
Sudah menjadi tradisi bagi umat Katolik di Paroki St. Petrus Kenten untuk memperingati Tahun Baru Jawa atau Satu Suro melalui Misa Inkulturasi yang berbalut budaya Jawa. Dari tahun ke tahun, antusiasme umat terlihat melalui penggunaan busana adat Jawa, tarian, musik gamelan, serta lagu-lagu berbahasa Jawa yang mewarnai perayaan.
Misa Inkulturasi digelar di Paroki St. Petrus Kenten pada Selasa (16/6) pukul 17.00 WIB. Perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan dari depan pastoran yang diiringi tarian, lantunan gamelan, dan lagu bernuansa Jawa yang menghantar para imam menuju altar. Sekitar 800 umat hadir dalam perayaan yang berlangsung khidmat tersebut.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Florentinus Suryanto SCJ, yang didampingi oleh Rm. Laurensius Suwanto SCJ, Rm. Gregorius Wahyu Wurdiyanto SCJ, juga turut hadir Vikjen KAPal Rm. Yohanes Kristanto serta delapan imam lainnya.
Dalam homilinya, Rm. Florentinus Suryanto SCJ, yang akrab disapa Rm. Floren, mengatakan bahwa di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tuntutan, banyak orang berusaha mengendalikan segala sesuatu sesuai dengan rencana dan keinginannya.
“Kita ingin usaha harus berjalan sesuai harapan, kesehatan harus selalu baik, dan masa depan harus sesuai dengan rencana yang telah kita susun. Kita menggenggam semuanya begitu kuat hingga hati kita sendiri menjadi lelah,” kata Rm. Floren.

Padahal, lanjutnya, dalam keheningan Tuhan seakan berkata kepada manusia, “Anak-Ku, hidup bukan untuk dicekik oleh kekhawatiran dan dikendalikan sepenuhnya oleh pikiranmu sendiri. Hidup adalah perjalanan yang perlu diserahkan kepada Tuhan.”
Menurutnya, pesan tersebut sejalan dengan tema perayaan Satu Suro tahun ini, yakni Sumeleh lan Sumarah Marang Gusti. Ia menjelaskan bahwa tema Sumeleh lan Sumarah Marang Gusti mengajak umat untuk berani menata kembali relasi dengan Tuhan melalui keheningan dan refleksi diri.
“Kita diajak untuk hening, berefleksi, dan mawas diri. Kita diajak bertanya kepada diri sendiri: ke manakah sebenarnya arah hidup kita saat ini? Sering kali manusia begitu sibuk menjalani hidup dengan berbagai urusan, tetapi lupa memeriksa arah hidupnya,” jelas Rm. Floren.

Menurutnya, dalam tradisi Jawa, sumeleh dan sumarah bukanlah sikap menyerah tanpa usaha.
“Sumeleh berasal dari kata seleh yang berarti meletakkan. Artinya, manusia berani meletakkan diri dan menenangkan hati di hadapan Tuhan. Sementara itu, sumarah berarti mempercayakan hidup sepenuhnya kepada kehendak Tuhan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semangat sumeleh lan sumarah marang Gusti perlu diwujudkan secara konkret dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat. “Dalam pastoral kaderisasi, kita diajak mempercayakan generasi penerus kepada Tuhan. Kita mendampingi anak-anak, remaja, dan orang muda agar menjadi generasi yang mampu meneruskan kehidupan Gereja dan masyarakat,” tuturnya.
Dalam pastoral digital, kita diajak menggunakan teknologi sebagai sarana pewartaan dan kebaikan, bukan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, atau perpecahan. Teknologi harus menjadi sarana yang mendekatkan manusia pada kebenaran dan kasih.

“Dalam pastoral ekologis kita diajak untuk menghidupi semangat untuk merawat ciptaan Tuhan. Alam adalah anugerah yang dipercayakan kepada kita. Orang yang sungguh berserah kepada Tuhan tidak akan rakus mengeksploitasi alam, tetapi akan merawat bumi sebagai rumah bersama,” tambahnya.
Terkait pastoral perdagangan manusia, Rm. Floren mengajak umat untuk semakin peduli terhadap sesama. “Kita dipanggil untuk menjaga martabat setiap manusia sebagai ciptaan Allah yang berharga. Karena itu, kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai bentuk eksploitasi yang masih terjadi di sekitar kita,” tegasnya.

Pada Tahun Devosional ini, Rm. Floren juga mengajak umat untuk semakin tekun membangun relasi dengan Tuhan. “Tidak mungkin kita belajar sumeleh dan sumarah jika kita jarang berjumpa dengan Tuhan. Semakin dekat dengan Tuhan, semakin kita mampu mempercayakan hidup kepada-Nya, semakin kita mampu mengasihi sesama, dan semakin kita mampu merawat alam ciptaan-Nya,” pungkasnya.
Usai perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan pemberkatan gunungan di halaman gereja. Setelah itu, gunungan diarak menuju halaman depan pastoran dengan diiringi tarian tradisional. Di lokasi tersebut, umat dan para imam menari bersama sebelum umat beramai-ramai mengambil hasil bumi yang tersusun dalam gunungan. Rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan kebersamaan melalui santap ringan bersama di halaman gereja.
***Kristina Yuyuani Daro
