
Uskup Agung New York, Mgr. Ronald Hicks, menilai ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, sebagai dokumen yang sangat penting bagi masa depan Gereja dan dunia. Dalam wawancaranya dengan Vatican News, ia menyebut ensiklik tersebut sebagai dokumen yang tepat waktu, relevan, dan akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurutnya, Paus Leo XIV menunjukkan kepekaan yang luar biasa terhadap persoalan-persoalan nyata yang sedang dihadapi dunia saat ini.
“Saya merasa Bapa Suci benar-benar memahami isu-isu yang sedang terjadi di dunia. Beliau berani mengangkat dan menanggapinya. AI ada di sini dan akan tetap ada,” ungkap Uskup Hicks.
Gereja Harus Terlibat dalam Persoalan Nyata
Bagi Uskup Hicks, salah satu hal yang paling mengesankan dari Magnifica Humanitas adalah keberanian Paus untuk membahas AI sejak awal masa kepemimpinannya.
Ia melihat bahwa sejak awal pontifikatnya, Paus Leo XIV ingin menunjukkan bahwa Gereja tidak boleh menjauh dari perkembangan dunia modern. Sebaliknya, Gereja harus hadir dan terlibat dalam percakapan-percakapan penting yang sedang membentuk masa depan umat manusia.
Menurutnya, Paus tidak mengajak umat beriman untuk takut terhadap teknologi atau menghindarinya. Sebaliknya, Paus mengundang seluruh masyarakat untuk berdialog mengenai bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dan demi kesejahteraan bersama.
“Paus tidak mengatakan bahwa kita harus bersembunyi dari AI atau berpura-pura bahwa teknologi itu tidak ada. Beliau justru mengajak kita berdialog tentang bagaimana teknologi ini dapat diatur secara etis, bagaimana tanggung jawab bersama dibangun, dan bagaimana AI dapat dipakai untuk kebaikan bersama,” katanya.
Sambutan Positif dari Berbagai Kalangan
Sebagai pemimpin Gereja di salah satu kota paling berpengaruh di dunia dalam bidang bisnis, teknologi, dan inovasi, Uskup Hicks melihat bahwa ensiklik ini diterima dengan sangat positif.
Menurutnya, bukan hanya umat Katolik yang tertarik pada dokumen tersebut. Banyak orang di luar Gereja juga menyambut baik keterlibatan Paus dalam diskusi mengenai AI.
Banyak pihak menyadari bahwa masih terlalu banyak hal yang belum dipahami mengenai dampak kecerdasan buatan. Karena itu, keterlibatan Gereja dalam percakapan ini dianggap sebagai kontribusi yang sangat berharga.
Orang-orang mulai mengajukan pertanyaan mendasar:
- Apakah AI akan dibiarkan berkembang tanpa kendali?
- Apakah teknologi hanya akan menjadi alat untuk menghasilkan keuntungan?
- Ataukah AI dapat diarahkan untuk melayani kemanusiaan dan kesejahteraan bersama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut Hicks, menjadi semakin penting seiring berkembangnya teknologi.
Apa Artinya Menjadi Manusia?
Salah satu aspek yang paling menyentuh hati Uskup Hicks adalah refleksi Paus mengenai makna menjadi manusia.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, Paus Leo XIV mengajak dunia untuk kembali bertanya tentang identitas manusia itu sendiri. Apa yang membuat manusia berbeda dari mesin? Apa arti kebebasan, relasi, kasih, dan martabat manusia?
Menurut Hicks, pertanyaan-pertanyaan itu diterima secara luas karena menyentuh pengalaman semua orang.
“Pada akhirnya, kita semua adalah manusia. Kita semua berada dalam perjalanan yang sama. Karena itu kita perlu terus memperjuangkan martabat manusia bagi semua orang,” ujarnya.
Kekhawatiran Kaum Muda tentang Masa Depan Pekerjaan
Bagian ensiklik yang paling berkesan bagi Uskup Hicks adalah pembahasan mengenai dunia kerja.
Ia mengaku sering mendengarkan kegelisahan kaum muda di keuskupannya. Banyak mahasiswa dan profesional muda bertanya-tanya apakah pendidikan yang mereka tempuh saat ini masih akan relevan beberapa tahun mendatang.
“Mereka bertanya: Apakah saya sedang belajar untuk pekerjaan yang mungkin tidak akan ada lagi dalam sepuluh tahun karena digantikan oleh AI?” katanya.
Pertanyaan tersebut menunjukkan adanya kecemasan yang nyata mengenai masa depan dunia kerja. Banyak generasi muda khawatir bahwa perkembangan teknologi akan menghilangkan berbagai profesi yang selama ini dianggap aman.
Karena itu, Hicks menilai Magnifica Humanitas memberikan peta jalan yang sangat praktis untuk membantu masyarakat menghadapi perubahan tersebut tanpa kehilangan martabat manusia.
Seperti Rerum Novarum di Era Digital
Ketika ditanya mengenai hubungan antara Magnifica Humanitas dan ensiklik Rerum Novarum, Uskup Hicks melihat adanya keterkaitan yang sangat jelas.
Pada akhir abad ke-19, Pope Leo XIII menerbitkan Rerum Novarum sebagai tanggapan terhadap Revolusi Industri yang mengubah dunia secara drastis. Saat itu, muncul kekhawatiran mengenai eksploitasi pekerja dan hilangnya martabat manusia di tengah perkembangan industri.
Menurut Hicks, situasi yang serupa sedang terjadi saat ini.
AI, katanya, akan mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Teknologi ini akan memengaruhi pekerjaan, pendidikan, ekonomi, komunikasi, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri.
Karena itu, ia yakin Magnifica Humanitas akan memiliki pengaruh jangka panjang yang serupa dengan Rerum Novarum.
“Saya percaya ensiklik ini akan digunakan selama puluhan tahun bahkan lintas generasi. AI akan mengubah segalanya, dan kita akan terus mengajukan pertanyaan yang sama: apakah teknologi hanya melayani keuntungan, ataukah benar-benar melayani manusia dan kesejahteraan bersama?” ujarnya.
Penting bagi Misi Pastoral Gereja
Sebagai ensiklik sosial, Magnifica Humanitas tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang misi Gereja itu sendiri.
Uskup Hicks menegaskan bahwa inti dokumen ini sebenarnya adalah pertanyaan mengenai manusia. Apa arti menjadi manusia di tengah dunia yang semakin dipenuhi teknologi?
Bagi Gereja, pertanyaan itu sangat mendasar karena berada di pusat pewartaan Injil.
Ia mengingatkan bahwa Jesus Christ adalah Allah yang menjadi manusia. Karena itu, seluruh misi Gereja selalu berhubungan dengan upaya membantu manusia hidup secara penuh sesuai martabatnya.
“Bagaimana kita berhubungan satu sama lain? Bagaimana kita melihat wajah Allah dalam sesama? Bagaimana kita mengenali saudara dan saudari kita dalam diri orang lain? Semua pertanyaan itu berkaitan dengan kemanusiaan dan juga dengan misi Gereja,” jelasnya.
Menurut Hicks, AI akan memengaruhi seluruh dimensi kehidupan tersebut. Karena itu, Gereja tidak dapat bersikap diam.
Syukur atas Kepemimpinan Paus Leo XIV
Menutup wawancaranya, Uskup Hicks menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada Paus Leo XIV karena telah menghadirkan sebuah dokumen yang substansial dan relevan pada tahap awal pontifikatnya.
Ia menilai Paus sedang membantu membentuk arah masa depan dunia melalui kerangka Ajaran Sosial Gereja dan terang Injil.
“Paus Leo XIV sedang membantu membentuk seperti apa dunia di masa depan. Beliau melakukannya melalui warisan Ajaran Sosial Gereja dan misi yang berasal dari Yesus Kristus sendiri. Untuk itu saya sungguh bersyukur,” tutupnya.
Bagi Uskup Hicks, Magnifica Humanitas bukan sekadar refleksi tentang kecerdasan buatan. Dokumen ini merupakan ajakan untuk memastikan bahwa di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, manusia tetap menjadi pusat perhatian, martabat tetap dihormati, dan kasih tetap menjadi dasar kehidupan bersama.
*** Deborah Castellano Lubov
Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-05/archbishop-new-york-magnifica-humanitas-encyclical-interview.html
