21 Suster Kongregasi FCh Ikrarkan Pembaruan Kaul di Palembang: Setia Menghayati Panggilan

“Pada pesta kelahiran Santa Perawan Maria hari ini, kita bersama berdoa untuk 21 suster yang akan memperbarui profesi mereka. Semoga mereka senantiasa bahagia dan setia dalam menapaki hidup panggilan. Semoga dengan pertolongan rahmat Allah, mereka yang telah berusaha setia dalam menghayati kaul yang diikrarkan kepada-Nya semakin bertumbuh dalam hidup persaudaraan di dalam Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas”.

Demikian disampaikan oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam pengantarnya saat membuka Perayaan Syukur Pembaruan Kaul Sementara 21 suster Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) pada Senin (8/9/2025) petang.

Mgr. Yohanes Harun YuwonoUskup Agung Palembang

Dalam Ekaristi yang dirayakan di Kapel Santa Perawan Maria yang Terkandung Tanpa Noda Biara Charitas Palembang ini, Bapa Uskup juga menyampaikan harapannya agar para suster setia menghayati panggilannya. “Kiranya hari demi hari mereka dimampukan untuk semakin menghayati panggilan hidup ini sebagai wujud cinta mereka kepada Tuhan dan sesama”.

Suasana penuh syukur dan sukacita ini dihadiri oleh ratusan umat terdiri dari para suster, keluarga, dan undangan lainnya, serta sejumlah imam sebagai konselebran, antara lain Pastor Kepala Paroki St. Yoseph dan Dekan Dekanat Palembang, Pastor Hyginus Gono Pratowo dan Rektor Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, Pastor Titus Waris Widodo SCJ. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan kebersamaan Gereja dalam mendukung langkah mereka yang kembali mempertegas komitmen panggilan hidup membiara dalam ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan sesuai teladan Santo Fransiskus Assisi.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono bersama dengan Pastor Hyginus Gono Pratowo dan Pastor Titus Waris Widodo SCJ

Mewakili para yubilaris, Sr. M. Ludovika FCh menyampaikan bahwa secara keseluruhan terdapat 30 suster dari Kongregasi FCh yang membarui kaulnya pada waktu yang sama di tiga tempat berbeda. Ada 21 orang yang memperbarui kaul di Palembang, yaitu  Sr. M. Rita FCh, Sr. M. Mariana FCh, Sr. M. Aline FCh, Sr. M. Bertaline FCh, Sr. M. Christy FCh, Sr. M. Carellisca FCh, Sr. M. Dian FCh, Sr. M. Getridine FCh, Sr. M. Ludovika FCh, Sr. M. Rianita FCh, Sr. M. Thifanny FCh, Sr. M. Valeria FCh, Sr. M. Sesilia FCh, Sr. M. Venta FCh, Sr. M. Viona FCh, Sr. M. Alfonsin FCh, Sr. M. Chalista FCh, Sr. M. Theresita FCh, Sr. M. Anisa FCh, Sr. M. Celestina FCh, dan Sr. M. Viannita FCh; 7 orang di Yogyakarta, yaitu  Sr. M. Genoveva FCh, Sr. M. Franzeina FCh, Sr. M. Filomena FCh, Sr. M. Matilda FCh, Sr. M. Rafael FCh, Sr. M. Verolista FCh, dan Sr. M. Odiva FCh; dan 2 orang di Jakarta, yaitu Sr. M. Donata FCh dan Sr. M. Helena FCh.

21 Suster FCh memperbarui kaul di Palembang
7 Suster FCh memperbarui kaul di Yogyakarta
2 Suster FCh memperbarui kaul di Jakarta

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes mengajak semua yang hadir untuk merenungkan kisah Ruth dan Boas. Menurutnya, kesetiaan Ruth kepada Naomi, meskipun tanpa kepastian masa depan, adalah kisah tentang kesucian hidup, kesetiaan iman, dan keluhuran hati. Ia berani mempertaruhkan hidupnya yang penuh ketidakpastian demi tetap mendampingi mertuanya. “Ruth tetap teguh meski tanpa harapan dan dengan iman yang mendalam ia berkata, ‘Allahmulah Allahku’. Meskipun tanpa jaminan kehormatan atau keturunan, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan” terangnya.

Para umat yang menghadiri Perayaan Syukur Pembaruan Kaul Sementara di Palembang

Selanjutnya, Bapa Uskup juga menegaskan keluhuran hati Ruth yang memilih mengikuti Naomi bukan demi kepentingan dirinya sendiri, melainkan karena kasih dan kepeduliannya agar mertuanya tidak hidup dalam kesengsaraan di masa tuanya. “Ia rela mengorbankan mimpi dan kepentingan pribadi demi cinta yang tulus. Kesetiaan Ruth adalah wujud iman dan kasih yang sejati, sebuah kesetiaan sampai mati”.

Selain itu, Mgr. Yohanes juga mengangkat sosok Boas sebagai teladan moralitas yang tinggi dan pribadi yang tidak mudah tergoda oleh kenikmatan duniawi meskipun memiliki kuasa serta kedudukan. Justru melalui integritas dan kejujurannya, ia menjadi pribadi yang diberkati Tuhan.

Menurutnya, Boas dapat menjadi inspirasi bagi para imam dalam menghayati hidup imamat, yakni menjaga kemurnian hati dalam moralitas. “Dihadapkan pada godaan kenikmatan duniawi, Boas ternyata manusia laki-laki yang baik, yang penuh kesadaran, serta tidak hilang kontrol. Dia justru memberkati Ruth, bukan tergoda untuk menodainya kendati ia adalah laki-laki yang berhak atas Ruth karena hukum Levirat”, tegas Bapa Uskup.

Para romo yang menghadiri Perayaan Syukur Pembaruan Kaul Sementara di Palembang

Penegasan Komitmen

Bagi para suster FCh kegiatan yang digelar setiap tahun ini, dimaknai bukan sekedar sebagai rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbarui cinta dan komitmen mereka kepada Tuhan. Kaul sementara dijalani sebagai masa pembinaan sebelum mereka mengikrarkan kaul kekal. Pembaruan ini menjadi kesempatan untuk semakin mewujudkan kematangan dalam spiritualitas, pelayanan, dan persaudaraan, sehingga kelak dapat memberikan diri seutuhnya kepada Allah dan Gereja.

**Fr. Bednadetus Aprilyanto

Foto: Dokumentasi FCh

Leave a Reply

Your email address will not be published.