Renungan Harian Jumat, 31 Oktober 2025

Rm. 9:1-5; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Luk. 14:1-6; BcO Yer 28:1-17; (H)

Aku Telah Mengasihimu

Yesus mengasihi kita kendati kita penuh dengan noda dosa

Saudara-saudari terkasih, bayangkan seorang ibu melihat anaknya terjerumus dalam pergaulan yang salah. Anak itu menolak nasihat, bahkan kadang menyakiti hati sang ibu. Di balik luka itu, ada kerinduan yang lebih besar agar anaknya kembali ke jalan yang benar. Ia tidak membenci, melainkan dengan kasihnya yang tulus, ia sedih dan berduka demi keselamatan anaknya.

Inilah gambaran hati Rasul Paulus dalam bacaan pertama. Ia merasakan pedih melihat saudara-saudara sebangsanya, orang Israel, yang belum menerima Yesus sebagai Mesias. Mereka adalah umat pilihan yang telah menerima janji Allah, namun hati mereka masih tertutup. Kasih Paulus begitu besar, sampai-sampai ia rela dikutuk dan dipisahkan dari Kristus asalkan mereka diselamatkan. Inilah kasih yang rela berkorban demi keselamatan orang lain.

Dalam Injil Lukas, Yesus menghadapi situasi berbeda namun akar permasalahannya sama. Di sebuah rumah, Ia melihat orang yang sakit busung air, di tengah pengamatan ketat para Farisi yang terlalu terpaku pada aturan agama. Lalu Yesus bertanya, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa atau membinasakannya?” Pertanyaan itu sederhana tapi tajam. Mereka terdiam, dan Yesus menyembuhkan orang itu. Bagi-Nya, manusia dan kebaikan adalah yang utama, bukan aturan yang kaku dan tanpa hati.

Bagaimana dengan kita? Di zaman ini, kita hidup di tengah banyak aturan—agama, sosial, bahkan politik. Kita mudah menghakimi, memutus hubungan, atau membenci mereka yang berbeda. Kita sering menomorsatukan kebenaran versi kita sendiri, dan melupakan nilai dasar: kasih dan kebaikan bagi sesama.

Melalui bacaan hari ini, kita diundang belajar bahwa kasih adalah hukum utama. Kasih menuntun kita untuk berbuat baik, rela berkorban demi keselamatan orang lain, dan peduli pada mereka yang lemah dan terpinggirkan. Seperti yang ditegaskan Paus Leo XIII dalam Dilexi Te (Aku Telah Mengasihimu), kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Semoga kita dimampukan untuk meneladani kasih yang tulus itu dalam hidup sehari-hari.

Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Alexander Krisman Sanjaya

Tingkat 6

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.