Kardinal Parolin: Sikap Takhta Suci tentang Perdamaian dan Perlucutan Senjata Sangat Tegas

Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, di Augustinianum, Roma. | Foto: Vatican News

Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menegaskan bahwa Takhta Suci tetap memiliki sikap yang jelas dan tegas mengenai perdamaian dunia serta perlucutan senjata nuklir. Hal itu disampaikannya ketika menjawab berbagai pertanyaan wartawan di Roma, khususnya terkait hubungan Vatikan dengan Amerika Serikat, pernyataan Presiden Donald Trump, serta isu Gereja di Jerman.

Dengan nada santai namun penuh makna, Kardinal Parolin menjawab pertanyaan wartawan yang bertanya apakah dirinya lebih percaya kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, atau kepada Presiden Donald Trump. Sambil tersenyum ia berkata, “Saya tidak bergantung pada siapa pun. Saya hanya bergantung pada Tuhan Yesus Kristus.”

Pernyataan itu muncul setelah kembali muncul kritik dan serangan dari Presiden AS terhadap Paus Leo XIV. Menanggapi hal tersebut, Kardinal Parolin mengatakan bahwa terasa aneh bila Paus diserang atau dipersalahkan atas apa yang dilakukannya. Menurutnya, Paus hanya menjalankan tugas dan panggilannya sebagai pemimpin Gereja.

Kardinal Parolin juga menanggapi pernyataan Trump yang menyebut seolah-olah Vatikan mendukung Iran memiliki senjata nuklir. Ia dengan tegas membantah hal tersebut. Menurutnya, sejak dahulu Takhta Suci selalu bekerja dan bersuara demi perlucutan senjata nuklir. Gereja secara konsisten mendukung upaya internasional yang menolak legitimasi kepemilikan senjata nuklir.

Karena itu, ia menegaskan bahwa posisi Vatikan mengenai senjata nuklir “sangat jelas.” Gereja mendukung perdamaian dan menolak segala bentuk ancaman yang membahayakan kehidupan manusia.
Mengenai pertemuan antara Paus Leo XIV dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang dijadwalkan berlangsung di Vatikan, Kardinal Parolin mengatakan bahwa Vatikan pertama-tama akan mendengarkan apa yang ingin disampaikan pihak Amerika Serikat. Namun, tentu saja pembicaraan akan menyentuh berbagai persoalan dunia saat ini, terutama konflik internasional, situasi di Amerika Latin, dan kemungkinan juga persoalan Kuba.

Dalam kesempatan itu, Kardinal Parolin kembali menegaskan bahwa konflik tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan atau kekuatan militer. Jalan terbaik adalah dialog dan negosiasi yang tulus. Semua pihak perlu duduk bersama, saling mendengarkan, dan mencari titik temu demi terciptanya perdamaian.
Meski hubungan dengan Amerika Serikat kadang mengalami ketegangan, Kardinal Parolin mengakui bahwa negara tersebut tetap menjadi mitra penting bagi Takhta Suci. Menurutnya, hampir semua persoalan global saat ini melibatkan peran Amerika Serikat, sehingga komunikasi tetap perlu dijaga.
Ia juga membuka kemungkinan adanya dialog langsung antara Paus Leo XIV dan Donald Trump bila memang ada permintaan resmi. Menurutnya, Paus selalu terbuka untuk berdialog dengan siapa pun demi kebaikan bersama.

Selain isu internasional, Kardinal Parolin juga menyinggung dialog Vatikan dengan para uskup Jerman terkait pemberkatan pasangan sesama jenis. Ia mengatakan bahwa saat ini proses dialog masih terus berlangsung dan belum ada keputusan final. Semua pihak sedang saling menyampaikan pandangan mereka masing-masing.

Kardinal Parolin menegaskan bahwa setiap keputusan Gereja harus tetap sejalan dengan Hukum Kanonik, ajaran Konsili Vatikan II, serta tradisi Gereja. Ia berharap seluruh persoalan dapat diselesaikan melalui dialog damai tanpa harus sampai pada pemberian sanksi.

Menutup keterangannya, Kardinal Parolin mengungkapkan harapan agar semua persoalan dalam Gereja maupun dunia dapat diselesaikan secara damai, sebab perdamaian dan dialog selalu menjadi jalan utama yang diperjuangkan Gereja Katolik.

**Salvatore Cernuzio-Kota Vatikan

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2026-05/parolinUQBWRFuk-BJ_JA4XswSoaPFvd-uYwLHZtrXqiMLIyLeyl5Y_-firm.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.