PW St. Agustinus, Uskup-Pujangga Gereja
1Kor. 1:17-25; Mzm. 33:1-2.4-5.10ab.11; Mat. 25:1-13
BcO 1Tim. 3:1-16
Menjaga Pelita Hati

Saudara-saudari terkasih, hari ini Yesus mengajak kita merenungkan perumpamaan tentang sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai pria. Lima di antaranya bijaksana karena membawa minyak cadangan, sementara lima lainnya bodoh karena hanya membawa pelita tanpa persiapan. Ketika mempelai datang di tengah malam, pintu pesta perjamuan tertutup bagi mereka yang terlambat karena kehabisan minyak. Kisah ini mengingatkan kita bahwa hidup beriman tidak cukup hanya dimulai dengan niat yang baik, melainkan harus dijaga dengan kesetiaan dan kesiapsiagaan sampai akhir. Minyak dalam pelita itu adalah simbol dari iman yang terus dipelihara, doa yang tekun, serta kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari.
Pesan Injil hari ini terasa sangat hidup ketika kita menyandingkannya dengan teladan Santo Agustinus, yang pestanya kita peringati hari ini. Masa muda Agustinus dipenuhi dengan pencarian jati diri, ambisi duniawi, dan kesenangan sesaat. Ia sempat salah mengisi “pelita” hidupnya dengan hal-hal yang keliru, hingga membuat jiwanya hampa. Namun, berkat rahmat Allah dan untaian doa air mata ibunya, Santa Monika, Agustinus mengalami pertobatan yang radikal. Pengalamannya membuktikan bahwa tidak pernah ada kata terlambat bagi siapa pun yang mau membuka hati bagi Allah, namun kesempatan untuk berbalik kepada-Nya adalah hari ini, bukan nanti.
Salah satu ungkapan Santo Agustinus yang sangat terkenal dan mendalam berbunyi: “Hati kami gelisah ya Tuhan, sampai ia beristirahat di dalam Engkau.” Kegelisahan hati Agustinus adalah cermin dari pergulatan hidup kita saat ini. Sering kali kita lelah mencari kebahagiaan pada harta, popularitas, atau kenyamanan duniawi yang ternyata hanya memberikan terang sesaat lalu padam. Kita lupa bahwa satu-satunya “minyak” yang mampu membuat pelita hidup kita menyala dengan abadi adalah kehadiran Kristus sendiri. Baru ketika Agustinus mengizinkan Kristus merajai hatinya, kegelisahan itu sirna dan pelita imannya memancarkan terang yang luar biasa bagi Gereja sepanjang masa.
Saudara-saudari, mari kita masuk ke dalam keheningan hati dan bertanya pada diri sendiri: Bagaimanakah kondisi pelita iman kita saat ini? Apakah sinarnya mulai redup karena kita terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa mengisi minyaknya melalui sakramen Ekaristi, doa, dan kepedulian pada sesama? Meneladani Santo Agustinus, mari kita manfaatkan hari ini untuk memurnikan kembali motivasi hidup kita. Jangan tunda waktu untuk bertobat dan mendekat pada-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Yoga
