Sharing Penderitaan dengan Yesus
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)
Doa
“Oh, Tuhanku yang menderita di salib,
Dengan air mata kesedihan aku menatap haru kepadaMu.
Tangan kudusMu dipantek demi kasih umatMu,
Tanganku rindu memeluk wajahMu yang berlumuran darah itu,
Ingin meraba Hati KudusMu yang terbuka,
Supaya aku menemukan damai di hati,
sedikit demi sedikit kasihMu menyembuhkan deritaku,
Walau aku menangis namun ini tangis sukacitaku!” Amin.

Pengajaran
Pengantar
Penderitaan tak mungkin lepas dari hidup manusia. Penderitaan menunggu anak-anak yang lugu dan polos. Semakin berumur, kita semakin melihat atau mengalami bahwa penderitaan itu nyata. Setiap jiwa manusia mengalami penderitaan. Charles Darwin memiliki teori seleksi alam – survival of the fittest. Prinsipnya, “hidup adalah persaingan” – dalam persaingan ada yang menang dan ada yang kalah; di dalamnya ada penderitaan. Penderitaan adalah misteri besar hidup manusia. Jika iman tidak berbicara tentang penderitaan, tak seorangpun bisa mengurai atau menjelaskan tentang misteri ini. Orang Kristiani dan tentu bersatu dalam Yesus, tahu mengapa ada penderitaan, mengapa air mata sering mengalir dalam lembah kehidupan ini.
Bagi kita orang beriman setiap penderitaan adalah “piala dari Allah Bapa yang harus kita minum – Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yoh 18:11). St Ignasius mengingatkan kita, “Kasih Allah kepada kita bisa berwujud penderitaan ataupun sukacita!” Tujuan penderitaan adalah mengajak kita untuk mengambil jarak terhadap ciptaan dan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus.
Penderitaan Mendorong Kita untuk Mengambil Jarak Terhadap Ciptaan
Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, di taman Firdaus tidak ada pendertiaan. Sekarang ada penderitaan, tetapi cinta ada lebih dulu daripada penderitaan. Secara kodrati hati manusia mengarah kepada Allah, ini seperti sungai senantiasa mengalir ke arah lautan, seperti bunga secara kodrati menebarkan harum wewangian. Kita bisa melihat perumpamaan “Anak Hilang – ia telah jatuh ke dalam dosa, namun dalam hatinya senantiasa tersimpan kasih, hingga ia kembali ke rumah bapanya. “Kasih Ilahi adalah obat dan penyembuh bagi mereka yang sakit,” kata St Agustinus.
Makna pertama dari penderitaan ialah mengantar atau membuka kesadaran kita secara halus kepada kebenaran. Penderitaan mengajak kita untuk belajar, seperti seorang pelajar yang harus berkenalan dengan banyak bahasa. Dia harus memahami semuanya. Kita hidup bukan untuk duduk manis di dunia ini dengan hal-hal yang sementara tetapi kita harus menjadi pribadi yang berkualitas dengan nilai abadi. “Di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang!” (Ibr 13:14).
Penderitaan itu seperti cubitan, atau seperti kita tersandung terantuk tembok atau jalan keras sampai kita berdarah. Kemudian kita mencoba meraih apa saja untuk menghibur diri. Tetapi ternyata aneka derita, kekecewaan, kemarahan, luka tak bisa disembuhkan oleh barang ciptaan, sebaliknya semua itu memberi tanda bahwa hanya Allah saja yang tidak berubah dan tetap setia mencintai kita tanpa akhir. Tentang penderitaan, St Ignasius berkata, “Siapakah yang Allah cintai secara khusus? Orang yang sedang menderita. Kepadanya, Allah melepaskan orang itu dari semua sukacita, dan menempatkannya pada hidup yang real saat itu!”
Penderitaan menjadi lampu senter (terang penuntun). Jika mata kita melihat sinarnya, dan jika hati kita berada dalam terang itu, kita akan menemukan apa yang dikatakan oleh Dante, “pendertiaan itu mengawinkan (mempersatukan) kita dengan Allah!” “Aku membawa dia ke padang gurun agar dapat berbicara dari hati ke hati” (bdk Hos 2:13).
Manusia duniawi akan meratapi penderitaan – menganggap saat itu sebagai masa yang sia-sia. Merasa diri tak berguna. Tetapi Allah tahu bagaimana memulihkan keindahan jiwa kita. Ia memurnikan tujuan penderitaan dengan menderita sendiri dan dengan menebusnya. Ia memakunya di kayu salib bersama Sang Penyelamat. “Saya benar-benar gemetar sedih bila melihat seorang pendosa bahagia!,” tandas St Agustinus.
Karena itu, cukuplah bila kita mengikuti dan menikmati jalan penderitaan kita masing-masing atau menderita bersama orang lain dalam situasi tertentu. Semoga kita dan mereka mampu melihat dan merasakan “sebuah tangan terluka yang dengan lembut sedang memurnikannya!”
Penderitaan adalah cara Allah untuk membuka mata orang sombong yang mencari kesenangan di luar Allah. Dalam penderitaan ditunjukkan sebuah akibat dari penyalahgunakan kebebasan. Ini sebuah perbudakan! Namun Allah tetap menunjukkan sebuah percikan tangan lembutNya kepada orang yang mengalami kepahitan akibat mencintai sesuatu atau seseorang lebih dari Dia atau cinta di luar Dia.
Akhirnya penderitaan itu memahkotai kekudusan jiwa-jiwa. Ini sebabnya, mengapa Allah memberi kita sukacita di awal hidup dan memberi penderitaan pada umur selanjutnya. Inilah sebabnya mengapa orang-orang KudusNya mengalami penderitaan lebih dari yang lain dan mengapa Yesus mengalami penderitaan lebih dari kita. Untuk membuat marmer itu indah dibutuhkan tangan pemahat yang handal; berlian menjadi indah membutuhkan pembentukan; dupa harus dibakar supaya memberikan bau harum. Banyak orang ingin menjadi sempurna tetapi sangat sedikit yang mempunyai keberanian atau tekad untuk berusaha dengan sungguh, lebih keras lagi. Berani menderita. Pada ummnya orang menghindari penderitaan tetapi sekaligus ingin menjadi sempurna. Jalan setengah hati ini tidak ada. Karena itu, Tuhan sendiri harus bertindak. Ia senantiasa membantu mereka untuk meniti jalan kesempurnaan. Apa yang Allah lakukan? Ia mengirim mereka untuk menderita dan sengsara.
St Ignasius berkata, ”Kekecewaan dan masalah menuntun seseorang untuk mengambil jarak terhadap hal-hal duniawi, dan ini memberi kontribusi yang sangat besar bagi kesempurnaan jiwa. Tentu bila semua itu dilakukan dengan sabar dan bijak. Yang selalu perlu kita sadari adalah semua kebaikan dan keberuntungan yang layak kita terima adalah berasal dari kasih Allah Bapa!”
Bucket Rohani
“Salib hidupku tak sebanding dengan kasih Yesus kepadaku!”
Yohanes Haryoto SCJ
