Setahun setelah gempa bumi dahsyat yang melanda Türkiye dan Suriah utara pada tanggal 5-6 Februari, Bruder Blue Marist Georges Sabé berbicara kepada Vatican News tentang trauma yang masih menimpa penduduk Suriah, dan tentang upaya Marist untuk memulihkan harapan di tengah kesulitan yang diperparah oleh 13 tahun perang dan sanksi.

Setahun yang lalu, gempa berkekuatan 7,8 skala Richter mengguncang Türkiye tenggara dan Suriah utara, disertai ribuan gempa susulan, yang mengakibatkan hampir 60.000 kematian. Di Suriah, negara yang telah dilanda perang selama tiga belas tahun, bencana tersebut menewaskan antara 6.000 dan 10.000 orang.
Setahun setelah malam tanggal 6 Februari, ketakutan akan gempa baru yang dahsyat masih menghantui penduduk di wilayah yang terkena dampak, yang sudah ditandai dengan kekerasan perang dan kini menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang telah menjerumuskan penduduk ke dalam kemiskinan.
Ditambah lagi dengan penghentian bantuan pangan baru-baru ini dari Program Pangan Dunia PBB (WFP), yang memberi makan hampir 5,6 juta warga Suriah, karena kekurangan dana.
Brother Blue Marist Georges Sabé tinggal di Aleppo, salah satu kota di barat laut Suriah yang paling terkena dampak gempa bumi.
Dalam sebuah wawancara dengan Alexandra Sirgant dari Vatican News, Brother Blue memohon kepada komunitas internasional untuk tidak “meninggalkan warga yang menderita”, dan juga menjelaskan pekerjaan sehari-harinya untuk membantu memulihkan harapan bagi penduduk Aleppo.
Kerusakan Material dan Trauma Psikologis
500 hingga 600 keluarga di kota yang rumahnya hancur masih mengungsi. Banyak warga lainnya yang masih tinggal di rumah mereka yang rusak meskipun kondisinya tidak aman karena tidak ada tempat lain untuk dituju dan rekonstruksi belum dilakukan.
Selain kerugian materiil, jelas Brother Sabé, terdapat trauma psikologis: “Ketakutan telah menguasai banyak orang, baik anak-anak, orang dewasa, remaja, maupun orangtua,” katanya. “Selama beberapa waktu, banyak orang yang terus tidur dengan mengenakan pakaian karena takut kejadian serupa terulang kembali. Ada anak-anak yang hingga saat ini sangat sulit berpisah dengan orangtuanya pada malam hari, bahkan ada yang pada siang hari.”
Oleh karena itu, membangun kembali rasa aman masyarakat adalah salah satu prioritas saat ini, bersama dengan membangun kembali rumah-rumah, kata Brother Blue Marist, sambil mencatat bahwa gempa bumi menambah trauma perang.
Sanksi Internasional Terhadap Suriah Berdampak Pada Warga
Salah satu akibat perang adalah krisis ekonomi akibat sanksi yang dijatuhkan terhadap Suriah. Meskipun komunitas internasional mengklaim bahwa sanksi tersebut tidak ditujukan terhadap rakyat Suriah, sanksi tersebut sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari penduduk Suriah.
“Misalnya, sekarang sedang musim dingin, dan listrik hanya tersedia dua jam sehari. Artinya, kami terus mencari cara agar tetap hangat,” jelas Brother Sabé.
Bantuan Internasional yang Langka
Brother Marist lebih lanjut menyesalkan terbatasnya bantuan kemanusiaan dari LSM dan organisasi internasional. Ia mengenang, sejak 1 Januari 2024, Program Pangan Dunia (WFP) PBB telah menghentikan semua bantuan ke Suriah.
“Secara pribadi, saya percaya bahwa dalam hal ini, kita tidak mempunyai hak untuk mengabaikan populasi yang menderita,” katanya.
“Apa hak kita saat ini untuk menerima bahwa suatu populasi hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan?”
Kita Harus Hidup Bermartabat
Oleh karena itu, ia memohon bantuan dari komunitas internasional.
“Kita harus hidup bermartabat. Kami bukan pengemis, tapi kami telah mengalami begitu banyak kesulitan, begitu banyak masalah, dan begitu banyak kemalangan sehingga bantuan yang datang dari umat manusia harus membantu kami bangkit kembali, bukan membuat kami menjadi pengemis.”
Harapan Masih Mungkin
Meski gambarannya suram, menurut Brother Sabé, masih ada ruang untuk harapan berdasarkan iman.
“Kita harus percaya bahwa harapan itu mungkin dan Tuhan tidak meninggalkan kita dan berdasarkan harapan ini, kita harus bertemu dengan orang lain,” ujarnya.
“Iman kami membantu kami untuk maju.”
Dan inilah tujuan utama kerja Blue Marists di Aleppo. “Kami berupaya untuk terus menabur harapan dengan cara yang nyata: melalui bantuan pangan, dukungan psikologis, pendidikan, peningkatan pembangunan manusia, dan bantuan keuangan untuk membayar sewa.” **
Alexandra Sirgant/Lisa Zengarini (Vatican News)
Diterjemahkan dari: Syrians still living in fear of another earthquake and in need of aid
Baca juga: Kelompok Kedua Anak-anak Gaza Tiba di Italia untuk Mendapatkan Perawatan Medis
