Kunci Video Berkualitas bagi Insan Komsos: Samuel Krismanto Bagikan 5 Prinsip Dasar Sinematografi

Samuel Krismanto memberikan materi cinematografy. | Foto: Komsos KAPal

BANYUASIN – Sinematografi bukan sekadar perkara mengoperasikan kamera, melainkan sebuah seni visual tentang apa yang dimasukkan dan apa yang dibuang dari dalam bingkai (frame). Hal ini ditegaskan oleh Anggota Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Samuel Krismanto, saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Teknik Videografi dan Pembuatan Profil Paroki/Lembaga di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (12-14 Juni 2026) ini mengusung tema “Mewartakan Wajah Gereja: Kreatifitas Digital dalam Spirit Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-60”. Pelatihan hasil kerja sama Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang (KAPal) dan Komisi Komsos KWI ini diikuti oleh 58 peserta yang merupakan insan Komsos dari lima dekanat, yaitu Dekanat Palembang, Belitang, Lubuk Linggau, Bengkulu, dan Jambi.

Hadir pula dalam acara ini Sekretaris Komisi Komsos KWI, Romo Petrus Noegroho Agoeng, Ketua Komisi Komsos KAPal, Romo Titus Jatra Kelana, serta Koordinator Pastoral Digital Komsos Dekanat Jambi, Romo Paulus Dito Rahmadi SCJ.

Dalam paparannya yang berjudul Prinsip Dasar Cinematography, Samuel Krismanto membagikan panduan praktis agar video yang dihasilkan para pegiat gereja tidak terkesan amatir dan asal-asalan. Menurutnya, siapa saja bisa membuat video berkualitas baik asalkan memahami lima prinsip dasar, yaitu menguasai komsosisi dan pembingkaian (framing), mengatur pencahayaan (lighting) secara tepat, pergerakan kamera harus bermakna, persiapan matang dan utamakan audio, dan memaksimalkan kamera handphone tanpa digital zoom.

Peserta pelatihan komsos. | Foto: Komsos KAPal

“Jangan pernah pergi ke lokasi syuting tanpa rencana,” ujar Samuel. Ia mewajibkan pembuatan storyboard atau minimal daftar bidikan (shot list) untuk menghemat waktu. Di sisi lain, audio berkualitas tidak boleh diabaikan. Penonton mungkin memaafkan gambar yang sedikit buram atau gelap, tetapi mereka tidak akan memaafkan audio yang kresek-kresek atau tidak jelas. Penggunaan mikrofon eksternal sangat disarankan. Jangan lupa pula merekam video pendukung (B-Roll) sebagai penyelamat saat proses penyuntingan (editing).

Lebih lanjut, bagi peserta yang merekam menggunakan smartphone, Samuel melarang penggunaan posisi vertikal untuk konten umum karena layar TV dan komputer berbasis horizontal (landscape). Ia menyarankan penggunaan tripod agar gambar stabil dan mengunci titik fokus secara manual agar eksposur video tidak berubah-ubah sendiri. Terakhir, ia melarang penggunaan digital zoom. Jika ingin membesarkan objek, perekam harus berjalan mendekatinya agar kualitas gambar dari lensa tetap terjaga.

Melalui teknik-teknik sederhana namun penting ini, para insan Komsos se-Keuskupan Agung Palembang diharapkan mampu memproduksi konten digital paroki yang lebih kreatif, menarik, dan profesional demi mewartakan wajah Gereja yang hidup di era digital.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.