“Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” (Mat 13:16)

Hari ini Gereja merayakan peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna, dua pribadi sederhana namun amat mulia di mata Allah. Mereka adalah orangtua dari Santa Perawan Maria dan merupakan bagian dari garis keturunan yang darinya lahir Sang Penyelamat dunia. Meski Kitab Suci tidak mencatat secara rinci kisah hidup mereka, namun tradisi suci menghormati mereka sebagai pasangan yang saleh, tekun dalam doa, dan setia dalam pengharapan. Hal ini kelak menjadi sebuah fondasi rohani yang kuat bagi Maria, sang Bunda Allah.
Dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan betapa berharganya rahmat yang diterima oleh para murid: melihat dan mendengar secara langsung Sang Mesias. Banyak nabi dan orang benar sebelum mereka sangat merindukan momen tersebut, namun belum mendapat kesempatan. Pesan ini mengundang kita untuk menyadari anugerah besar yang kita miliki: kita hidup dalam terang Injil, mengenal Yesus, dan menerima-Nya setiap hari dalam sabda dan sakramen.
Renungan ini menjadi semakin bermakna ketika dikaitkan dengan kehidupan Yoakim dan Anna. Mereka tidak melihat pelayanan Yesus secara langsung, namun mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana keselamatan Allah melalui tugas mereka sebagai orangtua Maria. Dalam kesederhanaan hidup dan kesetiaan mereka kepada Allah, Yoakim dan Anna menjadi tempat tumbuhnya benih iman, yang kemudian berbuah dalam ketaatan Maria saat menerima kabar gembira.
Kita pun dipanggil untuk meneladani mereka: menjadi pribadi-pribadi yang membangun keluarga sebagai ladang subur bagi iman, harapan, dan kasih. Dunia saat ini sangat membutuhkan keluarga-keluarga yang mencerminkan kehadiran Allah, tempat di mana anak-anak mengenal kasih Tuhan melalui kasih orangtuanya. Dalam keluarga yang demikian, mata dan telinga rohani anak-anak pun dibuka untuk melihat dan mendengar karya Allah yang hidup.
Marilah kita mensyukuri anugerah iman yang telah kita terima, dan merenungkan: apakah kita sungguh melihat dan mendengar Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita, seperti Santo Yoakim dan Santa Anna, menjadi saluran rahmat dan pewaris iman bagi generasi sesudah kita? Semoga keluarga-keluarga Kristiani zaman ini, dengan segala tantangannya, tetap setia menjadi tanah subur bagi pertumbuhan panggilan suci, dalam terang Injil dan kekuatan kasih Allah.
Mari bermenung, Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
