Am. 3:1-8;4:11-12; Mzm. 5:5-6,7,8; Mat. 8:23-27; BcO Yer. 14:1-16.
Tuhan Selalu Hadir

Saudara-saudari terkasih, peringatan Para Martir Pertama di Roma mengajak kita mengenang orang-orang Kristen perdana yang rela menyerahkan hidup demi mempertahankan iman kepada Kristus. Mereka mengalami ancaman, penderitaan, bahkan kematian, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka. Kesetiaan para martir menjadi kesaksian bahwa iman sejati tidak goyah sekalipun diterpa badai penderitaan.
Dalam bacaan pertama, nabi Amos menyampaikan teguran Tuhan kepada umat Israel yang mulai menjauh dari-Nya. Tuhan telah berkali-kali mengingatkan mereka melalui berbagai peristiwa, tetapi mereka belum juga kembali kepada-Nya. Karena itu, Tuhan bersabda, “Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu”. Sabda ini bukan sekadar ancaman, melainkan ajakan untuk bertobat dan memperbarui hidup. Tuhan menghendaki umat yang setia dan mau mendengarkan suara-Nya.
Dalam Injil, para murid berada di tengah badai besar ketika ombak mengguncang perahu, mereka menjadi takut dan panik. Mereka merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli karena Yesus sedang tertidur. Namun setelah mereka berseru meminta pertolongan, Yesus bangun dan meredakan badai itu. Melalui peristiwa ini, Yesus mengajarkan bahwa iman harus tetap hidup sekalipun keadaan tampak menakutkan.
Saudara-saudari terkasih, bacaan hari ini mengajak kita bercermin pada para martir pertama di Roma. Mereka juga mengalami “badai” berupa penganiayaan dan ancaman kematian, tetapi mereka tetap percaya kepada Kristus. Kesetiaan mereka lahir karena mereka yakin bahwa Tuhan tetap hadir dan berkuasa atas segala sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak menghadapi penganiayaan seperti para martir, tetapi kita tetap menghadapi badai berupa kesulitan, kekecewaan, dosa, dan pergumulan hidup.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita agar tidak kehilangan iman ketika badai datang. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk memiliki iman yang teguh dan hati yang selalu siap kembali kepada Tuhan. Ketika kita merasa takut atau lemah, jangan menjauh dari Tuhan, melainkan datang dan berseru kepada-Nya seperti para murid “Tuhan, tolonglah kami”. Tuhan yang sama yang menenangkan badai juga mampu menenangkan hati dan kehidupan kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Yusuf Adven Papahang–Tingkat V
