Kardinal Parolin: Lindungi martabat anak-anak di era Kecerdasan Buatan

Pada sebuah pesan yang disampaikan untuk konferensi internasional di Roma yang berjudul “Dignitas Anak dan Remaja di Era Kecerdasan Buatan”, Pietro Parolin (Kardinal Sekretaris Negara Vatikan) mengingatkan bahwa umat manusia menghadapi risiko “punahnya dirinya sendiri” apabila bentuk-kehidupan buatan gagal menghormati martabat manusia. Ia menyerukan kerjasama antardisiplin dan antarkultural untuk membimbing teknologi ke arah kemajuan manusia yang sejati.

Dalam pesannya kepada peserta konferensi, Kardinal Parolin menanyakan:

“Apakah kita sedang berdiri di ambang era baru, atau mungkinkah manusia — cepat atau lambat — membawa kehancuran terhadap dirinya sendiri melalui pengenalan bentuk-kehidupan buatan? Akankah kita mengalami degenerasi menjadi sekadar simulasi yang tak lagi mengenali martabat manusia?”

Ia mengajak para hadirin untuk merenungkan implikasi etis, hukum, sosial dan antropologis dari kecerdasan buatan (AI).

Topik konferensi ini sangat penting karena menyentuh perlindungan dan martabat anak–anak “salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini dan di masa depan”, kata Kardinal Parolin. Ia mengakui bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi menawarkan peluang yang tak terelakkan terhadap kebebasan dan tanggungjawab manusia — tetapi kemajuan yang sangat cepat, khususnya di bidang AI, memunculkan “pertanyaan eksistensial dan moral dalam skala yang jarang ditemui sebelumnya”.

Karena itu, Kardinal Parolin mendorong agar dilakukan “evaluasi terhadap peluang dan risiko zaman digital demi manfaat manusia, komunitas manusia, dan seluruh ciptaan”. Evaluasi tersebut, menurutnya, “juga berguna untuk menarik kesimpulan yang tepat bagi tindakan konkret — misalnya dalam bidang politik, legislasi, pendidikan dan perancangan layanan sosial”.

“Akan tetapi,” tambahnya, “semua ini hanya dapat berlangsung melalui upaya antardisiplin dan antarkultural jika kita ingin menghormati kompleksitas persoalan dan keberagaman realitas manusia.”

Di penghujung pesannya, ia mengutip kata-kata Pope Francis pada Kongres Dunia tentang Martabat Anak dalam Dunia Digital yang diselenggarakan di Pontifical Gregorian University pada 2017:

“Kita memiliki kebebasan yang diperlukan untuk membatasi dan mengarahkan teknologi; kita dapat menempatkannya dalam pelayanan bagi jenis kemajuan lain yang lebih sehat, lebih manusiawi, lebih sosial, lebih integral.”

Beberapa Fakta Penting Mengenai Kardinal Pietro Parolin:

Ia lahir di Schiavon, Veneto, Italia, pada 17 Januari 1955. Ia ditahbiskan sebagai imam pada 27 April 1980. Menjelang tugas diplomasi, ia menempuh studi hukum kanonik di Pontifical Gregoriana University dan kemudian memasuki dinas diplomatik Takhta Suci pada tahun 1986. Ia memiliki karier diplomatik panjang, termasuk penugasan di Nigeria, Meksiko, dan kemudian menjadi Nunsius Apostolik untuk Venezuela pada 2009. Pada 31 Agustus 2013, Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai Sekretaris Negara Vatikan, dan ia mulai memegang jabatan itu sejak 15 Oktober 2013. Ia dipilih menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada 22 Februari 2014 dengan gelar Santi Simone e Giuda Taddeo a Torre Angela. Sebagai Sekretaris Negara, ia memainkan peranan penting dalam diplomasi Vatikan dengan negara-negara seperti China dan Vietnam, termasuk kesepakatan provosional atas penunjukan uskup di China tahun 2018. Dengan latar belakang ini, ketika Kardinal Parolin berbicara tentang teknologi, martabat manusia dan anak-anak di era kecerdasan buatan, permohonannya didukung oleh pengalaman panjangnya dalam diplomasi dan pemahaman tentang tantangan global dari dimensi etis, sosial dan antarbudaya.

Kardinal Pietro Parolin

**Vatican News

Foto: Arsip Kardinal Parolin (ANSA)

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va

Leave a Reply

Your email address will not be published.