
PEMATANGSIANTAR — Kehadiran para imam dan biarawan-biarawati di media sosial tidak cukup hanya bermodal populer atau jago mengikuti tren hiburan. Kerasulan digital yang sejati baru memiliki arti jika konten di layar berakar pada spiritualitas, berbobot secara pengajaran, dan berujung pada tindakan belas kasih yang nyata.
Sentilan sekaligus ajakan reflektif itu disampaikan oleh imam Keuskupan Agung Jakarta yang juga aktif melayani lewat media sosial, Romo Joseph Susanto, saat menjadi pembicara dalam Munas XV Unio Indonesia di Catholic Center-Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan (CC-PPU KAM) Pematangsiantar, Senin (15/9/2026) sore.
Sesi yang juga menghadirkan Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial KWI, Romo Petrus Noegroho Agoeng ini dihadiri para imam dan uskup dari berbagai daerah ini menyoroti bagaimana media sosial sering kali hanya dimanfaatkan untuk mengejar popularitas dan hiburan semata, tanpa memberi kedalaman substansi.
Sentilan untuk Konten Hiburan
Di hadapan peserta Munas, Romo Joseph memberikan kritik reflektif terkait maraknya konten hiburan, termasuk konten joget yang dibuat oleh sebagian imam maupun biarawan-biarawati di media sosial.
Mendalami tema “Imam Diosesan sebagai Influencer Hidup Beriman bagi Umat,” ia menegaskan bahwa konten hiburan tidak dilarang. Namun, ada pertanyaan mendasar soal identitas dan kompetensi pelayan Gereja di ruang publik digital.
“Jika seorang imam atau biarawan-biarawati bisa tampil begitu luwes dalam konten hiburan, semestinya keluwesan yang sama juga tampak ketika berbicara mengenai Kitab Suci, teologi, filsafat, dan kekayaan iman Gereja,” tegasnya.
Menurutnya, media sosial jangan sampai membuat seorang pewarta kehilangan identitas aslinya hanya demi mengikuti tren algoritma.
Tiga Pilar Inkarnasi Digital
Untuk membangun kehadiran digital yang berbobot, Romo Joseph menawarkan konsep Tiga Pilar Inkarnasi Digital: Spiritualitas sebagai Akar, yaitu sumber utama yang memberi kedalaman pada setiap konten; Pengajaran sebagai Suara yaitu memberi isi, arah, dan pemahaman iman yang benar; dan Belas Kasih Nyata sebagai Tangan menjadi wujud konkret tindakan kasih kepada sesama di dunia nyata.
Bagi dosen STF Driyarkara Jakarta ini, layar seluler harus menjadi pintu menuju perjumpaan nyata, bukan malah menggantikannya. Layar hanyalah sarana, sementara wujud iman yang utuh terlihat saat Sabda diubah menjadi aksi mendampingi masyarakat yang membutuhkan, seperti orang sakit dan warga kurang mampu.
Konsistensi Adalah Kunci
Selain masalah substansi, Romo Joseph mengingatkan konsekuensi menjadi figur publik di dunia digital, seperti berkurangnya ruang privasi dan tantangan menjaga keluasan perspektif.
Ia menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci utama dalam pelayanan digital. Ukuran keberhasilan kerasulan digital bukanlah jumlah views, likes, atau subscribers, melainkan sejauh mana kehadiran di media sosial mampu menggerakkan orang untuk berbuat kebaikan di dunia nyata.
“Setelah layar dimatikan, apa yang tersisa?” pungkas Romo Joseph, mengajak para pelayan Gereja memastikan bahwa pewartaan iman tidak berhenti saat konten selesai diunggah, melainkan menemukan kepenuhannya dan terus hidup menjelma dalam tindakan kasih sehari-hari yang menggerakkan.
***TJK
