Perkawinan atau Selibat, Mana yang Lebih Suci?

Perkawinan dan selibat merupakan dua pilihan panggilan dalam Gereja Katolik. Pertanyaannya, yang mana lebih suci: perkawinan atau selibat?

“(Kecenderungan sekarang), orang menganggap tinggi (nilai hidup) selibat dan menganggap rendah perkawinan,” kata Romo Yohanes Aristanto MSF.

Benarkah anggapan seperti ini? Romo Aris mengatakan bahwa kesucian hidup perkawinan dan selibat kaum religius adalah sama. Perkawinan Katolik, jelas Romo Aris, punya sisi teologi. Dia menegaskan bahwa perkawinan bukan sekedar bagian dari realitas hidup.

Romo Yohanes Aristanto MSF (kanan) memberikan materinya dalam Hari Studi Imam Keuskupan Agung Palembang, Selasa (05/3) | Foto: Komsos KAPal

“Namun, (perkawinan) ada dimensi teologi. Allah berkarya di dalamnya. Sisi teologi perkawinan itu dihidupi dalam terang rencana Allah, yaitu penciptaan dan keselamatan,” kata Romo Yohanes Aristanto MSF, membuka sesi Hari Studi Imam Keuskupan Agung Palembang, Selasa (05/3) pagi.

Hari studi yang berlangsung efektif selama tiga hari ini mengusung tema Keluarga Kristiani sebagai Gereja Rumah Tangga: Sebuah Refleksi atas Pelayanan Pastoral para Imam. Romo Aris, memberikan materi tentang Teologi dan Pastoral Keluarga.

Aspek Teologi, bagaimana perkawinan itu dihayati sesuai dengan hukum Tuhan dan ajaran Gereja. Pastoral, bagaimana cara para imam di Keuskupan Agung Palembang mendampingi keluarga-keluarga Katolik menuju kekudusan.

Aspek Teologi Perkawinan

Gereja Katolik sangat menjunjung tinggi nilai sebuah perkawinan. Bahkan martabat perkawinan diangkat dalam Sakramen. Romo Aris mengisahkan alurnya. Mulanya, persekutuan kasih dihidupi oleh Allah Tritunggal.

“Allah Triniter (Tritunggal) menghidupi misteri persekutuan cinta kasih antarpribadi,” jelas Romo Aris.

Lantas, Allah menggoreskan kodrat kasih-Nya dalam diri manusia, citra yang diciptakan-Nya. Inilah yang memampukan manusia untuk hidup dalam persekutuan kasih, baik antarpasangannya, antarkelompok manusia, dan antarpribadi manusia dengan Allah.

“Persekutuan antara Allah dan umat-Nya mencapai pemenuhannya dalam Yesus Kristus. Yesus mewahyukan ‘kebenaran asli’ tentang pernikahan. Kebenaran ‘pada awal mula’, dengan membebaskan manusia dari ‘ketegaran hatinya’,” jelas Romo Aris.

Ketegaran hati yang dimaksud Yesus adalah perceraian yang ‘dibolehkan’ Musa, menyimpang dari Hukum Allah.

Ratusan peserta mengikuti sesi materi tentang teologi dan pastoral keluarga | Foto: Komsos KAPal

“Berdasarkan sifat sakramental, pernikahan suami-istri saling terikat dan sama sekali tak terpisahkan,” papar Romo Aris.

Campur tangan Allah inilah yang membuat perkawinan bukan sekedar realitas kehidupan. Perkawinan justru menjadi salah satu cara Gereja menghidupi kekudusan.

“Bila pernikahan tidak dihargai, tidak akan ada keperawanan yang dikuduskan kepada Allah atau selibat.”

Bahkan, kata Romo Aris, banyak yang menjadi orang kudus dalam Gereja Katolik karena perkawinan mereka. “Kalau kita lihat dari awal Gereja, ada tokoh-tokoh luar biasa yang menjadi santo dan santa (dari perkawinan). Hanya tema ini tenggelam karena banyaknya religius dan uskup yang menjadi santo santa,” jelasnya.

Santo Louis Martin dan Santa Marie-Azélie Guérin | Foto: wikipedia

Dia mencontohkan pasangan Santo Louis Martin dan Santa Marie-Azélie Guérin, orang tua Santa Theresia Lisieux. “Mereka adalah pasangan yang berjalan bersama menuju surga. Anak cowok mereka meninggal dunia. Lima anak perempuan mereka menjadi suster,” kisahnya.

Apakah Louis Martin dan Santa Marie-Azélie Guérin adalah pasangan sempurna sehingga mereka digelari kudus? Tidak. Romo Aris mengatakan, justru dalam ketidaksempurnaan keluarga, kita menemukan orang kudus.

“Maka istilah ecclesia domestica tidak untuk keluarga sempurna, tapi untuk semua keluarga dalam perjalanan menuju surga. Keluarga persekutuan mesra kehidupan dan cinta kasih, yang tugas utamanya menjaga cinta, mengungkapkan cinta, dan menyalurkan cinta.”

Pastoral Perkawinan

Pendampingan perkawinan yang ditawarkan Romo Aris berpola maraton. Maksudnya pendampingan yang berkelanjutan. Dia mencontohkan seperti kehidupan imam. Calon imam disiapkan dengan matang sebelum menerima rahmat tahbisan.  Setelahnya pun mereka masih mendapatkan pendampingan. Pola pendampingan yang sama pun bisa diaplikasikan dalam perkawinan Katolik.

“Demikian juga halnya keluarga, yang menjadi bagian besar dari umat Allah. Mereka juga perlu mendapatkan persiapan perkawinan yang memadai, pendampingan yang memadai, dan pendampingan pasca perkawinan yang memadai. Inilah yang saya maksudkan pastoral keluarga yang maraton, yang membutuhkan kontinuitas, tenaga, ketekunan,” katanya.

Romo Aris menawarkan bentuk pastoral perkawinan. Pertama, pastoral perjumpaan di tingkat lingkungan. Kedua, pembinaaan rutin keluarga di paroki. Ketiga, pendampingan pra dan pasca nikah tingkat paroki, kevikepan, dan keuskupan. Keempat, konseling dan advokasi di tingkat paroki dan keuskupan. Kelima, kerjasama dengan asosiasi dan komununitas kategorial.

Komunitas kategorial keluarga yang dimaksud Romo Aris misalnya komunitas Marriage Encounter (ME), Catholic Family Ministry (CFM), dan kelompok tulang rusuk. “Bahkan juga melibatkan rekan-rekan kita dari luar Gereja, yang punya keprihatinan yang sama, tapi juga punya (pola) pendampingan yang kurang lebih sama dan agak sedikit berbeda dengan apa yang kita punya.”

**Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.