Keuskupan Agung Palembang menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan dua kegiatan besar di lingkup Gereja Katolik, yakni Temu Kanonis Regio Sumatera V dan Uji Coba Modul Safeguarding Jaringan Nasional Caritas Indonesia. Kegiatan yang digelar di Wismalat Podomoro Banyuasin, Sumatera Selatan pada 23-25 September 2025 ini dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Pastor Yohanes Kristianto pada Selasa (23/9/2025). Tampak hadir mendampingi sebagai konselebran adalah Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang, Pastor Laurentius Rakidi; Koordinator Asosiasi Kanonis Regio Sumatera, Pastor Benyamin A.C. Purba OFMCap, dan sejumlah imam lainnya.

Temu Kanonis dengan tema Mewujudkan Hukum Kasih Bersama Peziarah Pengharapan ini diikuti oleh 30 peserta, yaitu para imam dan awam dari 6 Keuskupan di Regio Sumatera (Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Padang, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkalpinang, dan Keuskupan Tanjungkarang).
Sedangkan kegiatan Uji Coba Modul Safeguarding diikuti oleh 52 peserta terdiri dari staf dan relawan Caritas Keuskupan Purwokwerto dan utusan dari Caritas-PSE Keuskupan Agung Palembang. Hadir sebagai fasilitator dalam kegiatan ini adalah Susi Indraswari, Frisca Anindhita, Yohanes Baskoro, dan Sr. Bibiana SJMJ serta dua orang observer, yaitu Anastasia Yuria (Keuskupan Purwokerto) dan Yoyon Santoso (Keuskupan Agung Palembang).
Dalam kotbahnya, Pastor Yohanes Kristianto menekankan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus menempatkan kasih Allah di atas segalanya. “Yesus hendak menekankan nilai Kerajaan Allah yang dibangun atas dasar kasih Allah yang merangkul segalanya dan membebaskan semuanya. Kasih Yesus itu tidak membeda-bedakan, tidak mengenal sekat keluarga atau golongan. Itulah hakikat menjadi pengikut Kristus,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kasih Kristus menjadi dasar utama bagi Gereja dalam segala bentuk pelayanannya. Pertemuan Kanonis, menurutnya, berperan penting bukan hanya dalam menjaga marwah Gereja, tetapi juga dalam menata kehidupan umat Allah agar semakin selaras dengan kehendak-Nya. Tribunal Gereja di setiap keuskupan dipandang adalah garda terdepan yang memastikan bahwa kehidupan umat berjalan dalam semangat keadilan, kasih, dan kebenaran Injil.

Pada saat yang sama, imam yang pernah berkarya sebagai Pastor Paroki St. Yoseph Palembang ini juga menyapa peserta pertemuan Caritas Indonesia. Menurutnya, Uji Coba Modul Safeguarding yang difokuskan pada perlindungan anak-anak dan orang dewasa rentan dipandang sebagai wujud nyata cinta kasih Kristus dalam Gereja yang sejalan dengan seruan Paus Fransiskus.
Pastor Yohanes menegaskan bahwa, “Gereja memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk melindungi semua orang dari tindak kekerasan. Karena itu, setiap keuskupan dan tarekat diharapkan serius menyusun panduan safeguarding sekaligus membentuk tim yang menangani persoalan ini,” jelasnya.

Pesan penting juga disampaikan oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, yang berpesan agar hasil-hasil pembahasan dari kedua kegiatan ini disampaikan kepada para uskup di Regio Sumatera. Dengan demikian, para gembala Gereja di wilayah ini dapat memahami sekaligus mengambil langkah nyata sesuai kebutuhan pastoral di keuskupan masing-masing. Hal ini menjadi tanda semangat sinodalitas Gereja yang berjalan bersama, saling mendukung, dan saling melengkapi.
Kedua pertemuan ini diharapkan membawa dampak besar bagi Gereja dan masyarakat, khususnya di Regio Sumatera. Dalam semangat Tahun Yubileum, Gereja dipanggil untuk semakin memanifestasikan ajaran kasih Kristus di tengah dunia. Kehadiran Gereja bukan sekadar lembaga pengajar, tetapi juga komunitas yang melindungi, memberi pengharapan, dan menghadirkan keselamatan. Dengan pertemuan ini, Gereja semakin diteguhkan untuk menjaga marwahnya sekaligus menghadirkan wajah Kristus yang penuh kasih bagi umat beriman di setiap konteks hidup mereka.
**Fr. Bednadetus Aprilyanto
Foto: Komsos KAPal
