“Keluarga adalah institusi sekular terkecil. Sekular, karena hanya ada di dunia ini. Institusi, seperti kelompok, yang didirikan Allah sendiri. Bukan hanya didirikan, tapi dalam Kitab Kejadian juga diberkati oleh Allah. Tidak hanya diberkati, tapi Putera Allah dititipkan kepada manusia. Artinya, keluarga sangat berharga di mata Allah,” kata Mgr. Yohanes Harun Yuwono.
Keluarga merupakan tema materi yang diberikan Bapak Uskup Harun. Pasalnya, tahun depan, Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Palembang adalah tahun keluarga. Baginya, keluarga adalah komunitas yang begitu sakral.
“Apa yang disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Betapa suci keluarga! Betapa keluarga mempunyai panggilan luhur. Gereja Katolik mempertahankan ajaran menikah itu sekali seumur hidup, sampai maut memisahkan. Bukan karena ingin beda dengan yang lain, tapi karena mau taat kepada perintah Allah,” katanya.
Keluarga yang sakral itu haruslah dihidupi dalam terang iman Katolik. Seperti yang kita tahu, iman Katolik mengajarkan kasih.

“Ketika dalam keluarga ada kasih, kebersatuan, manusia akan tumbuh, bukan hanya secara fisik sehat, tapi akan tumbuh secara psikologis,” katanya.
Allah, kata Uskup Harun, mengenalkan diri kepada kita sebagai pribadi yang akrab dengan keluarga.
“Kata-kata Bapa, Putera, dan kasih, diambil dari khasanah keluarga. Maka orang yang bertumbuh dengan baik dalam keluarga, akan mengerti kalau Allah itu Bapa, Allah itu Putera, akan berbuat baik kepada orang lain. Orang yang hidup baik dalam keluarga dapat menghidupi iman Katolik dengan baik,” katanya.
Dia berharap tahun keluarga menjadi tahun retret agung.
“Bangkitkanlah kembali doa dalam keluarga. Ajaklah anak, cucu. Anak saya sudah di California. Sekarang kan ada WA, ada Zoom, ada video call. Buatlah sekali-kali sama seperti yang dibuat ibu ayah kita. Melekatkan diri dengan materi akan luntur, tetapi dengan doa, semuanya akan melekat. Minimal seminggu sekali berdoa bersama,” katanya.
Lebih dari itu, dalam Masyarakat, keluarga Katolik juga harus berani berpartisipasi. “Kita berpredikat garam dan terang dunia. Maka keluarga Kristiani bertanggung jawab menjadi terang dan garam di tengah masyarakat. Jangan rendah diri, hadirlah dalam masyarakat kita. Jika kita absen, masyarakat akan hambar. Yakinlah!” tuturnya. ** Kristiana Rinawati
