Membangunkan Dunia yang Tertidur: Refleksi Hari Hidup Bakti di Dekanat Palembang

Mgr. Yohanes Harun Yuwono foto bersama para imam, biarawan/i usai Perayaan Ekaristi | Foto : Komsos KAPal

Dalam rangka memperingati Hari Hidup Bakti, para imam, biarawan, dan biarawati Dekanat Palembang dengan penuh hikmat dan syukur merayakan Ekaristi bersama pada Senin (2/2) di Ballroom Asisi RS Charitas, pada pukul 17.30 WIB. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Harun Yuwono menegaskan bahwa masyarakat yang damai dan sejahtera tidak pernah lahir begitu saja. Kedamaian sejati berakar dari keluarga yang harmonis. Ketika keluarga retak dan relasi antarmanusia rusak, masyarakat pun ikut sakit. Dari kondisi inilah muncul kekacauan sosial, konflik, bahkan ancaman peperangan. Dunia yang tidak harmonis, menurutnya, adalah dunia yang sedang terluka.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono | Foto : Komsos KAPal

Hal yang sama, lanjut Mgr. Yu, juga dapat terjadi dalam hidup berkomunitas. Ia menyoroti cara hidup bersama yang keliru, ketika anggota komunitas saling bersembunyi, saling curiga, dan menghindari tanggung jawab.


“Dalam kondisi seperti itu, hidup berkomunitas bukan lagi menjadi ruang pertumbuhan, melainkan tanda bahwa komunitas tersebut sedang sakit. Jika hari ini dunia berada di ambang peperangan, jangan-jangan akarnya bukan semata-mata persoalan politik, tetapi karena komunitas-komunitas kehilangan harmoni dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mgr. Yu mengingatkan bahwa kita sering kali kurang berani dan kurang ‘gereget’ dalam menyuarakan panggilan kenabian. Padahal, dunia ini telah dititipkan kepada manusia. Bapa Suci berulang kali mengajak umat untuk membangunkan dunia. Namun, membangunkan dunia bukanlah hal yang mudah. Dunia yang sedang sakit akan marah ketika dibangunkan, seperti seseorang yang sedang tertidur lelap. Risiko dicela, dimarahi, bahkan ditolak selalu ada. Karena itulah, manusia kerap memilih kenyamanan dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Koor oleh para suster kongregasi Fch | Foto : Komsos KAPal

Dalam konteks ini, Mgr. Yu mengajak umat untuk belajar dari teladan Yesus.

“Yesus memberi teladan yang luar biasa. Ia setia menjalankan kehendak Bapa, meskipun harus menanggung risiko kehilangan nyawa. Ia menebus manusia yang sangat dicintai Allah bukan dari zona nyaman, melainkan dari ketaatan total. Seperti seorang bayi yang nyaman dalam pelukan, Yesus pun nyaman dalam menjalankan kehendak Allah, meski jalan yang ditempuh penuh pengorbanan,” tuturnya.

Ia pun mengajak para imam, biarawan, dan biarawati untuk menanggapi panggilan kenabian secara konkret. Panggilan ini tidak hanya berhadapan dengan konflik antar manusia, tetapi juga dengan persoalan alam, pikiran-pikiran buruk, egoisme, sekularisme, serta keinginan untuk menguasai. Jika suatu saat perang dunia benar-benar terjadi, suara kenabian justru akan semakin mendesak. Dunia yang dititipkan kepada manusia menuntut tanggung jawab penuh.

Karena itu, refleksi dan koreksi diri menjadi langkah yang tidak dapat dihindari. Umat diajak untuk membangunkan mereka yang tertidur, serta mengajak semua orang kembali pada hidup bermasyarakat yang sehat. Dari situlah nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa, saling menghormati, menghargai martabat hidup, dan menjaga kebersamaan dapat tumbuh dan berkembang.

Komuni | Foto : Komsos KAPal

Sejalan dengan seruan Bapa Suci, Mgr. Yu juga menekankan pentingnya membangunkan kaum muda, termasuk di Keuskupan Agung Palembang, agar mereka menjadi kader-kader kebaikan di masa depan. Di tangan generasi mudalah masa depan kehidupan dalam berbagai aspek dipertaruhkan. Jangan sampai mereka tertidur dan kehilangan semangat untuk melanjutkan cita-cita dunia sebagai rumah bersama.

Perhatian terhadap kelestarian bumi pun menjadi bagian tak terpisahkan dari panggilan kenabian. Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, serta merawat tanah agar tetap subur merupakan wujud iman yang nyata. Bumi yang sehat memungkinkan kehidupan terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi semua.

“Kita diutus menjadi nabi-nabi kesehatan bagi manusia, komunitas, dan alam semesta. Dengan membangunkan dunia yang tertidur, kita ikut menghadirkan harapan, kedamaian, dan masa depan yang lebih manusiawi,” tandas Mgr. Yu.

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.