
MUNTILAN – Para pegiat komunikasi sosial (Komsos) dituntut tidak hanya mahir mengoperasikan perangkat kecerdasan buatan (AI), tetapi juga harus tetap kritis dan mampu merawat lingkungan komunikasi sebagai ruang hidup kebenaran bersama.
Pesan utama tersebut ditegaskan oleh Ketua Tim IT Keuskupan Agung Semarang, Romo Dominicus Donny Widiarso dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Imagologi Komsos bagi para Ketua dan pegiat Komsos Keuskupan se-Indonesia di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026) sore.
Dalam paparannya, Romo Donny mengibaratkan komunikasi sebagai sebuah lingkungan yang harus terus dijaga. Ia menegaskan bahwa lingkungan komunikasi adalah tempat kebenaran tumbuh, sehingga tidak boleh dimonopoli atau ditutupi demi kepentingan kelompok tertentu.
“Tantangannya adalah bagaimana teknologi digunakan dengan tetap berpijak pada prinsip bahwa kebenaran harus menjadi milik bersama,” kata Romo Donny.
Ia juga mengimbau pegiat Komsos untuk mengutamakan jurnalisme yang tekun dan proses verifikasi ketimbang bertindak reaktif di media sosial.
“Jangan sampai kita lebih mengutamakan reaksi daripada verifikasi,” tegasnya.
Terkait pemanfaatan teknologi, Romo Donny menjelaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang sangat efisien. AI mampu membantu menyusun perencanaan konten, kalender publikasi, hingga menganalisis data insight media sosial.
Meski AI dapat mempercepat proses kreatif dan memberikan berbagai rekomendasi, kendali penuh tetap ada di tangan manusia. Pengguna harus selalu mengedepankan proses discernment atau pertimbangan nilai etis sebelum merilis sebuah karya.
“AI bisa membantu kita menghasilkan banyak kemungkinan, tetapi tetap manusia yang harus melakukan penilaian dan menentukan pilihan,” ujar Romo Donny.
Ia mengingatkan para pegiat komunikasi agar selalu menyadari manusia yang berada di ujung karya mereka. Ukuran keberhasilan sebuah karya bukan sekadar angka atau popularitas, melainkan seberapa jauh karya tersebut membuat orang makin mengalami perjumpaan nyata dan menumbuhkan nilai kemanusiaan.
***TJK
