Air Mata dan Melodi Syukur: Perjalanan Dramatis Romo Dedy SCJ Menuju Imamat

Romo Dedy Saputra SCJ memberikan sambutan. | Foto: Komsos KAPal

Suasana haru sekaligus penuh sukacita menyelimuti Gereja Stasi St. Pius X Nusa Tunggal pada Rabu (29/4/2026). Di balik perayaan sakral Tahbisan Imam Romo Fransiskus Dedy Saputra SCJ, terselip kisah refleksi yang mendalam tentang perjalanan iman yang penuh tantangan, atau yang ia sebut sebagai perjalanan hidup yang “dramatis”. Perayaan ini dipimpin oleh Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, dan dihadiri ratusan imam serta ribuan umat.

Perjalanan yang Tak Selalu Mulus

Dalam sambutannya, Romo Dedy dengan lugas berbagi kisah jatuh bangunnya selama masa pendidikan. Mulai dari sempat dinyatakan tidak lulus studi hingga penundaan tahbisan diakon. Ia percaya bahwa Tuhan selalu hadir menyertai perjalanannya, bahkan di saat-saat kritis. 

“Hidup saya itu penuh dramatis, pernah dinyatakan tidak lulus BA, tiga hari kemudian saya dinyatakan lulus. Lalu ditunda saat tahbisan diakon, ditinggal oleh angkatan.”

Lebih lanjut ia juga menuturkan salah satu momen yang paling menyentuh ketika ia mengenang doa sang Ibu. Meski sang Ibu kini tidak dapat berbicara karena kondisi kesehatan (stroke), Romo Dedy meyakini bahwa kekuatan doa Ibunya-lah yang menopangnya hingga ke altar tahbisan.

Romo Dedy Saputra SCJ memberikan berkat perdana. | Foto: Komsos KAPal

“Saya bisa bertahan sekuat ini karena doa-doa, terutama doa Ibu saya. Kendati Ibu saya tidak bisa berbicara karena sakit stroke, saya meyakini di dalam hatinya ia terus berdoa untuk saya.” 

Ia juga berterima kasih kepada orang tua dan keluarga yang telah berkenan mempersembahkan dirinya bagi Tuhan dan Gereja.

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu,” kutip Romo Dedy dari Yohanes 15:16, menegaskan bahwa segala tantangan studi dan panggilan hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan.

Filosofi Angka dan Nusa Tunggal

Ada hal unik yang disoroti Romo Dedy dalam refleksinya, yakni simbolisme angka dua dan nama tempat tahbisannya. Ia mengenang momen menerima uang Rp. 2.000 setelah tahbisan diakon, lalu ditahbiskan imam pada tanggal 29 (berjarak 2 hari dari tanggal tahbisan sebelumnya), serta pengalamannya sebagai satu dari dua orang yang tersisa di angkatannya. Ia pun memaknai nama desa “Nusa Tunggal” sebagai perlambang dirinya yang menjalani tahbisan imam secara sendirian (tunggal) pada hari tersebut.

Apresiasi untuk Kolaborasi Umat

Romo Dedy menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh panitia di bawah komando Romo Amatus Sukadi SCJ, serta dukungan dari pemerintah desa dan Muspika Kecamatan Belitang III.

Sebagai penutup, dehonian muda yang akan bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Tegalrejo ini mempersembahkan sebuah lagu berjudul Kau Tuntun Hidupku Sampai Akhir. Karya yang didasarkan pada refleksi pribadi ini ia nyanyikan di hadapan umat sebagai bukti syukur atas tuntunan Tuhan dalam hidupnya.

***TJK (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.