Cahaya pagi menembus pintu-pintu Kapel Seminari St. Paulus Palembang pada Rabu (3/12/2025). Dalam keheningan yang sakral, dimulailah Perayaan Ekaristi syukur pesta pelindung Yayasan Xaverius Palembang (YXP) yang dipimpin oleh Bendahara YXP, Romo Stefanus Surawan. Misa ini dihadiri sejumlah imam konselebran, pegawai YXP terdiri dari guru dan karyawan, para seminaris, dan ratusan siswa Katolik SMA Xaverius 1.
Koor seminaris menggema megah, memenuhi kapel dengan nada-nada surgawi. Para siswa yang bertugas dalam liturgi tampil dengan penuh wibawa pelayanan. Semua menghadirkan suasana syukur yang meriah sekaligus mendalam, sebuah penanda perjalanan panjang 95 tahun Yayasan Xaverius Palembang yang kini melangkah mantap menuju usia seabad.
Tema perayaan tahun ini, Menghayati Warisan Xaverius: Excellite, Fortite, Servite menjadi benang merah refleksi seluruh keluarga besar YXP. Dalam homilinya, Romo Surawan,, mengajak umat untuk kembali menghidupi semangat Xaverian: menjadi pribadi yang unggul dalam iman dan karya, teguh dalam karakter, dan siap melayani dengan kasih.

Suara Pelayan Muda
Emmanuel AJ Kumara, siswa kelas XIA.2.1 ini mendapat kesempatan khusus tahun ini, bukan hanya mengikuti misa, tetapi juga melayani di altar.
“Saya merasa senang dapat mengikuti misa di Kapel Seminari St. Paulus pada pesta Pelindung Yayasan Xaverius,” tuturnya. “Terlebih, kali ini saya dapat bertugas sebagai Putra-Putri Altar. Saya merasa sungguh terlibat dalam pelayanan misa.”
Bagian misa yang paling menyentuh baginya adalah homili. “Romo Surawan menceritakan perjalanan singkat Santo Fransiskus Xaverius yang mewartakan Injil ke seluruh Asia, termasuk ke Indonesia. Semangat beliau yang berkobar-kobar benar-benar menyentuh saya,” ungkapnya.
Emmanuel juga menemukan beragam keteladanan hidup Xaverius yang menginspirasi hidupnya. Menurutnya keteladanan itu tampak dalam iman yang kokoh, semangat misioner, kesetiaan pada Tuhan, pelayanan tanpa pamrih, dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan. “Semua itu menggerakkan saya untuk juga memberikan yang terbaik dalam setiap pelayanan,” tutupnya.

Panggilan yang Menyentuh Hati
Banyak perayaan liturgi dapat dilalui seorang siswa, tetapi tidak semuanya membekas. Bagi Brian, misa hari itu menjadi salah satu yang mengubah arah hatinya. “Saya merasa terharu,” ujarnya jujur. Ia mengakui bahwa jika memilih sendiri, ia mungkin ingin melanjutkan tidur. “Tapi Tuhan punya cara untuk mengundang,” katanya sambil tersenyum.
Ia tersentuh ketika mendengar kembali kisah Fransiskus Xaverius muda yang awalnya enggan mengikuti Ignatius Loyola. Namun sabda Tuhan mengetuk hatinya melalui ayat yang terkenal:
“Apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa?”
Brian menegaskan, “Apa gunanya semuanya kalau tidak bahagia?” Ia pulang membawa tekad baru: menjadi pewarta Injil dalam caranya sendiri, pada jalan yang Tuhan bukakan.
Sementara itu, Gerardo mengalami sapaan Tuhan lewat keindahan liturgi. “Koor seminaris membuat suasana meriah,” ujarnya. Baginya, pesta St. Xaverius menjadi undangan untuk bekerja lebih keras, membangun iman melalui pendidikan yang dijalani dengan komitmen dan kesungguhan.
Ketika Kapel Menjadi Ruang Berjumpa
Pascalis merasakan misa itu sebagai sebuah oasis di tengah kesibukan ujian. “Saya merasa dekat dengan Tuhan,” tuturnya. Suasana kapel pagi itu membuka ruang bagi permenungan yang dalam.
Yang paling menyentuh baginya adalah lagu tentang Fransiskus Xaverius di awal misa. Lagu itu seolah memanggil seluruh umat untuk masuk dalam semangat santo misionaris: berani keluar, melayani, dan mencintai.
Tak hanya itu, Pascalis menambahkan refleksi yang tajam: bahwa panggilan menjadi pribadi yang adil bermula dari pikiran, sejalan dengan pesan Pramoedya Ananta Toer. Sebuah jembatan indah antara iman dan budaya.

Bahagia Menjadi Bagian dari Keluarga Xaverius
Stefani Indah Zalukhu menyampaikan rasa bangganya dengan penuh semangat. “Fani senang sekali,” ujarnya. “Sekolah kita benar-benar Katolik.”
Baginya, misa ini membuka kesempatan baru untuk mengenal Santo Fransiskus Xaverius lebih dalam, bukan sekadar sebagai nama sekolah, tetapi sebagai teladan hidup. Ia pulang membawa tekad sederhana namun kuat: percaya kepada Tuhan, melawan rasa malas, dan menjadi pribadi yang berguna bagi banyak orang.
Ketika Semangat Xaverius Menyala Kembali
Perayaan syukur di Kapel Seminari St. Paulus hari itu bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi ruang bagi panggilan yang disentuh kembali, bagi hati yang diteguhkan, dan bagi identitas Xaverian yang terasa semakin hidup.
Dari Brian yang tersentuh sabda, Gerardo yang digerakkan musik, Pascalis yang menemukan kedekatan dengan Tuhan, Stefani yang merayakan identitas Katoliknya, hingga Emmanuel yang mengambil inspirasi dari semangat misioner Xaverius, semua membawa pulang seberkas cahaya.
Warisan Xaverius bukan sekadar kenangan berusia 95 tahun. Ia adalah api yang hidup, dinyalakan kembali oleh generasi muda yang siap excellite, fortite, dan servite, unggul, teguh, dan melayani.
Semoga api itu terus menyala, menuju 100 tahun Yayasan Xaverius Palembang, dan jauh melampauinya.
**Ignas Iwan Waning (Kontributor Palembang)
