Rapat Anggota Signis Indonesia ke-50 mengusung tema Media dan Pastoral Ekologi Integral: Berjalan Bersama Membangun Alam Ciptaan yang Utuh dan Harmonis. Tema ini sejalan dengan fokus pastoral Keuskupan Ruteng, yang menjadi tuan rumah rapat yang dihadiri oleh hampir 30 anggota Signis Indonesia. Tema ini lantas didalami dalam hari studi pada Selasa (25/6).
Uskup Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap., keynote speaker pagi itu, mengingatkan seruan Paus Fransiskus tentang ekologi. Dia menyinggung Ensiklik Laudato Si dan Anjuran Apostolik Laudate Deum.

Tentang kedua dokumen ini, Bapak Uskup Agung Medan berkata, “Laudate Deum merupakan kelanjutan Ensiklik Laudato Si tentang perawatan bumi, rumah kita bersama. Laudato Si diambil dari Pujian St. Fransiskus Asissi, Gita Sang Surya. St. Fransiskus menyapa seluruh alam ciptaan sebagai saudara, bahkan maut pun disapa sebagai saudari.”
Penting bahwa Uskup Sipayung mengutip kalimat penutup Laudate Deum. “Ketika manusia mengambil peranan Tuhan, mereka menjadi musuh terburuk bagi diri mereka sendiri.” Manusia mengambil peranan Tuhan melalui kejahatan terhadap alam ciptaan.

“Dengan eksploitasi alam,” kata Uskup Sipayung.
Anjuran Apostolik Laudate Deum, katanya, penting bagi umat Katolik Indonesia. “Harus dihidupi dan menjadi inspirasi bagi umat beriman.”

Belajar dari Keuskupan Ruteng
Fokus pastoral ekologi integral dirumuskan menggunakan metode melihat, menilai, dan memutuskan. Melihat situasi krisis ekologis yang terjadi di wilayah Keuskupan Ruteng.

Fenomena di Keuskupan Ruteng
RD Benediktus Gaguk memaparkan “pencemaran masif (kuat) di udara, laut, tanah, dan emisi karbon. Sampah pangan yang bertumpuk di mana-mana. Kerusakan lingkungan seperti hutan, terumbu karang, lahan pertanian, pantai, krisis pemanasan global, dan perubahan iklim. Isu ini juga menjadi keprihatinan dunia.”
Lebih lanjut, terdampak cuaca ekstrim yaitu pola curah hujan yang tidak terprediksi, kekeringan, banjir, dan angin topan. Juga terjadi krisis pangan yang mengakibatkan risiko kesehatan manusia dan hewan. Misalnya saja stunting.
Manusia, kata imam yang disapa Romo Beben, menjadi penyebab utama krisis ekologis. “Melihat alam sebagai objek eksploitatif untuk memenuhi kebutuhan manusia, gaya hidup manusia yang materialistis, konsumtif, hedonis.”

Menilai Dari Ajaran Gereja Katolik dan Kultur Budaya Manggarai
Alam dan seluruh ciptaan adalah mahakarya Allah Tritunggal Mahakudus. “Bapa sumber segala sesuatu. Anak (Yesus Kristus) cerminan Bapa yang segala sesuatu diciptakan (untuk-Nya), Roh ikatan kasih yang tak terbatas dengan menghidupkannya (segala ciptaan).”
Fokus Pastoral Ekologi Integral dikembangkan dalam prinsip-prinsip etis. Setiap ciptaan Allah selalu dikatakan Kitab Kejadian baik adanya. Ciptaan yang berbeda-beda menciptakan harmoni. “Allah menciptakan dunia dalam tatanan teratur dan terpadu.”
Allah yang menciptakan, maka Allah yang memiliki segala ciptaan yang ada di alam semesta ini. Ini yang menyebabkan manusia dilarang mengeksploitasi alam, menggeruk kekayaan alam dengan egois tanpa memerhatikan keberlanjutan alam ciptaan.
Selain ajaran Gereja, budaya Manggarai pun sangat dekat dengan alam semesta. “Kosmos disebut orang Manggarai sebagai awang agu tara lino atau langit dan bumi. Mereka memandang semua ciptaan seperti jaring laba-laba raksasa, yang saling terhubung oleh benang komunikasi misteri yang teratur, sakral, dan harmonis,” terang Romo Beben. Bahkan orang Manggarai memandang alam semesta sebagai ibu atau rahim yang memberi kehidupan secara gratis tanpa batas.

Dari ajaran Gereja dan budaya ini, Gereja Katolik Keuskupan Ruteng berkomitmen menuju Gereja yang ekologis. Semua ini terwujud dalam lima tugas Gereja.
Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Ruteng RD Stanis Harmansi, memaparkan realisasi fokus pastoral ekologi integral yang berjalan di keuskupannya. Dari pemaparan ini, anggota Signis Indonesia belajar melalui Keuskupan Ruteng, bagaimana mereka menyosialisasikan serta mengevaluasi program pastoral ekologi integral ini ke seluruh paroki, kelompok kategorial, dan pemerintahan sehingga program ini berjalan di seluruh wilayah keuskupan.
Studi ditutup dengan pemberian cinderamata dan penanaman Pohon Signis, yang terdiri dari pohon alpukat dan pohon flamboyan.
** Kristiana Rinawati
