
PALEMBANG — Para seminaris kelas Rhetorica Seminari Menengah Santo Paulus Palembang mengikuti kegiatan pembekalan calon pendamping Bina Iman Anak (BIA) melalui beragam permainan kreativitas di Ruang Rekreasi Seminaris, Kamis (3/9/2026) siang.
Dalam kegiatan yang menghadirkan salah satu dari Tim Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Agung Palembang, Sr. Christine CB, para seminaris diajak terlibat dalam permainan sederhana namun sarat makna. Beberapa di antaranya meliputi tantangan mengubah gambar sendok menjadi bentuk lain yang unik, serta dinamika kelompok menemukan jalan keluar dari labirin menggunakan spidol yang ditarik bersama oleh tiga orang lewat utas tali.

Melalui permainan interaktif ini, Sr. Christine mengajak para seminaris melihat berbagai nilai penting dalam mendampingi anak-anak. Salah satu poin utama yang ditegaskan adalah kesabaran, terutama saat berhadapan dengan anak-anak yang memiliki karakter beragam serta rasa ingin tahu yang tinggi.
“Kesabaran ini menjadi kunci dalam berinteraksi dengan anak-anak yang penuh rasa ingin tahu,” ungkapnya.
Selain kesabaran, komunikasi menjadi bagian penting dalam proses pendampingan. Para calon pendamping dituntut untuk memahami kebutuhan anak dan menyesuaikan pendekatan yang tepat. Pendampingan dinilai tidak cukup hanya berbekal teori, melainkan harus diimbangi dengan praktik langsung agar pesan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak.

Kegiatan pembekalan ini juga menekankan pentingnya aspek kreativitas. Menurut Sr. Christine, kreativitas tidak selalu berarti menciptakan hal yang sama sekali baru, melainkan kemampuan untuk melihat sesuatu yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Dengan pendekatan kreatif, pendampingan dapat dikemas secara interaktif sehingga anak-anak merasa senang dan terlibat secara aktif.
Tak kalah penting, persiapan yang matang juga menjadi poin utama. Calon pendamping diingatkan untuk menyusun perencanaan yang jelas sebelum melaksanakan kegiatan, mencakup tema, tujuan, sasaran, hingga alat dan bahan yang dibutuhkan.
“Semua elemen ini harus ditulis secara rinci agar mudah dipahami dan dilaksanakan oleh orang lain yang mungkin akan melanjutkan kegiatan tersebut,” tegas Sr. Christine.
Melalui pembekalan ini, para seminaris Rhetorica diajak menyadari bahwa pendampingan anak membutuhkan perpaduan antara kesabaran, komunikasi, kreativitas, dan perencanaan yang matang. Pendidikan iman tidak sekadar penyampaian materi verbal, melainkan harus diwujudkan melalui pengalaman dan tindakan nyata yang membantu anak-anak bertumbuh dalam kasih, kebersamaan, serta nilai-nilai Kristiani.
***Natan Nael Pandiangan dan Timotius Gregontino Bayunadi (Seminaris Kelas Rhetorica)
