27 Suster FCh Ikrarkan Kaul Membiara di Palembang, Diteguhkan dalam Kesetiaan dan Kesederhanaan

Foto: Dok. Kongregasi FCh

PALEMBANG — Suasana penuh sukacita dan haru mewarnai Kapel Novisiat FCh St. Bonaventura, Palembang, pada Selasa (8/9/2026) pagi. Sebanyak 27 suster Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) resmi mengikrarkan kaul membiara dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Misa kudus ini menjadi momen peneguhan iman dan komitmen penyerahan diri secara utuh bagi para biarawati di tengah tantangan zaman modern.

Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri puluhan imam, biarawan, biarawati, serta ratusan umat dan keluarga pestawati. Mgr. Yohanes Harun Yuwono memimpin Misa didampingi oleh Romo Florentinus Heru Ismadi SCJ dan Romo Hyginus Gono Pratowo sebagai imam konselebran.

Dari total 27 suster yang mengikrarkan pembaruan komitmen hidup membiara, sebanyak 18 suster melakukan pembaruan kaul, 7 suster mengikrarkan Profesi Pertama (kaul sementara), dan 2 suster mengikrarkan Profesi Kekal. Kedua suster yang mengikrarkan kaul kekal tersebut adalah Sr. M. Dian FCh yang berasal dari Paroki St. Paulus Mano, Keuskupan Ruteng dan Sr. M. Rafael FCh dari Paroki St. Fransiskus Asisi Pangaribuan, Keuskupan Sibolga.

Foto: Dok. Kongregasi FCh

Syukur dan Penyembuhan Diri

Mewakili para pestawati, Sr. M. Agnetta FCh dari Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari menyampaikan ungkapan terima kasih yang mendalam kepada pimpinan kongregasi, Bapa Uskup, para formator, serta pihak keluarga yang senantiasa mendoakan perjalanan panggilan mereka.

“Terima kasih sudah setia mendoakan kami sejak awal tumbuh panggilan dalam diri kami hingga saat ini kami boleh berprofesi. Oleh karena kebaikan Tuhan, bimbingan dari para suster dan doa dari keluarga, kami boleh setia hingga saat ini,” tuturnya.

Foto: Dok. Kongregasi FCh

Mengutip ayat Kitab Suci, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit,” Sr. Agnetta menggambarkan perjalanan formasio membiara sebagai proses pemulihan rohani. Menurutnya, melalui pembinaan yang panjang, para suster mengalami penyembuhan atas luka dan kelemahan hidup sehingga dimampukan untuk kembali sehat dan mantap melangkah dalam panggilan Tuhan.

“Memang kami belum sepenuhnya sembuh, namun kami mempunyai tekad yang kuat untuk melanjutkan proses di tahap-tahap selanjutnya,” tegasnya.

Bekerja Sama dengan Rahmat Tuhan

Sementara itu, perwakilan orang tua pestawati, Romo Cyrelus Suparman Andi MI, mengingatkan para suster bahwa panggilan hidup membiara semata-mata merupakan rahmat cuma-cuma dari Allah, bukan karena kehebatan, kepintaran, atau kehebatan pribadi.

“Kami para orang tua dan keluarga senantiasa berdoa agar rahmat panggilan yang Tuhan telah berikan kepada kalian senantiasa bertahan, dan kalian pun tetap setia dalam panggilan dan juga seluruh kehidupan Anda selanjutnya,” ungkap Romo Andi.

Foto: Dok. Kongregasi FCh

Lebih lanjut, imam Kamilian asal Manggarai ini menekankan pentingnya menjaga kerendahan hati dan menghindari kesombongan rohani, terutama setelah mengikrarkan kaul kekal. Ia berpesan agar para suster senantiasa aktif bekerja sama dengan rahmat Tuhan melalui doa harian, perayaan Ekaristi, dan kedisiplinan hidup, serta menjadikan komunitas membiara sebagai “rumah yang nyaman” dalam melayani sesama.

“Kami akan bahagia kalau Anda menjadi suster yang baik, yang dipuji-puji karena kebaikan Anda, ketaatan, kesetiaan Anda dalam panggilan dan juga dalam pelayanan Anda. Tetaplah setia,” pungkasnya.

Jaga Api Semangat Panggilan

Dalam sambutannya, Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia FCh, menyampaikan apresiasi atas keberanian 27 suster muda dalam mengikrarkan komitmen mereka. Di tengah arus dunia modern yang menawarkan berbagai kenikmatan dan ketidakpastian, komitmen para suster menjadi kesaksian iman yang sangat berharga.

“Tuhan begitu mencintai kita, maka mari kita balas kebaikan Tuhan dengan kesetiaan kita,” ungkapnya.

Foto: Dok. Kongregasi FCh

Sr. Patricia menegaskan bahwa pada hakikatnya setiap kaul yang diikrarkan didasari oleh komitmen kesetiaan yang abadi. Ia mengajak seluruh umat, keluarga, dan Gereja untuk terus mendukung serta mendoakan para suster agar api semangat panggilan pertama mereka tetap bernyala, meski diterpa berbagai tantangan dan keterbatasan manusiawi.

“Mari kita menjaga api semangat kita. Meskipun nyalanya redup karena kerapuhan kita, karena dosa-dosa kita, kita percaya Tuhan tidak pernah memadamkan kita. Maka mari menjaga api semangat itu, api panggilan itu, supaya tetap bernyala,” tegasnya.

Perayaan Ekaristi pembaruan kaul dan profesi ini diakhiri dengan pemberian ucapan selamat dari para imam, keluarga, dan seluruh umat yang hadir kepada pestawati  serta ramah Tamah bersama di kompleks Rumah Retret Giri Nugraha (RRGN).

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.