PALEMBANG — Menjelang berakhirnya Tahun Devosional, Tahun Arah Dasar IV Keuskupan Agung Palembang (KAPal), Tim Devosional menggelar pertemuan evaluasi dan perencanaan di Pastoran Santo Yoseph Palembang, Minggu (18/10/2026) siang. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan Seksi Devosi Dekanat Palembang dari berbagai paroki dan kelompok devosional, seperti Paroki St. Fransiskus de Sales, Paroki Katedral Santa Maria, Paroki St. Stefanus, Paroki St. Paulus Plaju, Paroki Allah Maha Murah Pasang Surut, Paroki St. Yoseph, PD St. Yoseph, dan Warakawuri Santo Yoseph,

Dalam sambutannya, Pastor Paroki St. Yoseph sekaligus Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo, mengajak para peserta untuk mengucap syukur sekaligus saling memperkaya pengalaman iman melalui berbagai macam bentuk devosi yang ada di lingkungan keuskupan.
“Tidak mengurangi rasa syukur bersama kita boleh melewati Tahun Devosi yang sebentar lagi akan selesai. Melalui pertemuan ini sekurang-kurangnya kita saling mendengarkan, berbagi pengalaman iman kita tentang devosi. Jadi ada berbagai macam devosi, yaitu: Gerakan Imam Maria, Kerahiman Ilahi, Legio Maria, Persekutuan Doa, Yoseph Tidur, dan sebagainya, maka mari kita ikuti acara ini dengan baik,” ujar Romo Gono.
Moderator Devosional KAPal, Romo Petrus Sukino, menjelaskan bahwa penutupan resmi Tahun Devosional akan dilaksanakan pada Hari Raya Kristus Raja Raja Semesta Alam, 22 November 2026 mendatang. Dalam pemaparannya, ia menekankan pesan Bapa Uskup mengenai pentingnya keseimbangan dalam berdevosi. Devosi diibaratkan sebagai suplemen spiritual yang penting untuk melengkapi kehidupan iman harian, namun tidak boleh sampai mengabaikan kewajiban utama lainnya.

“Meskipun devosi ini bisa dilakukan secara pribadi tapi juga ada yang dilakukan secara kelompok, maka seperti diharapkan Bapa Uskup bahwa devosi itu seperti suplemen, bukan makanan pokok tapi juga penting. Maka Bapa Uskup mengharapkan minimal kita masing-masing punya satu devosi. Saya lihat ada umat yang anggota Legio tapi juga anggota Kerahiman, diperbolehkan, yang penting jangan menghabiskan waktunya untuk devosi,” ungkap Romo Sukino.
Lebih lanjut, imam yang berkarya di Seminari Menengah St. Paulus Palembang ini berharap Tahun Devosional menjadi pemantik agar tradisi dan semangat berdevosi di kalangan umat terus tumbuh secara berkelanjutan, baik di tingkat paroki maupun di tempat-tempat peziarahan.
“Harapan kami, devosi dibicarakan tidak selesai tahun ini tapi juga tetap kita bicarakan, kita perdalam untuk tahun-tahun ke depan supaya kita punya semangat berdevosi yang lebih baik,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Romo Albertri Danier turut memberikan pembekalan materi mengenai keterkaitan antara liturgi dan devosi. Ia menegaskan bahwa devosi rakyat yang selaras dengan iman resmi Katolik dan dianjurkan oleh Tahta Apostolik memiliki peran besar dalam menyuburkan kehidupan rohani, sehingga tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Devosi yang merakyat ini tidak boleh diabaikan atau diperlakukan dengan acuh tak acuh atau malah diremehkan karena devosi-devosi itu kaya akan nilai dan kegiatan itu sendiri mengungkapkan sikap religius terhadap Allah,” tegas Romo Danier.
***B. Endah Tri L (Komsos Paroki St. Yoseph)
