PALEMBANG — Perjalanan panjang 40 tahun Persekutuan Doa Kharismatik Katolik (PDKK) Ibu-Ibu Hati Kudus dirayakan penuh sukacita dan keharuan. Rangkaian perayaan Yubileum ini ditandai dengan gelaran Kebangunan Rohani Katolik (KRK) bertema “Mahkota Duri di Atas Kepala-Nya” yang sukses menyedot perhatian lebih dari 500 umat Katolik di Auditorium Universitas MDP Palembang, Minggu (18/10/2026) siang.

Acara yang diselenggarakan dengan khidmat namun semarak ini diawali oleh sejumlah sambutan. Ketua Panitia KRK, Virna Virantie, mengungkapkan rasa syukur mendalam atas terselenggaranya acara ini. Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas berbagai dukungan dan apresiasi yang diterima hingga acara ini dapat terselenggara.

“Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada air mata, pengorbanan, dan pelajaran. Kita ada hari ini bukan karena kekuatan kita, melainkan karena kasih dan penyertaan Tuhan. Mari kita buka hati agar Roh Kudus memberi pembaruan hidup,” tutur Virna.
Berawal dari Kerinduan
Kisah haru di balik sejarah berdirinya PDKK Ibu-Ibu Hati Kudus kemudian dibagikan oleh sang Ketua, Lilis Desyana. Ia mengenang bagaimana komunitas ini dirintis pada tahun 1986 oleh tak lebih dari 10 orang ibu rumah tangga yang haus mendalami firman Tuhan. Berawal dari kerinduan membaca Alkitab mereka pun berkumpul setiap Sabtu siang di sela-sela kesibukan mengurus rumah tangga, komunitas ini bertahan hingga kini.

“Ibu-ibu yang kini berusia 80 hingga 90 tahun pun masih setia hadir. Kalau soal semangat puji-pujian, semangat ibu-ibu ini bahkan mengalahkan persekutuan umum. Lewat doa inilah para ibu mendapatkan kekuatan mendampingi suami dan mendidik anak-anak,” jelas Lilis bangga seraya mengajak generasi muda berusia 40-an tahun untuk meneruskan estafet pelayanan tersebut.
Dukungan serupa disampaikan oleh Ketua Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Kharismatik Katolik (BPK PKK) Keuskupan Agung Palembang, Paulus Yohanes Johan Wijaya. Ia memuji konsistensi PDKK Ibu-Ibu Hati Kudus yang terbukti menjadi saluran berkat nyata bagi banyak keluarga selama empat dekade.

“Saya percaya 40 tahun telah menjadi sebuah angka yang menjadi berkat buat banyak orang. Semoga Persekutuan Doa Ibu-Ibu semakin berkembang, semakin memberkati banyak ibu-ibu yang di luar sana boleh mengalami kasih Tuhan. Mari kita bersukacita dalam pujian penyembahan, kita naikkan pujian bagi Allah kita yang mahatinggi, Tuhan Yesus Kristus,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Campus Ministry Unika Musi Charitas (UKMC) Palembang mengajak seluruh peserta untuk merenungkan tentang mahkota duri di atas kepala Yesus yang memiliki makna mendalam. “Mahkota duri adalah harga paling mahal, harga paling indah seperti lambung-Nya yang tertusuk tombak yang dibayar Tuhan untuk keselamatan kita putra-putri yang dikasihi-Nya,” tuturnya.

Imam yang berkarya di Komisi Pendidikan ini juga menghubungkan perayaan KRK dengan momen penting Gereja Universal, yakni Bulan Rosario dan Peringatan 100 Tahun Hari Minggu Misi Sedunia. Ia menegaskan bahwa perenungan tentang “Mahkota Duri” hendaknya mengobarkan kembali semangat misioner umat untuk membawa kabar baik di tengah keluarga dan masyarakat.
“Kita berdoa bersama Bunda Maria untuk dibawa semakin dekat dengan Yesus yang sudah membayar kita dengan mahkota duri-Nya dan mengubah itu menjadi kemuliaan kebangkitan bersama kita. Hari ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-100 tahun. Bunda Maria mendampingi para rasul untuk menerima pencurahan Roh Kudus. Penerimaan Roh Kudus itu selalu terarah supaya kita dengan hati berkobar-kobar siap diutus menjadi misionaris-misionaris di tengah keluarga dan sesama,” tegasnya.

Suasana KRK kian semangat saat Favor Worship Band memandu umat dalam puji-pujian. Hadir pewarta dan pengajar dari BPK Keuskupan Agung Jakarta, Esther Kandou, sebagai pembicara utama. Acara ini juga didampingi oleh sejumlah imam, yaitu Romo Yohanes Rettob MSC, Romo Gading Sianipar, Romo Paulus Dodot Kusworo SCJ, dan Romo Titus Jatra Kelana, yang turut hadir memberikan dukungan bagi kegiatan ini.
***TJK
