Kabar sukacita datang dari Kongregasi Suster-suster Jeanne Delanoue (SJD) di Curup, Rejang Lebong, Bengkulu. Setelah penantian panjang, akhirnya kongregasi yang didirikan oleh Jeanne Delanoue di Saumur Prancis, pada 26 Juli 1704 ini menambah 1 lagi anggotanya yang berkaul kekal, yaitu Sr. Veronika Mujiati SJD. Perayaan syukur yang dilaksanakan di Paroki St. Stefanus Martir Curup pada Kamis (27/11/2025) ini dipimpin Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono.
Karya misi SJD di Indonesia berawal dari perjumpaan antara Superior Jenderal SJD, Sr. Marie Josephe dan Sr. Marie Effray dengan Uskup Palembang, Mgr. Joseph Hubertus Soudant SCJ dalam pertemuan misi Prancis untuk misi di Sumatera (Pocour mission Francais la mission a Sumatera) di Paris Prancis pada 11 Maret 1975. Dalam pertemuan itu Mgr. Soudant menyampaikan kebutuhan tenaga untuk pelayanan misi pastoral bagi para transmigran dan mengundang kongregasi untuk ikut berkarya dalam misi Gereja di Sumatera.

Mendengar kebutuhan dan undangan tersebut Kongregasi pun segera mengadakan pertemuan dan akhirnya pada September 1978, mengutus Sr. Josephe dan Sr. Effray untuk melihat lokasi misi di Palembang, Sumatera Selatan. Kunjungan itu membuahkan keputusan penting, yaitu memulai misi di Palembang.
Pada 2 September 1979 2 suster misionaris dari Prancis dan 2 suster misonaris dari Madagaskar diutus memulai karya ke Palembang dan tiba di Jakarta pada 6 September 1979. Selanjutnya mereka menuju Palembang dan direncanakan akan membuka karya di tengah transmigran di wilayah Pematang Panggang. Untuk smentara waktu, sembari mengurus aneka kebutuhan administratif, mereka ikut ambil bagian dalam pelayanan bersama para suster Kongregasi FCh.
Pada Desember 1979 mereka mengadakan perjalanan ke Pematang Panggang, singgah di Biara FSGM St. Antonio Baturaja dan Biara FCh Belitang. Mereka tiba di Pematang Panggang pada 30 Desember 1979. Kenyataan pahit harus diterima, pemerintah setempat menolak kehadiran mereka. Mereka pun kembali ke Palembang dan berdasarkan hasil pembicaraan dengan Mgr. Soudant, pelayanan mereka pun diarahkan ke Muara Bungo Jambi, di tengah para transmigran dari Wonogiri, Jawa Tengah.
Selanjutnya, pada 24 Mei 1980 para suster berangkat ke menuju Muara Bungo dan tiba pada keesokan harinya, 25 Mei 1980, tepat pada Hari Raya Pentakosta. Di kota ini mereka berkarya bersama para imam melayani umat yang sebagian besar adalah transmigran. Selain pelayanan di tengah umat, pada tahun 1985 para suster juga membuka asrama putri, untuk memfasilitasi anak-anak dari daerah seperti Rimbo Bujang, Tebo, dan Sitiung yang hendak melanjutkan sekolahnya di Muara Bungo.
Dari Muara Bungo sayap pelayanan pun dikepakkan menuju daerah baru, yaitu Paroki St. Teresia Jambi dan Paroki St. Stefanus Martir Curup Bangkulu. Di tempat yang baru selain ikut ambil bagian dalam karya paroki, mereka juga membuka asrama putri. Demi pembinaan yang semakin memadai, maka pada 15 Januari 2011 SJD membuka komunitas baru di Yogyakarta dan menempati kontrakan sementara. Pada 25 Mei 2015 para suster mulai menempati biara baru yang berada di wilayah Paroki St. Maria Assumpta Babarsari, Keuskupan Agung Semarang. Komunitas ini menjadi novisiat bagi Kongregasi SJD.
Kini, setelah 46 tahun hadir di Indonesia, SJD memiliki 4 komunitas dengan 20 anggota, terdiri dari 18 suster asal Indonesia dan 2 misionaris asal Madagaskar, serta 1 aspiran dan 1 novis.
**Rm. Titus Jatra Kelana
