Mgr. Yohanes Monteiro Resmi Ditahbiskan Sebagai Uskup Keuskupan Larantuka

Mgr. Yohanes Hans Monteiro Uskup Keuskupan Larantuka | Foto : internet

Mgr. Yohanes Hans Monteiro resmi ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Keuskupan Larantuka pada 11 Februari 2026 dalam perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat di Gereja Katedral Reinha Rosari. Penahbisan ini menjadi momen bersejarah bagi umat Katolik di Flores Timur dan sekitarnya, karena ia adalah putra daerah yang kini dipercaya menggembalakan Gereja lokalnya sendiri. Ia menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah memasuki masa emeritus setelah bertahun-tahun melayani keuskupan tersebut.

Lahir di Larantuka pada 15 April 1971, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menempuh pendidikan awal di Seminari Menengah Santo Domingo, Hokeng, sebelum melanjutkan studi filsafat dan teologi di Institut Filsafat Katolik Ledalero. Ia kemudian memperdalam ilmu liturgi hingga meraih gelar doktor di Universitas Wina, Austria. Ditahbiskan sebagai imam pada 14 Juli 1999, ia dikenal sebagai imam yang tekun dalam bidang liturgi dan formasi, serta aktif sebagai pengajar dan pembina calon imam. Latar belakang akademisnya yang kuat di bidang liturgi menjadi salah satu kekayaan penting dalam pelayanan episkopal yang kini diembannya.

Penunjukan beliau sebagai uskup diumumkan oleh Paus Leo XIV pada 22 November 2025. Perayaan tahbisan dipimipin oleh Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dan hadir sejumlah uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia sebagai konselebran. Perayaan berlangsung dalam suasana penuh sukacita dan persaudaraan, bahkan mendapat sambutan hangat dari berbagai elemen masyarakat lintas agama di Larantuka, yang selama ini dikenal sebagai kota religius dengan tradisi iman yang kuat.

Sebagai Uskup Larantuka yang baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro diharapkan mampu melanjutkan warisan pastoral para pendahulunya sekaligus menjawab tantangan zaman, terutama dalam pembinaan iman umat, penguatan kehidupan liturgi, serta pembangunan semangat persaudaraan dan dialog antarumat beragama. Tahbisan ini bukan hanya sebuah peristiwa seremonial, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menggembalakan umat dengan semangat pelayanan, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Gereja.

(Sumber : VictoryNews.id., mirifica.net)

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.