Kardinal Cupich: Ensiklik Magnifica Humanitas Menjadi Lensa Baru Membaca Ajaran Sosial Gereja

Kardinal Blase Cupich. | Foto: Getty Images, 2025

Dalam sebuah wawancara dengan Vatican News, Uskup Agung Chicago, Cardinal Blase Cupich, menegaskan bahwa ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, memberikan cara pandang baru untuk memahami seluruh Ajaran Sosial Gereja di tengah era kecerdasan buatan.

Menurut Kardinal Cupich, dokumen tersebut merupakan sebuah panggilan mendesak bagi umat manusia untuk menentukan arah masa depannya. Paus Leo XIV, katanya, mengajak dunia memilih antara membangun “Yerusalem Baru” atau mengulangi kesalahan “Menara Babel”.

Antara Yerusalem Baru dan Menara Babel

Kardinal Cupich menjelaskan bahwa Paus menggunakan dua gambaran Kitab Suci yang sangat kuat dalam ensikliknya.

Gambaran pertama adalah kisah Nehemiah yang memimpin pembangunan kembali tembok Yerusalem setelah masa pembuangan. Dalam kisah tersebut, pembangunan tidak dilakukan oleh satu tokoh yang berkuasa, melainkan oleh seluruh komunitas. Kaum pria dan wanita, imam, pengrajin, kepala keluarga, dan kaum muda bekerja bersama, masing-masing mengambil bagian sesuai tanggung jawabnya.

Menurut Kardinal Cupich, inilah gambaran ideal masyarakat yang ingin dibangun oleh Paus Leo XIV. Sebuah masyarakat yang menempatkan Allah di pusat kehidupan, membangun kembali relasi antarmanusia sebelum membangun struktur dan teknologi.

Sebaliknya, Menara Babel melambangkan masyarakat yang berusaha mencapai kemajuan tanpa Allah. Kesombongan dan rasa cukup diri menjadi dasar pembangunannya. Akibatnya, komunikasi rusak, hubungan manusia retak, dan orang-orang tidak lagi saling memahami.

Bagi Kardinal Cupich, dua gambaran tersebut menjadi pilihan yang sangat relevan dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan saat ini.

Sambutan Positif dari Generasi Muda

Sebagai pemimpin Gereja di kota Chicago yang dikenal sebagai pusat bisnis, teknologi, inovasi, dan industri, Kardinal Cupich melihat adanya minat besar terhadap ensiklik ini, terutama dari kalangan mahasiswa.

Ia mengungkapkan bahwa laporan-laporan awal media di Chicago banyak menyoroti tanggapan para mahasiswa terhadap terpilihnya Paus Leo XIV dan terbitnya Magnifica Humanitas. Menurutnya, suara generasi muda perlu didengarkan secara serius karena merekalah yang akan mengalami dampak terbesar dari revolusi teknologi yang sedang berlangsung.

Dari berbagai wawancara yang dilakukan media, para mahasiswa menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap Paus dan ketertarikan yang besar untuk membaca dokumen tersebut secara langsung.

Lensa Baru untuk Membaca Ajaran Sosial Gereja

Salah satu hal yang paling mengesankan Kardinal Cupich adalah cara Paus Leo XIV menempatkan ensiklik ini dalam kesinambungan Ajaran Sosial Gereja.

Menurutnya, Magnifica Humanitas bukan sekadar dokumen tentang AI. Ensiklik ini justru menjadi sebuah “lensa baru” untuk memahami seluruh tradisi sosial Gereja, mulai dari Pope Leo XIII hingga para paus masa kini.

Dalam bab pertama ensiklik, Paus Leo XIV meninjau perjalanan Ajaran Sosial Gereja sejak terbitnya Rerum Novarum hingga masa sekarang. Dengan demikian, persoalan kecerdasan buatan tidak dilihat sebagai isu yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari perjuangan Gereja yang terus-menerus membela martabat manusia, keadilan sosial, solidaritas, dan kesejahteraan bersama.

Kardinal Cupich menegaskan bahwa Paus ingin menunjukkan bahwa Ajaran Sosial Gereja bukan sekadar kumpulan gagasan yang boleh dipilih atau diabaikan sesuka hati. Ajaran tersebut merupakan bagian integral dari kehidupan dan misi Gereja.

Revolusi Digital dan Revolusi Industri

Ketika ditanya mengenai perbandingan antara revolusi digital saat ini dengan Revolusi Industri yang melatarbelakangi Rerum Novarum, Kardinal Cupich mengakui adanya sejumlah kesamaan.

Keduanya sama-sama menghadirkan perubahan besar dalam cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan mengatur kehidupan sosial. Namun, menurutnya, revolusi digital memiliki karakteristik yang berbeda dan bahkan lebih kompleks.

Ia menyoroti salah satu peringatan utama Paus Leo XIV, yakni bahwa teknologi baru ini memiliki potensi untuk berkembang melampaui kemampuan manusia dalam mengendalikannya.

Karena itulah, menurut Kardinal Cupich, Magnifica Humanitas merupakan sebuah “seruan untuk bangun”. Paus mengingatkan bahwa umat manusia tidak memiliki banyak waktu untuk bersikap pasif. Saat ini adalah momen yang menentukan apakah teknologi akan menjadi sarana yang memajukan martabat manusia atau justru menjadi kekuatan yang mengancam kebebasan dan kemanusiaan itu sendiri.

Sebuah Panggilan untuk Bertindak

Bagi Kardinal Cupich, pesan utama ensiklik ini sangat jelas: kemajuan teknologi tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah moral. Kecerdasan buatan harus dikembangkan dalam kerangka tanggung jawab, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat setiap pribadi manusia.

Dengan kata lain, pertanyaan yang diajukan Paus Leo XIV bukan terutama tentang apa yang dapat dilakukan oleh AI, melainkan tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh penggunaan AI tersebut.

Di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung, Magnifica Humanitas mengajak Gereja dan dunia untuk tidak terpesona hanya oleh kemampuan teknologi, tetapi untuk memastikan bahwa setiap inovasi tetap melayani manusia, memperkuat persaudaraan, dan membantu membangun apa yang disebut Paus sebagai “peradaban kasih”.

*** Deborah Castellano Lubov

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-05/cardinal-blase-cupich-interview-magnifica-humanitas-encyclical.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.