Renungan Harian Jumat, 26 Juni 2026

2Raj. 25:1-12; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Mat. 8:1-4; BcO Yer. 2:1-13.

Penuh Belas Kasih

Saudara-saudari terkasih, kisah seorang penderita kusta yang datang memohon kesembuhan kepada Yesus menyingkapkan kuasa dan belas kasih Allah yang melampaui sekat-sekat sosial. Pada zaman itu, penyakit kusta dicap sebagai kutukan akibat dosa, membuat penderitanya dikucilkan dan kehilangan martabat di mata masyarakat. Namun, alih-alih menjauh, Yesus justru mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga ia sembuh, lalu Yesus memintanya memperlihatkan diri kepada imam serta mempersembahkan kurban syukur sesuai Hukum Musa sebagai bukti pemulihan yang utuh.

Melalui tindakan radikal ini, Yesus meruntuhkan stigma keliru bahwa Allah adalah pribadi yang menghukum manusia dengan penyakit. Allah yang diwartakan Yesus adalah Allah yang penuh kasih, yang memandang setiap pribadi berharga dan memiliki martabat yang sama. Dengan menyembuhkan sang penderita kusta, Yesus tidak hanya memulihkan fisiknya dari penyakit, tetapi juga merangkul kembali jiwa yang terbuang dan mengangkat kembali martabat kemanusiaannya yang sempat runtuh di hadapan sesama.

Pesan pertama dari Injil hari ini mengajak kita untuk belajar percaya dan berserah kepada Tuhan di tengah penderitaan. Ketika didera sakit, kegagalan, atau beratnya beban hidup, kita sering kali merasa lemah dan ditinggalkan. Penderita kusta ini mengajari kita bahwa iman yang disertai kerendahan hati adalah kunci utama untuk datang mendekat kepada-Nya. Meski Tuhan tidak selalu melenyapkan badai persoalan kita secara instan, Ia senantiasa menganugerahkan kekuatan, penghiburan, dan harapan agar kita mampu bertahan serta berkemenangan dalam setiap pergumulan.

Pesan kedua menekankan panggilan kita untuk memiliki hati yang penuh belas kasih seperti Yesus. Di dalam kehidupan sosial, kita masih sering menjumpai sikap menghakimi, merendahkan, atau menjauhi mereka yang miskin, sakit, dan memiliki masa lalu yang kelam. Sikap diskriminatif seperti ini jelas melukai martabat manusia sebagai citra Allah. Kita diutus untuk meneladani Yesus, berani mendekat, menjamah, dan merangkul mereka yang terluka, sehingga kehadiran kita dapat menjadi perpanjangan tangan kasih Allah yang memulihkan sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Krisna KiloTingkat V

Leave a Reply

Your email address will not be published.