
Setelah dua hari disemayamkan di Paroki Hati Kudus, pada hari Senin (28/4), Romo Andreas Suparman SCJ sebagai provinsial SCJ memimpin misa requiem untuk mengiringi kepergian Romo Antonius Joko SCJ. Imam kelahiran Lampung, 4 Januari 1977 ini meninggal dunia pada hari Sabtu (26/4) pukul 00.22 WIB.
Romo Joko sempat berkarya di Paroki Allah Mahamurah Pasang Surut, Paroki St. Isidorus Singkut, Paroki St. Mikael Tanjung Sakti, Paroki St. Yohanes Penginjil Bengkulu, dan Paroki St. Pius X Gisting. Paroki Hati Kudus Palembang menjadi rumah terakhirnya. Romo Joko dikenal senang membagikan renungan lewat media sosial sebagai sarana pewartaan dan pemberian dirinya. Selain itu, beliau juga selalu memberikan pelayanan pada lansia, orang sakit, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Pendidikan adalah hal utama yang selalu diusahakannya bagi anak-anak muda di paroki tempat ia berkarya.
Romo Yustinus Eko Yuniarto SCJ salah seorang rekan tahbisan imam Romo Joko membagikan kenangannya bersama almarhum. Mereka menerima sakramen imamat di Gereja Santo Fransiskus de Sales Palembang pada tahun 2007. Di mata Romo Eko, Romo Joko merupakan sosok yang lembut, suka olahraga, lebih banyak diam, dan suka menasehati.
“Semua media sosialnya berisi renungan. Itulah cara dia merefleksikan imannya. Sebelum meninggal, yang dipostingnya adalah tentang kepergian Bapa Paus. Kalimat itu menjadi kalimatnya: kalau aku pergi, jangan lihat aku sebagai siapa-siapa. Dari sini kita lihat, bahwa apa yang dia renungkan menjadi identitas dirinya,” katanya.

Melalui peristiwa ini, Romo Eko ingin umat meneladan Santo Paulus yang bersukacita dalam segala hal meskipun ia kesulitan dan mengalami penderitaan. Sebagai umat beriman, kita mesti bersukacita dalam Kristus, bahkan dalam keadaaan kita yang sulit sekalipun.
Sukacita akan Kristus tidak boleh hilang. Hidup untuk melayani. Itulah yang Romo Eko lihat dari sosok Romo Joko.
“Romo Joko adalah orang baik. Hatinya baik. Kematiannya di oktaf paskah dan minggu kerahiman ilahi. Ini istimewa. Ada begitu banyak orang yang diselamatkan karena sentuhan rohaninya dan kita yang berhimpun di tempat ini merasakan hal yang sama,” kata Romo Eko menutup sharing-nya.
Sutrisno, kakak kandung Romo Joko menyampaikan ungkapan syukurnya atas perhatian para rekan imam dan umat kepada Romo Joko sejak awal perjalanan Romo Joko di Paroki Hati Kudus hingga ia menghadap Bapa. Beliau menuturkan bahwa sejak kecil adiknya ini memang sulit untuk dibawa berobat ke rumah sakit. Sebelum kepergiannya, Romo Joko mengunggah beberapa konten mengenai kematian Paus Fransiskus.
“Semoga romo menjadi misdinar paus di surga. Semoga jadi misdinar ya, romo,” tutur Sutrisno sambil menatap peti Romo Joko.

Sutrisno mengenang kembali peran umat Stasi Cahaya Mas dalam perjalanan panggilan Romo Joko. Saat itu, Sutrisno menerangkan, keluarga mereka tidak memiliki uang untuk ongkos Romo Joko berangkat ke seminari menengah di Palembang. Maka, salah satu umat Stasi Cahaya Mas menjual ubinya dan hasilnya diberikan pada Romo Joko untuk berangkat ke seminari.
“Romo itu orang baik. Pergilah romo dengan damai. Ini hari yang baik untuk romo. Maturnuwun.”
Selanjutnya, keluarga dan umat serta para konfrater memberikan penghormatan terakhir. Jenazah dimakamkan di Taman Getsemani, Charitas Hospital.



**Maria Sylvista
