Menjadi Katekis Lalu Imam: Yesus Memilih Romo Frans

“Sungguh, bahwa bukan pilihannya untuk menjadi katekis. Perjalanan hidupnya diarahkan oleh Yesus sendiri, yang pada akhirnya menjadi imam walaupun mengawali sekolahnya sebagai katekis. Bukan Romo Frans yang memilih Tuhan. Maka seluruh karya, seluruh hidup, seluruh perbuatan, pikiran, dan perasaannya adalah kehormatan bagi Dia.”

(Mgr. Yohanes Harun Yuwono – Uskup Agung Palembang)
Setelah lebih dari dua hari jenazah Romo Frans de Sales SCJ disemayamkan di Paroki Hati Kudus sejak meninggalnya pada Minggu (7/04) pukul 20.51 WIB, tibalah hari ia dimakamkan. Sebelumnya, dirayakan Ekaristi Requiem, Rabu (10/4), dengan selebran utama Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Para konfrater Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) menyanyikan Ecce Venio sebelum penutupan peti | Foto: Komsos Paroki Hati Kudus

Meski dilangsungkan pagi hari, namun Gereja Paroki Hati Kudus tetap penuh terisi umat. Ini menandakan betapa berarti kehadiran Romo Frans semasa hidupnya di hati umat. Bahkan banyak yang menangisi kepergian gembala yang baru Oktober 2023 kemarin merayakan 25 tahun imamatnya ini.

“Hidup manusia sesungguhnya berada dalam bingkai tangisan. Ketika lahir, dia sendiri harus menangis. Ketika dia meninggal, orang lain menangisinya,” kata Mgr. Harun, mengawali homilinya.

Dunia, kata Mgr. Harun adalah tempat penuh penderitaan. Dia mengutip Kitab Wahyu yang mengatakan bahwa kehidupan sesungguhnya bukan di dunia ini.

“Dalam Kitab Wahyu dikatakan, kehidupan yang sesungguhnya ada di tempat lain. Di situ penuh dengan sukacita, sebab Tuhan sendiri akan menghapus air mata dari pipi semua orang yang meninggal.”

Uskup menjelaskan makna kematian seturut iman Kristen. Kematian yang manusia alami di dunia ini, bukan akhir dari segalanya. Di dunia, kita mengenal kehidupan badan, namun dalam iman, ada kehidupan rohaniah. Kehidupan rohaniah inilah yang dibangkitkan, saat orang Kristen beralih dari dunia ini kepada Tuhan.

Semulia apapun hidup di dunia ini, katanya, tidak sebanding dengan kehidupan kekal yang telah disediakan Tuhan. Ia mencontohkan bagaimana keadaan tubuh Tuhan Yesus saat Dia bangkit. “Para murid-Nya hampir tidak mengenali-Nya, karena kehidupan-Nya sungguh ditransformasikan. Berbeda dengan yang ada sekarang. Yesus tahu benar, bagaimana kehidupan (di dunia) ini akan habis, tetapi justru ketika kehidupan ini habis, dimulai kehidupan yang baru,” jelasnya.

Romo Frans, kata Uskup Harun, telah mempersembahkan hidupnya secara total kepada Tuhan dengan menjadi seorang biarawan imam. Dia juga mempersembahkan semua talentanya untuk Tuhan.

“Maka dia akan mendapatkan kata yang diucapkan oleh Yesus, ‘dia akan dihormati oleh Bapa.’ Bukan dia yang memilih Yesus, tetapi Yesus yang telah memilih dia dan karena itu, dia akan mendapatkan privilege (keistimewaan). Mendapatkan status yang terhormat, karena telah berkenan di hati Bapa,” kata uskup asal Lampung ini.

Tentang perjalanan imamat Romo Frans, Uskup Harun mengatakan, bahwa sesungguhnya bukan dia yang memilih menjadi imam, tapi Yesuslah yang memilihnya.

Menutup homilinya, dia mengajak ratusan umat yang hadir untuk menyadari, bahwa hidup di dunia ini terbatas. Akhirnya, semua manusia akan menyongsong kemuliaan abadi di Surga. Tentunya semua ini harus diisi dengan kesetiaan kepada Allah.

“Setia kepada Allah dengan mengikuti Yesus Kristus ke manapun dan dalam situasi apapun,” katanya.

Usai homili, dilanjutkan Liturgi Ekaristi dan pemberkatan jenazah, tanah, serta bunga yang akan digunakan dalam ritus pemakaman. Setelahnya, para imam SCJ mengitari peti Romo Frans dengan menyanyikan lagu Ecce Venio sebagai simbol perpisahan dengan saudara mereka.

Penutupan peti dilakukan dengan adat Maumere, sebelum akhirnya jenazah diberangkatkan ke Pemakaman Taman Getsemani di Kompleks Charitas Palembang.

**Kristiana Rinawati

Baca juga: Bacaan Liturgi Selasa, 30 April 2024

One thought on “Menjadi Katekis Lalu Imam: Yesus Memilih Romo Frans

Leave a Reply

Your email address will not be published.