Jambore Seminari Menengah Regio Sumatera 2026: Jadikan Yesus sebagai Pusat Hidup

Komisi Seminari KWI sekaligus formator Seminari Tinggi Pematang Siantar, Romo Irfantinus Tarigan. | Foto: Dok. Pribadi

SIBOLGA, SUMATERA UTARA — Menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, para calon imam muda diajak untuk menguji motivasi dan kedalaman akar panggilan mereka. Hal ini mengemuka dalam sesi seminar pertama Jambore Seminari Menengah Regio Sumatera 2026 yang dibawakan oleh Romo Irfantinus Tarigan di Seminari Menengah Santo Petrus Aek Tolang, Sibolga, Selasa (23/6/2026).

Melalui metode refleksi “Pohon Biografiku”, staf Komisi Seminari KWI sekaligus formator Seminari Tinggi Pematang Siantar, Romo Irfantinus Tarigan mengajak para seminaris menganalogikan kehidupan mereka seperti sebuah pohon. Bagian akar mewakili elemen pembentuk kepribadian paling kuat, sedangkan batang, daun, dan buah menggambarkan kualitas positif yang siap dibagikan kepada sesama.

Dalam sesi yang interaktif ini, Pastor Irfan mengingatkan bahwa setiap pohon kehidupan pasti akan menghadapi “badai” atau pengaruh negatif yang menghambat pertumbuhan. Namun, badai tersebut hanya bisa diatasi jika pohon memiliki akar yang menancap kuat dan dalam.

Lebih dalam, Romo Irfan memetakan tiga level akar panggilan yang menjadi motivasi seorang calon imam, yaitu Level Egosentris yang masih berorientasi pada diri sendiri, seperti keinginan menjadi imam karena status sosial yang dihormati dan dikagumi banyak orang; Level Humanis Filantropis yang mulai memikirkan orang lain, misalnya tergerak menjadi imam karena melihat masih banyak umat yang belum mendapatkan pelayanan sakramen; dan Level Teosentris sebagai level terdalam dan utama, di mana seseorang memilih menjadi imam murni karena Tuhan dan siap menyerahkan seluruh hidupnya sebagai pekerja di ladang-Nya.

Romo Irfan menegaskan bahwa ketiga level ini harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Panggilan seorang seminaris tidak boleh berhenti pada ego pribadi atau sekadar pelayanan sosial, melainkan harus menembus level teosentris yang mengarahkan hidup pada Kristus sebagai pusatnya.

“Seminaris yang berakar dalam Kristus akan memiliki kecerdasan spiritual. Ia mampu melihat Tuhan dalam setiap pengalaman hidupnya, atau dengan kata lain, melihat dengan cara Tuhan melihat,” jelas Romo Irfan.

Di akhir sesi, ia memberikan pesan kuat yang membekas bagi para peserta mengenai esensi pembinaan calon imam. Bahwa masa depan panggilan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa tinggi pohon itu tumbuh menjulang, melainkan seberapa dalam akar tersebut mampu mencengkeram tanah kehidupan.

Lima Seminari

Pertemuan akbar yang digelar berkala setiap empat tahun ini mempertemukan para seminaris calon imam dari lima seminari di Sumatera. Kelimanya adalah Seminari Menengah Santo Petrus Aek Tolang (Keuskupan Sibolga) selaku tuan rumah, Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematang Siantar (Keuskupan Agung Medan), Seminari Menengah Maria Nirmala Padang (Keuskupan Padang), Seminari Menengah Mario John Boen (Keuskupan Pangkalpinang), dan Seminari Menengah Santo Paulus Palembang (Keuskupan Agung Palembang).

Para seminaris peserta jambore. | Foto: Dok. Pribadi

Kegiatan yang mengusung tema “Berakar dalam Kristus, Bertumbuh dalam Persaudaraan, Diutus bagi Dunia” ini pun sukses memantik ruang refleksi bagi para seminaris untuk mempererat persaudaraan dan menumbuhkan semangat pelayanan umat di masa depan.

***Daniel D. Lesmana (Guru Seminari Menengah St. Paulus Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.