14 Oktober 2008 lalu, alm. Romo Tarsisius Leisubun MSC mengumpulkan delapan orang di Paroki Santo Yoseph Palembang.
“Dia bertanya, “Maukah kalian diajarkan Doa Koronka Kerahiman Ilahi?” Kelompok kecil ini mengiyakan ajakan Romo Tarsis. Lalu, kami mengawalinya dengan retret bersama,” kenang Nurwati Suhaimi, ketua Kongres Perdana Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi (KKKI) Keuskupan Agung Palembang (KAPal).
Setelah retret bersama Romo Tarsis, mereka rutin berkumpul berdoa. Mereka juga mengajak semakin banyak orang mengenal spiritualitas Kerahiman Ilahi, seperti perintah Tuhan Yesus kepada Santa Faustina, benamkanlah semakin banyak jiwa dalam lautan kerahiman-Ku.

“Menjangkau semakin banyak jiwa. Membangun dunia atas dasar belas kasih dan percaya penuh pada Tuhan,” kata Romo Anatasius Yohanes Rettob MSC, moderator KKKI KAPal.
Devosi Kerahiman Ilahi menyebar hampir menyeluruh ke sudut-sudut kota yang ada di Keuskupan Agung Palembang, mulai dari paroki, stasi, sampai ke keluarga-keluarga. Atribut-atribut Devosi Kerahiman Ilahi, misalnya gambar Kerahiman Ilahi dan Rosario Koronka pun dimiliki oleh umat Katolik di Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.

Kongres Perdana KKKI KAPal: Mensyukuri Anugerah Iman
Lima belas tahun kemudian, tepatnya tahun ini, untuk pertama kalinya komunitas ini mengadakan kongres.
“Kita sempat melalui pandemi Covid-19. Banyak orang yang susah, bahkan meninggal dunia. Orang-orang bertanya di mana Allah? Orang-orang makin sedikit berkumpul untuk berdoa. Di sini kita memperkenalkan Allah yang Maharahim,” kata Nurwati.

Kongres Perdana KKKI KAPal dibuka dengan Perayaan Ekaristi di Hotel Excelton Palembang. Perayaan syukur yang juga memperingati Santa Faustina ini dipimpin oleh Uskup Agung Yohanes Harun Yuwono. Uskup Emeritus Aloysius Sudarso SCJ dan beberapa imam turut berkonsebrasi sore itu, Jumat (06/10).
Mensyukuri Anugerah Iman adalah tema yang diangkat dalam KKKI KAPal yang dihadiri oleh sekitar 200 umat Katolik dari 22 paroki dan stasi di Keuskupan Agung Palembang. Iman, menurut Uskup Agung Harun adalah sesuatu yang harus diwariskan.

“Arah Dasar Keuskupan Agung Palembang tahun ini Tahun Syukur. Memang ada beberapa peristiwa yang wajib kita syukuri, yang menjadi warisan pendahulu kita. Kita telah merayakan 100 tahun Prefektur Apostolik Bengkulu. Kita akan merayakan 100 tahun kehadiran Kongregasi SCJ di Indonesia. Kita telah memberkati katedral baru. Kita merayakan IYD di keuskupan kita,” tutur Uskup Agung Harun mengawali homilinya.
“Kita merayakannya karena apa?” tanyanya lebih lanjut.
“Karena kita punya tanggung jawab. Karena kita telah diwarisi (iman), kita punya kewajiban mewariskan generasi sesudah kita, agar mereka mendapatkan keselamatan,” jelasnya.
Iman Harus Diwariskan dalam Keluarga
Iman Katolik harus diwariskan. Iman adalah keluhuran yang memanusiakan manusia. Tanpa warisan iman, kata bapak uskup, generasi sesudah kita tidak akan menjadi manusia yang manusiawi.
“Setelah tahun syukur ini, kita akan merayakan tahun keluarga. Di dalam keluarga Kristiani, kasih harus menjadi tali pengikat, spirit yang menghidupi keluarga-keluarga. Tanpa kasih, keluarga hanya akan menjadi suatu kumpulan yang membuat orang tidak krasan (betah) bersama. Rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, rumah tangga yang tidak dihidupi dengan kejujuran, rumah tangga yang dihidupi dengan kepalsuan, akan melukai setiap anggota keluarganya,” katanya.
Keluarga adalah dasar yang penting dalam kehidupan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, di dalam keluarga harus ada kasih. Kasih adalah Allah sendiri. Hanya dengan didikan kasih, anak-anak akan menjadi manusia yang membagikan persaudaraan kepada siapa saja yang dijumpainya.

“Jika keluarga sehat, masyarakat akan sehat, tetapi jika keluarga dihuni oleh orang-orang terluka, masyarakat akan sakit. Ketika masyarakat sakit, negara tidak akan bermartabat. Yang ada saling menyingkirkan, saling memusuhi, saling menjatuhkan,” katanya.
Kerahiman Ilahi yang dilambangkan dengan air lambung Kristus adalah simbol Sakramen dan simbol kelahiran Gereja. Kita semua, kata bapak uskup, adalah Gereja.







“Sudahkah kita ambil bagian dalam mewartakan Dia? Ingat bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mendengarkan Sabda Allah. Semua orang berhak diselamatkan (Allah). Apakah kita hanya pasif saja? ‘Biarlah orang lain yang menjadi pewarta Kristus. Saya tahu apalah?’ Sering kali kita rendah diri seperti itu. ‘Saya kan tidak belajar apa-apa, kan ada uskup, imam, suster. Gereja tidak hanya uskup, imam biarawan-biarawati. Gereja adalah kita, yang dilahirkan oleh air lambung Kristus,” katanya.
“Sekali lagi, setiap orang punya hak untuk memperoleh keselamatan. Setiap orang memperoleh hak untuk mengenal Kristus dan kita punya tanggung jawab mewartakan-Nya,” tuturnya.
Seturut homili bapak uskup, Nurwati berharap agar melalui kongres ini, semangat merasul tumbuh dalam diri semua devosan kerahiman Ilahi. “Mari kita mensyukuri iman kita. Di mana kongres ini menjadi wadah sharing, apa yang akan kita bawa ke tempat kita masing-masing,” kata Nurwati. ** Kristiana Rinawati
