Kamis, (05/10) lalu, diselenggarakan pemberkatan dan peresmian Wisma St. Fransiskus dan St. Clara. Kedua wisma yang terletak di kompleks Gua Maria Misericordia dan Via Crucis, Sukomoro ini nantinya akan menjadi tempat tinggal Uskup Emeritus Aloysius Sudarso SCJ dan kedua suster misionaris asal Korea.



Pembangunan diawali dengan peletakkan batu pertama oleh Almarhum Romo Bonifasius Djuana.
“Peletakkan batu pertama 26 Juli 2022. Kami bersyukur dan berterima kasih untuk teman-teman yang berpartisipasi mendukung pembangunan ini. Pak Alex, Ibu Nova Chandra, Ibu Ming-ming, Ibu Lena, semua petugas koor Colors Choir, yang telah menyemarakkan Ekaristi malam ini,” kata ketua panitia, K. Zien Rusli.
Dia juga berterima kasih kepada para donator, khususnya keluarga Bapak Wilson yang berpartisipasi dalam pendanaan bangunan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim Via Crucis yang mendukung, tim Pansos, yang karyawannya sudah banyak berpartisipasi. Kami berterima kasih kepada para donatur. Untuk Suster, kami ucapkan selamat menempati, juga Mgr. Aloysius Sudarso. Terima kasih,” katanya.

Rumah emeritus, memang telah direncanakan oleh pihak Keuskupan Agung Palembang.
“Kita dengar dalam Injil perutusan para murid, Yesus mengatakan, ‘setiap pekerja pantas mendapat upahnya.’ Bapak uskup sudah menggembalakan keuskupan ini. Saya merasa, masa setelah ke sana kemari, dikembalikan saja ke kongregasi? Masa begitu tega Keuskupan Sgung Palembang tidak beri ‘upah’ setelah bekerja sekian lama?” kata Uskup Agung Harun, sore itu.
Rumah emeritus adalah ungkapan syukur seluruh umat Keuskupan Agung Palembang, atas penggembalaan Uskup Sudarso.

“Kami ingin, Bapak Uskup tetap tinggal diam di antara kami. Untuk tetap krasan di antara kami. Untuk tetap merasakan kasih di tengah kami,” kata Uskup Harun, tentang pendirian rumah emeritus.
“Tentu bapak uskup boleh tinggal di manapun, juga di paroki, di manapun. Saya pernah mengatakan saat khotbah 75 tahun, bahkan di Lampung. Ada tempat retret, keuskupan, biara gembala baik milik SCJ. Di sini banyak peziarah, yang jangan diartikan mengganggu bila ke tempat ini, karena mereka tetap memohon berkat bapak uskup, dan memohon doa untuk disampaikan kepada Allah,” katanya.




Tentang kedua nama, Santo Fransiskus Assisi dan Santa Clara, nama ini diberikan oleh Mgr. Harun sendiri. Menurutnya, kedua orang ini adalah teladan pendoa yang luar biasa.
“Eh, Bu Mira tadi mengatakan, ‘Ini nama anak saya, yang telah berangkat ke sana di usia yang muda.’ Dan, mengapa ada rumah suster di samping rumah bapak uskup? Tidak usah takut, dua-duanya orang saleh. Dalam pikiran saya, makin hari bapak uskup pastilah butuh perhatian orang lain. Kalau sekarang bisa ke sana ke mari, tapi ada waktunya kata Tuhan Yesus, ikat pinggang akan diikatkan oleh orang lain. Saya harap bapak uskup bisa krasan dan para suster bisa memenuhi kebutuhan Bapak Uskup,” harapnya.



Monseigneur Sudarso SCJ berterima kasih atas perhatian umat kepadanya. Dia juga mengatakan banyak tawaran, bahkan di luar Palembang sebagai tempat tinggalnya di masa pensiun.
“Tapi saya ini wong (orang) Palembang. Saya akan tetap di Palembang sampai jompo,” katanya.

Pemberkatan dan peresmian Wisma St. Fransiskus Assisi dan Santa Clara berlangsung dalam Misa Kudus. Usainya, diselenggarakan ramah tamah.
**Kristiana Rinawati
