Yesus Mengenal Kita

Yesus Mengenalmu | Foto: Pinterest

Dalam Yohanes 20:11–18, kita membaca kisah yang sangat menyentuh tentang Maria Magdalena yang menangis di depan kubur Yesus. Ia tidak tahu bahwa Yesus telah bangkit. Dalam kesedihannya, ia bahkan tidak mengenali Yesus ketika Ia berdiri di dekatnya. Baru ketika Yesus menyebut namanya, “Maria,” barulah ia sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Tuhan yang ia kasihi. Panggilan pribadi itu membuka matanya dan mengubah kesedihan menjadi sukacita besar.

Renungan ini mengajarkan bahwa Yesus mengenal setiap kita secara pribadi. Dalam momen duka dan kehilangan, kita sering kali tidak dapat melihat kehadiran Tuhan karena hati kita dipenuhi dengan kesedihan dan ketakutan. Namun, Yesus tetap hadir di dekat kita, bahkan saat kita merasa Ia jauh. Ia memanggil nama kita dengan lembut dan penuh kasih, dan jika kita membuka hati, kita akan mengenali-Nya.

Maria adalah orang pertama yang dipilih Yesus untuk menyaksikan kebangkitan-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menghargai kasih dan kesetiaan. Maria tidak lari ketika Yesus disalibkan, dan ia tetap mencari-Nya bahkan setelah kematian-Nya. Imannya dan kasihnya membawa dia pada perjumpaan yang mengubah hidup. Tuhan memakai orang biasa yang hatinya terbuka untuk menjadi pembawa kabar luar biasa: “Aku telah melihat Tuhan!”

Yesus tidak hanya menghibur Maria, tetapi juga memberinya tugas. Ia berkata, “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakan kepada mereka…” (ayat 17). Perjumpaan pribadi dengan Tuhan seharusnya tidak berhenti pada pengalaman emosional saja, tetapi dilanjutkan dengan misi dengan membagikan apa yang telah kita lihat dan alami kepada orang lain. Seperti Maria, kita dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan dan pembawa kabar baik bagi dunia yang penuh ketakutan dan ketidakpastian.

Hari ini, Tuhan juga memanggil setiap kita dengan nama. Ia ingin hadir dalam tangis, keresahan, dan pencarian kita. Apakah kita cukup peka untuk mendengar suara-Nya? Apakah kita mau merespons panggilan-Nya dan pergi membagikan kasih dan kebenaran-Nya kepada orang lain? Kiranya kita, seperti Maria, tidak hanya mencari Tuhan, tetapi juga mengalami-Nya dan menjadi utusan-Nya.

Mari bermenung, Tuhan memberkati.

** Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.