersembahkan diri kepada BapaNya sebagai korban, Ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Sebagai Kanak-kanak, Ia bisa berkata kepada tangan dan kakiNya: “suatu hari kamu akan dipaku di palang Salib”. Sebagai Allah yang memanusia, Ia memiliki pengetahuan yang tak terbatas; Ia sudah tahu apa yang akan menimpa DiriNya dan Tubuh Mistik atau umatNya.

Demikian juga tentang penderitaan yang akan menimpa diri kita masing-masing. Penderitaan itu pasti sudah diketahuiNya, tetapi tidak akan dicabutNya karena melalui itu kita akan mendapat penghiburan yang tak terlukiskan. Saat itu kita bisa berkata kepada Sang Juru Selamat: “Lihatlah mahkota duriMu, kini Kau kenakan di kepalaku. Terjadilah demikian! Lihatlah hatiku yang terluka sama dengan hatiMu. Saya siap menerima lukaMu itu dalam hatiku!”

Tidak ada penderitaan yang menimpa kita yang tidak bernilai ilahi. Dalam Dia, penderitaan itu indah – karena Dia, Allah yang memanusia terus mengulangi kalimat seorang ibu yang menghibur anak dalam belaiannya: “Aku menderita bersama anakku!”

Tidak heran bila St Petrus berseru, “Bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya” (1Ptr 4:13). St Paulus bangga dengan penderitaannya, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami!” (2Kor 4:10). “Aku telah disalib dengan Kristus!” (Gal 2:19).

Tuhan Yesus telah tahu bahwa kita akan menderita, dan derita itu tidak akan dicabut olehNya. Hal ini seperti apa yang Dia sendiri alami. Waktu Perjamuan Paskah sudah dekat, beberapa hari sebelum wafatNya, Tuhan kita Yesus mengatakan bahwa Dia akan mengalami penderitaan. Ia berkata: “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat itu? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat itu!” (Yoh 12:27).

Tuhan Yesus tahu bahwa Ia akan menderita, dan Dia tidak minta dibebaskan daripadanya. Ketika berdoa di taman Getsemani Yesus bergolak mengetahui penderitaan yang begitu hebat akan menimpa diriNya: “Ia sangat takut dan gentar” (Mrk 14:33). Tetapi Yesus menyadari bahwa pada waktu Ia menderita itulah Ia memuliakan BapaNya dan Dia dimuliakan: “Bapa, dimuliakanlah namaMu!” Maka terdengarlah suara dari surga: “Aku memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!” (Yoh 12:28).

Tuhan Yesus tidak akan mengambil salib yang menimpa kita, karena peristiwa pahit itu menjadi jalan kebaikan bagi jiwa kita. Ia akan menarik salib derita kita lebih dekat dengan diriNya di mana kita bisa menemukan Dia sendiri. Dia akan merasakan penderitaan kita seperti seorang ibu yang mendekap anaknya yang sedang sakit. Dia sendiri merasakan sakit anaknya itu! Di balik piala penderitaan yang harus kita minum itu, kita menemukan kasihNya yang tak terbatas. Pada saat itu kita memuliakan Dia dan pasti kita juga dimuliakan!

“Bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya” (1Ptr 4:13).

Bucket Rohani

“Aku memikul deritaku bersama Yesus dalam keheningan!”

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.