Biarkan Yesus Membersihkan Dosa dan Lukamu
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Doa
“Tuhan Yesus, Engkaulah penyembuh Ilahi,
Tatkala aku sehat, Engkau setia menjadi teman perjalanan hidup.
Namun tatkala aku sakit dan berdosa,
Jadilah Engkau penyembuh dan penebusku!” Amin.
Pengajaran
Pengantar
Pada suatu hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada St Mechtilda. St Mechtilda melihat Yesus dikelilingi oleh para suster yang sedang mengaku dosa. Dia menyucikan semua suster itu lalu mempersembahkan mereka kepada Allah Bapa. Setelah menerima penampakan itu St Mechtilda selalu berkata, “Ketika engkau melihat titik hitam dalam jiwamu, engkau harus mengambil sarana manusiawi yang diberikan oleh Tuhan Yesus yaitu mengaku dosa, maka noda itu akan segera dibasuh bersih! Jika engkau membersihkan sendiri, engkau akan semakin terluka tanpa hasil yang baik!” Pengakuan dosa adalah cara menyembuhkan luka dan membebaskan diri dari beban dosa.
Yesus menjadi milikmu hanya untuk melindungimu dari dosa! St Thomas berkata, “Dosa itu negasi cinta (ketiadaan cinta). Itu membuat jurang pemisah antara jiwa dan Allah!” Dosa adalah kuasa yang memisahkan persaudaraan dan menghilangkan rasa dari dua teman yang saling mencintai. Sekali terjadi jurang terbuka, tidak ada kekuatan manusiawi yang mampu menutupnya kembali. Membiarkan situasi berdosa sama dengan membiarkan kejahatan tanpa batas, karena sama dengan melawan Allah. Usaha manusia untuk memperbaikinya sangat terbatas karena sumber perbaikan itu dari ciptaan semata. Hanya kuasa Ilahi saja yang bisa menyembuhkan luka makhluk ciptaan Allah itu. “Siapakah yang bisa mengampuni dosa selain Allah sendiri!” (Mrk 2:7).
Bapa yang baik tidak pernah tega membiarkan anakNya menderita, tidak bahagia. Ia tidak pernah meninggalkan anakNya, kecuali anak itu sendiri yang meninggalkanNya. Ia senantiasa mengundang anakNya untuk kembali kepadaNya, “Kembalilah hai Israel, mukaKu tidak akan muram terhadap kamu sebab Aku ini murah hati…!” (Yer 3:12).
Ingatlah bahwa semua sifat Allah itu kekal. Walau kita menjunjung tinggi belaskasihNya, namun tidak boleh melupakan keadilanNya. Bila kita sedang berada dalam situasi sulit, tepatlah bila kita mengingat mengapa Allah menjelma menjadi manusia. Hanya demi belaskasih kepada kita manusia! BelaskasihNya itu murah bahkan cuma-cuma! Itu yang harus menjadi andalan kita, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya!” (Mzm 144:8).
Kapan Allah menerapkan hukum keadilan dan harus menghakimi manusia? “Sungguh dengan rasa menyesal dan berat, Dia harus bertindak adil. Hal itu terjadi bila setelah lama Ia sabar terhadap pendosa dan dia tidak bertobat! Kalau Ia harus menghukum seseorang, hal itu terjadi karena tidak ada pilihan lain. Harus dilakukan!” (Bussuet).
Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, belaskasih Allah berkembang secara khusus. Yesus tidak hanya peruwujudan Allah yang baik! Tetapi Ia lebih dari yang baik! Ia mengangkat orang miskin, menyelamatkan umat manusia dari dosa, dan menghibur mereka yang sedih. “Ia adalah hati yang penuh belaskasih bagi orang yang menderita karena dosa. Dia tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga menanggung semua konsekuensinya. Ia mempertaruhkan segala-galanya untuk umat manusia yang menjadi milikNya!” (St Thomas).
Sunggh nyata kata malaikat kepada para gembala yang sedang menjaga kawanan ternaknya di padang sunyi, “Sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus!” (Luk 2:10-11). St Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!”(Yoh 1:29). Yesus sendiri menyatakan diriNya, “Aku datang untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat!” Luk 5:32). “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan hidupNya untuk domba-dombaNya!” (Yoh 10:11).
Ia mengasihi para pendosa bukan dengan kasih perasaan, tetapi dengan belaskasih (melibakan seluruh kemampuanNya). Seluruh Injil memuat hatiNya yang penuh belaskasih. Seluruh perhatianNya dicurahkan untuk mencari domba yang hilang, merindukan kembalinya si anak bungsu yang meninggalkan bapanya; Ia menunggu di sumur Yakob seorang wanita Samaria yang dikenal tidak baik. Ia pergi ke rumah Zakeus. Ia hadir di rumah Mateus si pemungut cukai untuk menghadiri perjamuan bersama. Ia mencurahkan kasih IlahiNya kepada Maria Magdalena. Ia tetap memanggil sahabat kepada Yudas yang mengkhianatiNya. Kesimpulannya, “Ia telah mendamaikan kita dengan Allah…!” (2Kor 5:18).
Karena itu, tepatlah bila dikatkan bahwa “Yesus adalah sahabat para pendosa. Dia sendiri yang mampu memahami derita para pendosa; Dia sendiri yang memiliki kerahiman Ilahi yang tak terbatas. Ia sungguh menantikan bertobatnya para pendosa. Dia meratap memaggilnya tetapi banyak jiwa tetap keras hati. MenolakNya. Dia berseru, “Yerusalem, Yerusalem, …berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau!” (Mat 23:37).
Buchet Rohani
“Yesus penyembuh yang penuh belaskasih, tinggallah dan perbaharuilah jiwaku!”
Yohanes Haryoto SCJ
Baca juga: Kunjungan Toleransi Kapolda Jambi ke Paroki St Gregorius Agung Jambi

One thought on “30 Langkah Menuju Kekudusan (32):”