Sindir Budaya “Yang Penting Posting”, Komsos KWI Ingatkan Peran Imam di Media Sosial

Foto: Panitia Munas XV Unindo

PEMATANGSIANTAR — Di era attention economy dan maraknya kecerdasan buatan (AI), kehadiran para imam di media sosial tidak boleh sekadar mengejar likes, followers, atau popularitas. Imam dipanggil untuk menjadi influencer hidup beriman yang membawa umat semakin dekat kepada Tuhan, bukan mempromosikan diri sendiri.

Pesan tegas tersebut disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), Romo Petrus Noegroho Agoeng dalam Musyawarah Nasional (Munas) XV Unio Indonesia di Catholic Center-Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan (CC-PPU KAM) Pematangsiantar, Senin (15/9/2026) sore.

Di hadapan para imam peserta Munas XV dan sejumlah uskup, seperti Uskup Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm, Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, dan Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX, Romo Agoeng bersama pegiat media sosial dari Keuskupan Agung Jakarta, Romo Yoseph Susanto, mengajak para pelayan Gereja melihat ulang makna pengaruh digital dalam terang iman Kristiani dengan tema “Imam Diosesan sebagai Influencer Hidup Beriman bagi Umat.”

Bukan Algoritma, tapi Kristus

Romo Agoeng menekankan bahwa pengaruh sejati seorang imam tidak ditentukan oleh algoritma media sosial, melainkan lahir dari kedalaman iman dan kehidupan yang menyentuh sesama.

Refleksi ini berpatokan pada ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, yang mengingatkan perlindungan martabat manusia di tengah pesatnya teknologi AI.

“Teknologi dan AI bisa membantu karya pastoral, tapi manusia dan martabatnya tidak boleh direduksi menjadi sekadar objek data atau hasil keputusan algoritma. Kristus harus tetap menjadi pusat,” tegas Romo Agung.

Ia merumuskan prinsip komunikasi digital bagi para imam secara sederhana namun tajam: jangan terjebak budaya “yang penting posting“, melainkan “posting-lah yang penting-penting”.

Menjaga Wajah dan Suara Manusia

Merujuk pada Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, Minggu, 17 Mei 2026 silam, Romo Agoeng mengingatkan bahaya dunia digital yang makin dipenuhi bot, figur virtual, dan simulasi relasi. Di tengah ancaman tersebut, komunikasi imam harus tetap menjadi perjumpaan antarmanusia yang nyata dan otentik.

Media sosial diposisikan hanya sebagai ruang perutusan, bukan panggung pamer diri. Imam juga diingatkan untuk membangun persatuan (communio), bukan malah menjadi sumber polarisasi atau pemelihara kepentingan kelompok tertentu.

“Kita bukan mewartakan diri, tetapi mewartakan Kristus,” ujar Romo Agung.

Ukuran keberhasilan kerasulan digital seorang imam bukanlah seberapa sering ia terlihat di layar seluler, melainkan apakah melalui kehadirannya, Kristus makin terlihat nyata oleh umat.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.