“Allah Bapa kami yang maha pengasih, kami bersyukur kepada-Mu karena selama 100 tahun Engkau menyertai umat-Mu dengan setia, baik dalam suka maupun duka. Kami juga bersyukur atas keluarga-keluarga yang menjadi basis hidup beriman, atas anak-anak, remaja dan kaum muda yang semakin terlibat dalam pengembangan umat serta segala upaya pemberdayaan saudara-saudari kami yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu untuk melanjutkan pekerjaan baik yang telah Engkau mulai di tengah kami supaya kami dapat menjadi saksi budaya kasih dan kebenaran-Mu bagi masyarakat dan lingkungan hidup kami,” ucap Mgr. Yohanes Harun Yuwono saat mendaraskan sepenggal Doa Pembuka Misa Perayaan Puncak Misa 100 tahun Prefektur Apostolik Bengkulu.

Turut hadir pula Mgr. Aloysius Sudarso Uskup Emeritus, 26 Imam, dan 1 Bruder, serta ratusan umat dalam perayaan yang dilaksanakan Minggu (10/9) di Paroki St Yohanes Penginjil Bengkulu. Perayaan ini memahkotai rangkaian perayaan seabad Prefektur Apostolik Bengkulu yang dibuka pada 13 Maret 2023 lalu. Rangkaian kegiatan perayaan dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu gladi jasmani, gladi rohani dan perayaan puncak.












Sejak Prefektur Apostolik Bengkulu didirikan 100 tahun lalu, wilayah pelayanan Prefektur tersebut meliputi Palembang, Bengkulu, Jambi, dan Lampung. Luas wilayah pelayanannya mencapai 187.997 Km persegi atau 5,5 kali luas Belanda. Setelah Lampung menjadi wilayah gerejani sendiri, luas wilayah pelayanan Keuskupan Agung Palembang mencapai 157.000 Km persegi.
“Hari ini kita semua diajak bersyukur atas penyertaan dan karya Allah menganugerahkan kita kesempatan untuk menimba dan bersyukur atas semangat dan warisan iman para misionaris perintis Gereja Sumatera bagian Selatan. Kita ungkapkan rasa syukur kita dalam perjalanan misi 100 tahun Prefektur Apostolik di Bengkulu. Peristiwa ini merupakan satu karunia besar dari Tuhan di mana Allah bekerja untuk mencintai umat-Nya. Secara istimewa bagi umat di Bengkulu karena perjalanan misi itu, umat sungguh merasakan buah-buahnya.” tegas Rm Paulus Sarmono SCJ dalam pengantar Misa Puncak 100 tahun Perfektur Apostolik.
Dalam homilinya, Uskup Diosesan KAPal mengajak umat untuk mensyukuri anugerah iman dari para perintis dengan konsisten menjadi orang baik. “Kepada seluruh umat, kepada kita semua yang mewarisi warisan iman, marilah terus hidup dengan baik sebagai saksi-saksi Kristus. Niscaya orang lain juga akan ikut bertobat kalau kita konsisten baik dalam situasi apa pun. Jika demikian, Bacaan Pertama dan Bacaan Injil, kita ambil bagian dalam karya kerasulan Kristus menyelamatkan manusia. Dalam Bacaan Kedua tadi, Santo Paulus menasihati kita dalam situasi apa pun janganlah tergoda oleh pesona daya tarik, kemudahan, dan keenakan duniawi yang menyesatkan,” ajak Mgr Harun.

Menurutnya, Allah telah mengasihi kita. Mengasihi kita bahkan sejak kita belum ada. Kasih Allah itu tidak akan pernah terbatalkan oleh dosa, kelalaian, dan kelemahan manusia.
“Ia (Allah) terus mengasihi kita dan mengasihi terus generasi sesudah kita. Karena Allah telah mengasihi kita, mari kita terus berbuat Kasih sebagai ungkapan syukur kita, orang-orang tertebus, anak-anak Allah. Hanya dengan demikian keselamatan Allah akan menjangkau sebanyak mungkin orang dan kita adalah rasul-rasul-Nya, saksi-saksi-Nya. Pastilah demikian yang diharapkan oleh para misionaris pendahulu, penabur iman, di bumi kita ini. Niscaya gereja akan terus berkembang,” tutur Mgr. Yuwono.
Upaya untuk konsisten dalam kebaikan hendaknya dibangun dalam semangat kolaborasi sebagaimana sejak awal diteladankan oleh para peristis sebagaimana ditegaskan oleh Pastor Paroki dalam sambutannya. “Yang pertama, Pastor Y. van Meurs SJ pernah mengatakan ‘usaha saya yang utama tidak lain daripada menabur dengan mencucurkan air mata, sesudah saya akan datang orang lain yang melihat bagaimana benih yang saya taburkan akan bertumbuh. Kemudian, orang lain lagi akan menuai bersorak-sorai.’ Kita semua adalah hasil panenan dari benih yang ditabur oleh para misionaris. Kami semua, para imam, adalah penuai yang bersorak-sorai. Ini adalah bukti nyata dari yang dikatakan oleh Romo van Meurs. Yang kedua, dari awal Prefektur Apostolik dibangun dalam kolaborasi imam, biarawan-biarawati, para awam, dan para kontrolir atau pemerintah yang baik. Maka mari kita teruskan berkolaborasi bersinergi untuk membangun Gereja di Keuskupan Agung (Palembang) kita ini,” kata Rm Sarmono SCJ.

Selain Perayaan Ekaristi, acara puncak 100 tahun Perfektur Apostolik dimeriahkan dengan Tarian massal oleh kelompok Flobamora, Penampilan drama “Bersyukur Atas Karunia Iman” dari kelompok misdinar, Mini concert “A Beautifull Collaboration Band”, Penampilan tarian dari TK Sint Carolus, penampilan tarian dari Kelompok Sekami, penampilan mini cabaret dan flash mob dari Lingkungan Ignatius, Penampilan RD Dwijoko menyanyikan lagu “Molo Huingot”, Penampilan gerak dan lagu dari Suster-suster CB, dan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba-lomba.

Di tengah hiruk pikuk sukacita tersebut, umat diharapkan tetap menghidupi nilai misioner dan heroisme yang diwariskan oleh para penabur benih iman.
“Ada nilai-nilai yang harus diperjuangkan oleh keuskupan kita. Nilai pertama adalah nilai misioner. Nilai lain yang dibutuhkan adalah heroisme. Kita perlu sering merenungkan semangat kepahlawanan yang mendorong mereka untuk datang mewartakan Kabar Sukacita. Perlu diwariskan nilai rela berkorban untuk melayani masyarakat, orang-orang miskin. Banyak nilai-nilai heroisme lainnya yang perlu kita batinkan,” nasihat Mgr Aloysius, Uskup Emeritus, dalam sambutannya. **
RD Widhy
