Mgr. Yohanes Harun Yuwono Pimpin Misa Requiem Christina Sujiyem, Tekankan Pengampunan dan Panggilan untuk Terus Berbuat Baik

“Hidup ini milik Allah, bukan milik kita sendiri. Mereka yang merampas nyawa sesama sesungguhnya sedang memusuhi Sang Pencipta.” Kalimat bernada getir namun penuh iman itu menggema di Gereja Santo Yoseph Palembang. Di depan altar, dalam peti jenazah yang berwarna putih, berbaring Christina Sujiyem (80), seorang umat yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk mendidik dan melayani.

Kepergian Christina Sujiyem atau yang akrab disapa Mami oleh para muridnya memang meninggalkan luka mendalam. Setelah 13 hari pencarian sejak dinyatakan hilang pada Rabu (14/1/2026) silam, ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Selasa (27/1/2026) siang di wilayah Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Secara manusiawi, peristiwa ini menyulut amarah; seorang lansia yang renta menjadi korban kekejaman. Namun, dalam iman Katolik, peristiwa ini dibawa ke dalam refleksi yang lebih tinggi oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono lewat homilinya pada Perayaan Ekaristi Requiem di Gereja Paroki St. Yoseph Palembang, Rabu (28/1/2026) siang.

Mgr. Yohanes menyampaikan homilinya. | Foto: Dokumen Pribadi

Dalam homilinya Mgr. Harun mengingatkan bahwa tragedi yang membawa duka ini adalah duka kemanusiaan. “Kehidupan adalah milik Allah, bukan milik kita sendiri. Hanya Tuhan yang adalah tuan atas kehidupan yang bisa membuat kita lahir ke dunia. Mereka yang merampas nyawa sesama sesungguhnya sedang memusuhi Sang Pencipta. Namun, sebagai anak-anak Allah, kita tidak diajarkan untuk menyimpan bara dendam,” ungkap Mgr. Harun dengan suara bergetar.

Bapa Uskup juga menegaskan agar dalam situasi apapun umat tetap menyadari dirinya sebagai anak-anak Allah dan panggilan untuk tetap hidup baik dalam situasi apapun.

“Kita, sebutuh apapun, entahlah finansial atau kebutuhan lahiriah duniawi apapun. Janganlah menjadi preman, janganlah menjadi maling, perampok bahkan perampok yang dengan kekerasan dapat mencabut nyawa orang lain. Kalau itu yang kita lakukan, kita adalah antek setan, iblis dan bukan anak-anak Allah. Kalau kita mengaku anak-anak Allah, kita hanya akan berbuat baik,” tegas Bapa Uskup.

Menurut Bapa Uskup, sebagai anak-anak Allah setiap pribadi bukan dipanggil untuk menghadirkan permusuhan, melainkan bertanggungjawab untuk mengusahakan kehidupan yang harmonis, damai sejahtera, persaudaraan yang sejati, perlindungan, dan rasa aman terhadap mereka yang rentan.

Dalam duka yang menyesakkan, Gereja mengajak umat untuk tidak membalas kegelapan dengan kegelapan. Mengutip ajaran Yesus tentang pengampunan, Mgr. Harun menekankan bahwa sesakit apa pun luka yang digoreskan oleh para pelaku, umat Kristiani dipanggil untuk menjadi pembawa damai.

“Karena kita anak-anak Allah, sesakit apapun, semenderita apapun, marilah jangan ada balas dendam, gigi ganti gigi. Jika ditampar pipi kirimu, berilah pipi kananmu. Ampunilah, karena Allah kita adalah Maha Rahim,” imbuh Bapa Uskup.

Mgr. Yohanes mendupai jenazah Ibu Christina. | Foto: Dokumen Pribadi

Wariskan Kesetiaan dan Kasih yang Tulus

Bagi umat Paroki St. Yoseph, Christina bukan sekadar umat, tetapi juga saksi hidup dari rutinitas yang dilandasi kesetiaan. Setiap hari ia selalu hadir dalam Misa pagi. Tangannya yang terampil kerap menyentuh altar sebagai tim bunga paroki, memastikan rumah Tuhan selalu indah bagi sesama. Kesetiaan itu membuatnya sering disapa “Menteri Pengairan”. Di masa purnatugasnya, ia memilih menjadi “pelayan kecil” di berbagai kelompok kategorial, seperti Warakawuri dan Kelompok Simeon.

Bagi ribuan alumni SMA Xaverius 3, Christina adalah sosok guru matematika yang mengajarkan ketegasan sekaligus kasih. Kini, “Mami” tidak lagi berdiri di depan kelas atau menghias altar. Ia telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Christina mungkin pergi dalam jalan yang tragis di mata dunia, namun bagi orang beriman, ia pulang dalam dekapan kasih Tuhan yang ia sembah setiap pagi di gereja.

Selamat jalan, Ibu Christina. Tugasmu menghias altar dunia telah usai, kini hiaslah altar di Surga.

*** Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.