Menyambut 100 Tahun Suster FCh: Bedah Buku Ungkap Misteri ‘Muder Trees’ dan Jejak Belarasa Satu Abad

Buku-buku yang dibedah menjelang 1 abad Kongregasi Charitas di Indonesia. | Foto: Komsos KAPal

PALEMBANG — Menyambut perayaan yubileum seabad (100 tahun) kehadiran Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di Indonesia pada 9 Juli 2026, Panitia Peringatan menggelar acara bedah buku Misteri Muder Trees dan Seabad Suster Charitas di Indonesia pada Jumat (26/6/2026). Acara yang berlangsung di Ballroom Assisi Charitas Hospital Palembang ini dihadiri lebih dari 300 peserta.

Acara bersejarah ini dihadiri langsung oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, para imam, biarawan-biarawati, jajaran dokter, staf Charitas Hospital, perwakilan guru, serta sejarawan Gereja sekaligus pembedah buku, Romo Antonius Eddy Kristiyanto OFM.

Bedah buku bersama para penulis. | Foto: Komsos KAPal

Mengupas Sisi Kemanusiaan Ibu Pendiri

Sesi pertama membedah buku berjudul Misteri Muder Trees, Pendiri Kongregasi Suster Gastrhuis di Belanda (1886) Akhirnya Terungkap. Buku ini merupakan karya Romo Marc Lindeijer SJ yang diterjemahkan oleh Sr. M. Hieronima FCh dan disunting oleh Monique Soesman dan Sr. M. Carolisa FCh.

Buku ini sukses menghadirkan sisi manusiawi Muder Theresia Saelmakers, perempuan tangguh asal Belgia yang menjadi pendiri Kongregasi FCh. Watak kuat, disiplin, kesederhanaan, dan belarasa mendalamnya terhadap kaum miskin dikupas secara hidup melalui pendekatan unik berupa surat-surat fiksi kepada Suster Perpetua.

“Pelayanan kita di Palembang dan di mana pun, bahkan sampai ke daerah terpencil, menuntut kita untuk terus membaharui semangat rendah hati dalam keterbatasan,” tegas Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia, FCh.

Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia FCh. | Foto: Komsos KAPal

Satu Abad di Indonesia: Berakar dan Berbuah

Sesi kedua membedah buku setebal 808 halaman berjudul Berakar dan Berbuah dengan Sukacita: Seabad Suster Charitas (FCh) di Indonesia 1926–2026. Buku kolaboratif ini ditulis oleh Romo Antonius Eddy Kristiyanto OFM, Herman Yoseph Sunu Endrayanto, Sr. M. Anggi FCh, Sr. M. Hieronima FCh, dan Sr. M. Carolisa FCh.

Buku ini merangkum napak tilas kedatangan 5 suster misionaris pertama dari Belanda yang mendarat di Pelabuhan Boom Baru, Palembang pada 9 Juli 1926. Mereka adalah Zr. M. Raymunda Hermans (Pimpinan), Zr. M. Wilhelmina Blesgraaf, Zr. M. Caecilia Luyten, Zr. M. Alacoque van der Linden, dan Zr. M. Chatarina Koning.

Karya ini menguraikan tiga filosofi utama tema yubileum, yaitu Berakar dan Berbuah dengan Sukacita. Berakar mengungkapkan hidup membiara yang didasarkan sepenuhnya pada kasih, Sabda Allah, dan semangat kenosis (pengosongan diri) Yesus Kristus; berbuah tampak dari perkembangan pesat pelayanan medis di Palembang hingga menjadi jaringan Charitas Hospital Group, sekolah, panti sosial, bahkan mampu mengirim misionaris Indonesia ke Mississippi, Amerika Serikat; dan dengan sukacita menggambarkan keutamaan para suster yang senantiasa memancarkan kegembiraan saat melayani masyarakat yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan sakit.

Peserta bedah buku. | Foto: Komsos KAPal

Menjaga Sentuhan Manusiawi di Era Digital

Dalam refleksi spiritualitasnya, para suster FCh menegaskan prinsip Belarasa yang Tak Terbagi. Sikap ini diwujudkan dengan hadir utuh secara tubuh, pikiran, dan jiwa bagi sesama tanpa membedakan suku, agama, ras, atau status sosial.

Memasuki abad baru pelayanan, Kongregasi FCh berkomitmen untuk terus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di tengah era digital dan kecerdasan buatan (AI), mereka bertekad menjaga agar esensi sentuhan manusiawi yang penuh kasih tetap hidup dan menjadi oase damai bagi masyarakat luas.

***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.