40 Tahun PDKK Ibu-ibu Hati Kudus: Esther Kandou Ajak Umat Rasakan Kehadiran Kristus yang Memulihkan

PALEMBANG — Perayaan Kebangunan Rohani Katolik (KRK) dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-40 Persekutuan Doa Kharismatik Katolik (PDKK) Ibu-ibu Hati Kudus, yang digelar di Auditorium Universitas MDP Palembang pada Minggu (18/10/2026) sore, membawa pesan rohani yang mendalam bagi umat. Mengusung tema “Mahkota Duri di Atas Kepala-Nya”, kegiatan ini menghadirkan pengajar dan pewarta dari Badan Pelayanan Kharismatik (BPK) Keuskupan Agung Jakarta, Esther Kandou sebagai pembicara utama.

Foto: Komsos KAPal

Dalam pemaparannya, Esther Kandou menjelaskan bahwa perayaan Ekaristi dan Kebangunan Rohani Katolik memiliki keindahan serta bentuk ekspresi yang berbeda namun saling melengkapi dalam kehidupan umat beriman. Jika dalam kebangunan rohani umat bebas berekspresi melalui tarian, nyanyian, dan puji-pujian dengan penuh sukacita, maka dalam perayaan Ekaristi, fokus utama diarahkan sepenuhnya kepada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

“Kalau kebangunan rohani, itu performance, pertunjukan di mana kita manusia mengekspresikan apa yang kita imani. Kita boleh lompat-lompat, boleh putar-putar, menyanyi memuji Tuhan. Tetapi di dalam perayaan Ekaristi, kita merayakan Getsemani dan penderitaan dari Tuhan Yesus Kristus. Kita hayati apa yang Dia derita untuk kita,” tegasnya.

Foto: Komsos KAPal

Esther mengajak umat untuk merenungkan penderitaan Yesus melalui simbol mahkota duri. Berdasarkan Kitab Suci, mahkota duri yang ditekankan ke kepala Yesus bukanlah duri yang tumpul, melainkan duri yang sangat tajam dan menancap kuat. Darah yang keluar dan menetes dari tusukan mahkota duri tersebut digambarkan sebagai simbol pemulihan, yang menghapus dosa serta menyembuhkan berbagai penyakit manusia yang percaya.

Lebih lanjut, di hadapan lebih dari 500 umat yang hadir Esther menekankan mukjizat nyata yang hadir saat umat merayakan Ekaristi dan menyambut Komuni Kudus dengan iman yang sungguh.

“Kalau perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun saja sembuh hanya dengan menjamah ujung jubah-Nya, bayangkan dalam perayaan Ekaristi, tubuh Kristus kita rasakan dan jamah, maka mujizat pasti terjadi asal kita hayati dan imani,” ujar Esther.

Foto:Komsos KAPal

Ia juga mengingatkan pentingnya peran Sakramen Tobat (Pengakuan Dosa) sebagai jalan penerimaan rahmat Allah. “Tuhan yang mengambil inisiatif mencari manusia dan berkata ‘Di manakah engkau?’. Kalau kita mengaku, Dia akan ampuni segala dosa dan kejahatan kita melalui rahmat pengampunan-Nya,” tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita ini turut dihadiri oleh sejumlah imam, yakni Romo Yohanes Rettob MSC, Romo Gading Sianipar, Romo Paulus Dodot Kusworo SCJ, dan Romo Titus Jatra Kelana. Hadir pula Ketua PDKK Ibu-ibu Hati Kudus, Lilis Desyana, serta Ketua BPK PKK Keuskupan Agung Palembang (KAPal), Paulus Yohanes Johan Wijaya. Suasana perayaan semakin semarak dengan iringan puji-pujian yang dibawakan oleh Favor Worship Band.

Foto: Komsos KAPal

Melalui peringatan 40 tahun yang bertepatan dengan 100 tahun Hari Minggu Misi Sedunia ini, Esther berpesan agar seluruh umat yang telah dibaptis aktif menjalankan misi mewartakan kabar baik. “Bukan hanya pastor, suster, atau diakon, tetapi kita semua yang telah dibaptis harus memberitakan kabar baik bahwa di dalam Tuhan ada harapan, pengampunan, dan berkat,” pungkasnya.

Foto: Komsos KAPal

Usai sesi pengajaran kegiatan dilanjutkan dengan puji-pujian dan doa bersama didampingi Romo Yohanes Rettob MSC dan Romo Gading Sianipar.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.